• Featured

    Informasi Baru Islam Tips Trick Berpuasa bagi Penderita Diabetes

  • Featured

    Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaamya.

  • Articles

    Tata Cara Makan Menurut Islam

  • Articles

    Tata Cara Tidur yang Baik Menurut Islam



  • Asslamualaikum Wr. Wb. Semoga Kita Diberikan Kesehatan Selalu Terutama Sobat KAI pada Kali ini kita akan membahas Mengenai Hikmah Puasa Ramadhan. Sebagian pesan tersirat puasa bisa dilihat dalam firman Yang Mahakuasa yang artinya: "Agar kalian bertakwa".

    Takwa yaitu buah yang dibutuhkan dan dihasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan perisai baginya biar tidak terjatuh dalam jurang kemaksiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata perihal pengaruh takwa bagi kehidupan seorang muslim; “Dengan bertakwa, para kekasih Yang Mahakuasa akan terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Yang Mahakuasa sehingga senantiasa terjaga dari perbuatan dosa, pada malam hari mengisi waktu dengan aktivitas beribadah, lebih suka menahan kesusahan daripada mencari hiburan, rela mencicipi lapar dan haus, merasa erat dengan kematian sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan". Takwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.

    Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, korelasi kelamin, dan sebagainya) sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

    Ramadhan bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan jawaban pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Yang Mahakuasa telah menurunkan kitab suci Al-Quranulkarim, yang menjadi petunjuk bagi seluruh insan dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.

    Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat Sombong, rakus, tidak Jujur dan sebagainya.

    Meskipun makanan dan minuman, kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dari sejak fajar hingga terbenamnya matahari, alasannya yaitu mematuhi perintah Allah. Begitu juga isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya saat masa berpuasa demi mematuhi perintah Yang Mahakuasa SWT.

    Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman" dan diakhiri dengan: "Mudah-mudahan kau menjadi orang yang bertakwa". Makara jelaslah bagi kita bahwa puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Yang Mahakuasa kita diberi kesempatan selama bulan Ramadhan: melatih diri dari menahan hawa nafsu, makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia ibarat berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan umat, dan banyak sekali perbuatan jahat lainnya.
    Rasullah SAW bersabda: "Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong kosong dan kata-kata kotor."
    (HR. Ibnu Khuzaimah).

    Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, alasannya yaitu puasa itu bukan saja dapat membersihkan rohani manusia, tapi juga akan membersihkan jasmani insan itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak pernah istirahat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat mengistirahatkan alat pencernaan lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh alasannya yaitu itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan efektif.

     Perlu diingat, ibadah puasa Ramadhan akan membawa Manfaat bagi kesehatan rohani dan jasmani kita apabila dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, kalau tidak, maka alhasil tidak seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia belaka.

     Allah SWT berfirman "Makan dan minumlah kau dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Yang Mahakuasa tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." 
    (QS. Al-A'raf:31)

     Nabi SAW juga bersabda 
    "Kita ini yaitu kaum yang makan apabila mencicipi lapar, dan makan dengan secukupnya (tidak kenyang)."

     Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi sesuai keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa mudarat kepada kesehatan kita. Bisa menyebabkan tubuh menjadi gemuk, efek lainnya yaitu menimbulkan sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan banyak sekali penyakit lainnya. Dengan demikian maka puasa bisa dijadikan sebagai media diet yang paling ampuh dan praktis.

    Puasa tidak diwajibkan sepanjang tahun, juga tidak dalam waktu yang sebentar melainkan pada hari-hari yang terbatas, yaitu hari-hari bulan Ramadan, dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Karena, kalau puasa diwajibkan secara terus menerus sepanjang tahun atau sehari semalam tanpa henti, tentu akan memberatkan. Begitu juga kalau hanya untuk waktu separuh hari, tentu tak akan memiliki pengaruh apa-apa, akan tetapi puasa diwajibkan untuk waktu sepanjang hari mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dan dalam hari-hari yang telah ditentukan.

    Selain keringanan dalam duduk perkara waktu, Yang Mahakuasa juga menerangkan kasih sayang-Nya kepada hamba dengan menunjukkan keringanan-keringanan yang lain, di antaranya kepada: orang sakit (yang membahayakan dirinya kalau berpuasa) dan orang yang menempuh perjalanan jauh (yang memberatkan dirinya kalau melakukan puasa) diperbolehkan untuk berbuka dan menggantinya pada hari yang lain, sesuai dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan.

    Yang Mahakuasa telah menegaskan kepada manusia, keutamaan puasa di bulan suci Ramadhan sebagai bulan keberkahan, dimana Yang Mahakuasa menunjukkan nikmat sekaligus mukjizat yang begitu agung kepada hamba-Nya berupa turunnya Al-Qur'an.

     Ayat-ayat Al-Qur'an juga menjelaskan betapa Tuhan begitu erat dengan hambanya, Ia selalu menjawab do'a mereka di mana dan kapan pun mereka berada, tidak ada pemisah antara keduanya. Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim, untuk selalu berdo'a, memohon ampunan kepada Tuhannya, beribadah dengan tulus-ikhlas, beriman, dan tidak menyekutukan-Nya, dengan keinginan Yang Mahakuasa akan mengabulkan semua do'a dan permintaannya.

    Diriwayatkan bahwa sekumpulan orang pedalaman bertanya kepada Nabi Muhammad Saw : "Wahai Muhammad! Apakah Tuhan kita dekat, sehingga kami bermunajat (mengadu dan berdoa dalam kelirihan) kepada-Nya, ataukah Ia jauh sehingga kami menyeru (mengadu dan berdoa dengan bunyi lantang) kepada-Nya?"Maka turunlah ayat:
    "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu perihal Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku yaitu dekat. 
    (QS. Al-Baqarah/2: 186)

     Diantara pesan tersirat puasa yang dapat dicatat juga yaitu sebagai wijaa, perisai atau pelindung:
     Rasulullah SAW menyuruh orang yang berpengaruh "syahwatnya" dan belum bisa untuk menikah biar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa (memutuskan syahwat jiwa) bagi syahwat ini, alasannya yaitu puasa keberadaan dan subtansialnya yaitu menahan dan menenangkan dorongan kuatnya anggota tubuh hingga bisa terkontrol serta seluruh kekuatan (dorongan dari dalam) hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah terang bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh yang nyata/dhahir dan kekuatan bathin. Oleh alasannya yaitu itu Rasulullah SAW bersabda "Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bisa ba'ah (mampu menikah dengan banyak sekali persiapannya) hendaklah menikah, alasannya yaitu menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum bisa menikah, hendaklah puasa alasannya yaitu puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya". (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud).

    Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi (seperti menahan syahwat dsb), dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah terang demikian, sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang berpuasa dari neraka. Oleh alasannya yaitu itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa yaitu benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang darinya.

     Rasulullah Saw Bersabda: "Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Yang Mahakuasa kecuali akan Yang Mahakuasa jauhkan ia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim". 
    (HR. Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry. Ada redaksi lain yaitu telah bersabda Rasulullah SAW : "tujuh puluh musim", yakni : perjalanan tujuh puluh tahun, demikian dijelaskan dalam kitab Fathul Bari 6/48).

     Rasulullah SAW bersabda "Puasa yaitu perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka" 
    (HR. Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dari Utsman bin Abil 'Ash. Ini yaitu hadits shahih).

     Dan Rasulullah Saw bersabda "Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Yang Mahakuasa maka di antara ia dan neraka ada parit yang luasnya ibarat antara langit dengan bumi".

     Sebagian ulama telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan perihal keutamaan puasa saat jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir/redaksi hadits ini mencakup semua puasa kalau dilakukan dengan lapang dada alasannya yaitu mengharapkan ridha Yang Mahakuasa SWT, ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam termasuk puasa di jalan Yang Mahakuasa (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).

    "Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kau puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kau menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)
    Itulah Sobat KAI sedikit Pembahasan mengenai Hikmah Puasa Ramadhan yang telah saya Rangkum dengan sebaik"nya, semoga bisa memiliki kegunaan dan bermanfaat untuk kita. Sekian dan terimakasih Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Hikmah Puasa Ramadhan

    Posted at  19.16  |  in  lainnya  |  Read More»



    Asslamualaikum Wr. Wb. Semoga Kita Diberikan Kesehatan Selalu Terutama Sobat KAI pada Kali ini kita akan membahas Mengenai Hikmah Puasa Ramadhan. Sebagian pesan tersirat puasa bisa dilihat dalam firman Yang Mahakuasa yang artinya: "Agar kalian bertakwa".

    Takwa yaitu buah yang dibutuhkan dan dihasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan perisai baginya biar tidak terjatuh dalam jurang kemaksiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata perihal pengaruh takwa bagi kehidupan seorang muslim; “Dengan bertakwa, para kekasih Yang Mahakuasa akan terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Yang Mahakuasa sehingga senantiasa terjaga dari perbuatan dosa, pada malam hari mengisi waktu dengan aktivitas beribadah, lebih suka menahan kesusahan daripada mencari hiburan, rela mencicipi lapar dan haus, merasa erat dengan kematian sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan". Takwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.

    Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, korelasi kelamin, dan sebagainya) sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

    Ramadhan bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan jawaban pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Yang Mahakuasa telah menurunkan kitab suci Al-Quranulkarim, yang menjadi petunjuk bagi seluruh insan dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.

    Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat Sombong, rakus, tidak Jujur dan sebagainya.

    Meskipun makanan dan minuman, kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dari sejak fajar hingga terbenamnya matahari, alasannya yaitu mematuhi perintah Allah. Begitu juga isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya saat masa berpuasa demi mematuhi perintah Yang Mahakuasa SWT.

    Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman" dan diakhiri dengan: "Mudah-mudahan kau menjadi orang yang bertakwa". Makara jelaslah bagi kita bahwa puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Yang Mahakuasa kita diberi kesempatan selama bulan Ramadhan: melatih diri dari menahan hawa nafsu, makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia ibarat berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan umat, dan banyak sekali perbuatan jahat lainnya.
    Rasullah SAW bersabda: "Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong kosong dan kata-kata kotor."
    (HR. Ibnu Khuzaimah).

    Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, alasannya yaitu puasa itu bukan saja dapat membersihkan rohani manusia, tapi juga akan membersihkan jasmani insan itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak pernah istirahat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat mengistirahatkan alat pencernaan lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh alasannya yaitu itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan efektif.

     Perlu diingat, ibadah puasa Ramadhan akan membawa Manfaat bagi kesehatan rohani dan jasmani kita apabila dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, kalau tidak, maka alhasil tidak seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia belaka.

     Allah SWT berfirman "Makan dan minumlah kau dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Yang Mahakuasa tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." 
    (QS. Al-A'raf:31)

     Nabi SAW juga bersabda 
    "Kita ini yaitu kaum yang makan apabila mencicipi lapar, dan makan dengan secukupnya (tidak kenyang)."

     Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi sesuai keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa mudarat kepada kesehatan kita. Bisa menyebabkan tubuh menjadi gemuk, efek lainnya yaitu menimbulkan sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan banyak sekali penyakit lainnya. Dengan demikian maka puasa bisa dijadikan sebagai media diet yang paling ampuh dan praktis.

    Puasa tidak diwajibkan sepanjang tahun, juga tidak dalam waktu yang sebentar melainkan pada hari-hari yang terbatas, yaitu hari-hari bulan Ramadan, dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Karena, kalau puasa diwajibkan secara terus menerus sepanjang tahun atau sehari semalam tanpa henti, tentu akan memberatkan. Begitu juga kalau hanya untuk waktu separuh hari, tentu tak akan memiliki pengaruh apa-apa, akan tetapi puasa diwajibkan untuk waktu sepanjang hari mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dan dalam hari-hari yang telah ditentukan.

    Selain keringanan dalam duduk perkara waktu, Yang Mahakuasa juga menerangkan kasih sayang-Nya kepada hamba dengan menunjukkan keringanan-keringanan yang lain, di antaranya kepada: orang sakit (yang membahayakan dirinya kalau berpuasa) dan orang yang menempuh perjalanan jauh (yang memberatkan dirinya kalau melakukan puasa) diperbolehkan untuk berbuka dan menggantinya pada hari yang lain, sesuai dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan.

    Yang Mahakuasa telah menegaskan kepada manusia, keutamaan puasa di bulan suci Ramadhan sebagai bulan keberkahan, dimana Yang Mahakuasa menunjukkan nikmat sekaligus mukjizat yang begitu agung kepada hamba-Nya berupa turunnya Al-Qur'an.

     Ayat-ayat Al-Qur'an juga menjelaskan betapa Tuhan begitu erat dengan hambanya, Ia selalu menjawab do'a mereka di mana dan kapan pun mereka berada, tidak ada pemisah antara keduanya. Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim, untuk selalu berdo'a, memohon ampunan kepada Tuhannya, beribadah dengan tulus-ikhlas, beriman, dan tidak menyekutukan-Nya, dengan keinginan Yang Mahakuasa akan mengabulkan semua do'a dan permintaannya.

    Diriwayatkan bahwa sekumpulan orang pedalaman bertanya kepada Nabi Muhammad Saw : "Wahai Muhammad! Apakah Tuhan kita dekat, sehingga kami bermunajat (mengadu dan berdoa dalam kelirihan) kepada-Nya, ataukah Ia jauh sehingga kami menyeru (mengadu dan berdoa dengan bunyi lantang) kepada-Nya?"Maka turunlah ayat:
    "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu perihal Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku yaitu dekat. 
    (QS. Al-Baqarah/2: 186)

     Diantara pesan tersirat puasa yang dapat dicatat juga yaitu sebagai wijaa, perisai atau pelindung:
     Rasulullah SAW menyuruh orang yang berpengaruh "syahwatnya" dan belum bisa untuk menikah biar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa (memutuskan syahwat jiwa) bagi syahwat ini, alasannya yaitu puasa keberadaan dan subtansialnya yaitu menahan dan menenangkan dorongan kuatnya anggota tubuh hingga bisa terkontrol serta seluruh kekuatan (dorongan dari dalam) hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah terang bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh yang nyata/dhahir dan kekuatan bathin. Oleh alasannya yaitu itu Rasulullah SAW bersabda "Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bisa ba'ah (mampu menikah dengan banyak sekali persiapannya) hendaklah menikah, alasannya yaitu menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum bisa menikah, hendaklah puasa alasannya yaitu puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya". (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud).

    Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi (seperti menahan syahwat dsb), dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah terang demikian, sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang berpuasa dari neraka. Oleh alasannya yaitu itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa yaitu benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang darinya.

     Rasulullah Saw Bersabda: "Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Yang Mahakuasa kecuali akan Yang Mahakuasa jauhkan ia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim". 
    (HR. Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry. Ada redaksi lain yaitu telah bersabda Rasulullah SAW : "tujuh puluh musim", yakni : perjalanan tujuh puluh tahun, demikian dijelaskan dalam kitab Fathul Bari 6/48).

     Rasulullah SAW bersabda "Puasa yaitu perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka" 
    (HR. Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dari Utsman bin Abil 'Ash. Ini yaitu hadits shahih).

     Dan Rasulullah Saw bersabda "Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Yang Mahakuasa maka di antara ia dan neraka ada parit yang luasnya ibarat antara langit dengan bumi".

     Sebagian ulama telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan perihal keutamaan puasa saat jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir/redaksi hadits ini mencakup semua puasa kalau dilakukan dengan lapang dada alasannya yaitu mengharapkan ridha Yang Mahakuasa SWT, ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam termasuk puasa di jalan Yang Mahakuasa (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).

    "Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kau puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kau menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)
    Itulah Sobat KAI sedikit Pembahasan mengenai Hikmah Puasa Ramadhan yang telah saya Rangkum dengan sebaik"nya, semoga bisa memiliki kegunaan dan bermanfaat untuk kita. Sekian dan terimakasih Wassalamualaikum Wr. Wb.



    Hai Sobat KAI Kembali Membahas Arti Islam, layaknya sebuah bangunan. Ia dibangun di atas pondasi, diperkokoh dengan tiang dan dilindungi oleh atap. Pondasi Islam ialah rukun Iman dalam tataran keyakinan atau pekerjaan hati.
    Sedangkan tiang dan dindingnya ialah rukun Islam. Atapnya ialah sikap Ihsan, yaitu tahap keikhlasan dalam menunaikan rukun Iman dan Islam alasannya ialah merasa diri selalu dipantau oleh Zat Yang Maha Melihat, Yang Mahakuasa SWT.

    Sebagai tiang bangunan, rukun Islam memegang peranan penting untuk menentukan kokoh atau tidaknya sebuah bangunan. Jika bangunan itu kokoh, maka segala kegiatan yang dijalankan di dalamnya pun akan berjalan optimal.

    Jadi, rukun Islam hanyalah kerangka atau wadah bagi muslim untuk melakukan hukum-hukum Islam lainnya mirip perintah menutup aurat, berbuat baik kepada orang tua, dan lain sebagainya. Menunaikan rukun Islam saja tidak cukup untuk menjadi muslim kaffaah (totalitas).

    Rukun Islam dibangun atas lima pilar, yaitu:
       1.)   Syahadatain, mengucapkan dua kalimat syahadat
       2.)   Shalat lima waktu
       3.)    Menunaikan zakat
       4.)   Melaksanakan shaum di bulan Ramadhan
       5.)    Menunaikan haji

    Rasulullah Saw Bersabda : "Sesungguhnya Islam itu dibangun atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Yang Mahakuasa dan Muhammad ialah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan puasa di buIan Ramadhan."
     (HR. Bukhari Muslim).

    Syahadatain
    Kemusliman seseorang dibuktikan dengan ucapan :
    "Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullaah"
    Artinya : "Aku bersaksi bahwa tiada yang kuasa selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad ialah utusan Allah."

    Ucapan tersebut harus dilandasi iman, ilmu dan amal dalam Islam. Sebagai konsekuensi dari ucapan tersebut, ia harus mengingkari sesembahan lain selain Yang Mahakuasa dan hanya mengabdi kepada-Nya. Ia pun akan mengikuti perintah Rasulullah Muhammad Saw. sebagai wujud ketaatan dan kecintaan kepada Yang Mahakuasa Swt.

    Menunaikan Shalat
    Shalat ialah media hamba dengan Rabb-Nya. Dalam sehari, ada lima waktu wajib yang ditetapkan Yang Mahakuasa untuk berdialog dengan-Nya dalam shalat. Jika shalatnya terpelihara, maka dirinya pun akan dijaga oleh Yang Mahakuasa Swt. Secara otomatis, ia akan menunaikan nilai-nilai Islam serta menjauhkan diri dari maksiat dalam kehidupan sehari-harinya.

    Menunaikan Zakat
    Perintah zakat dalam Islam, akan melatih kepekaan sosial seorang muslim terhadap orang lain, dengan memberi apa yang menjadi hak mereka. Ya, di dalam harta seorang muslim, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

    Perintah zakat ini secara tidak pribadi menyuruh muslim untuk berniaga dan berpenghasilan. Dengan demikian, ia mampu melakukan perintah zakat dengan hartanya.

    Melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan
    Puasa ialah perintah Yang Mahakuasa kepada ummat-Nya, untuk menahan diri dari lapar dan dahaga. Dimulai semenjak sebelum shubuh sampai magrib.

    Namun pada hakikatnya, Puasa ialah menahan diri dari gejolak nafsu duniawi. Inilah aliran Islam yang akan memupuk kepribadian seorang muslim sejati supaya mampu mengendalikan hawa nafsunya.

    Menunaikan Haji
    Seluruh ummat Islam dari banyak sekali penjuru dunia, banyak sekali suku, bangsa dan agama dipersatukan di Baitullah. Haji, yaitu berkunjung ke Ka´bah ini cukup dilakukan sekali seumur hidup.

    Tentu saja bukan kunjungan biasa. Islam mengatur tata cara menunaikan haji yang baik dan benar supaya menjadi haji mabrur dan memperoleh pahala dari Yang Mahakuasa Swt.

    Ajaran agama Islam ialah aliran yang kafaah (menyeluruh) dan syamil (melengkapi). Sesuai dengan hakikat agama Islam, yang bermakna harfiah bahwa Islam diambil dari kata ‘Salam’ yang artinya ialah ‘Selamat’. Makna dari kata Salam atau Selamat tadi – bahwa sesungguhnya aliran agama Islam ialah mengajak pemeluknya untuk hidup selamat dunia dan akhirat.

    Pengertian dan Makna Islam
    Islam berasal dari kata ‘Salam’ atau ‘Salamah’ yang bermakna selamat. Inti pengertian selamat tersebut ialah fokus aliran agama Islam ialah mengajak umat Muhammad dan pemeluk agama Islam untuk selalu mentaati aliran Islam, mengikuti tuntunan serta menjauhi semua yang dilarang, sehingga diharapkan dapat hidup selamat sebagai konsistensinya.

    Konsistensi dari hidup selamat tersebut dinyatakan dengan pahala, dan konsistensi dari pelanggaran yang dilakukan disebut dengan dosa.

    Manifestasi Islam dalam Kehidupan
    Apabila digambarkan sebagai perjalanan, maka Anda pasti mengetahui bahwa dalam setiap pemberangkatan penumpang atau cargo; akan diharapkan sebuah manifest sebagai petunjuk yang menunjukkan dan menjelaskan isi, nama, jumlah dan kondisi penumpang atau barang yang diangkut.

    Islam tidak berbeda jauh dengan gambaran tersebut. Dalam kehidupan; Islam bertujuan memanifestkan semua perjalanan tersebut. ManifestasiIslam dinyatakan dengan sebuah petunjuk bagi umat Islam dan pemeluk ajarannya; berupa kitab suci yang diturunkan kepada umat Islam melalui Rasulullah Muhammad SAW berjulukan Al-Qur’anul Karim.

    Berdasarkan hal tersebut maka Al-Qur’anul Karim dapat dianggap sebagaimanifest bagi sebuah perjalanan besar makhluk yang diciptakan Yang Mahakuasa SWT – terutama manusia. Al-Qur’anul Karim berfungsi dua, yakni: Sebagai pembawa kabar besar hati dan pemberi gosip peringatan.

    Penjelasannya ialah sebagai berikut :
        Al-Qur’anul Karim sebagai Pembawa Kabar Gembira. Maksudnya, Al-Qur’anul Karim memuat firman Yang Mahakuasa SWT (kalam Illahi); membawa kabar besar hati mirip : hidup mulia kalau mengikuti aliran Islam, memperoleh ridho Yang Mahakuasa kalau berbuat ikhlas, menerima tiga kebahagiaan ketika menjalankan shaum (puasa) di bulan Ramadhan, masuk ke dalam jannah (surga) milik Yang Mahakuasa SWT bagi mereka yang bertakwa dan sebagainya.

        Al-Qur’anul Karim sebagai Pemberi Berita Peringatan. Maksudnya ialah bahwa Al-Qur’anul Karim juga memberi contoh-contoh perilaku yang melanggar larangan, teladan sikap dan sifat orang-orang munafik, dongeng inspiratif sahabat-sahabat di jaman Rasulullah SAW, serta kisah-kisah orang yang berkhianat pada jaman Nabi dan Rasul hidup di masanya, serta petunjuk dan tanda-tanda para penghuni nar (neraka) milik Yang Mahakuasa SWT.


    Lima Pilar Ajaran Islam


    Apabila diibaratkan sebagai suatu bangunan kokoh, maka Islam berdiri di atas sebuah pondasi kokoh berupa lima pilar utama yang disebut dengan Rukun Islam. Rukun Islam ada lima, yakni: Syahadat, Shalat, Shaum (puasa), Zakat dan Haji.

    Secara garis besar dapat dijabarkan sebagai berikut :

        Syahadat. Syahadat atau syahadatain ialah bermakna persaksian. Maksudnya ialah persaksian antara insan dengan Rabb pencipta yakni Yang Mahakuasa SWT di alam ruh – yakni ketika insan berusia empat bulan dalam rahim ibu.

        Syahadat terbagi dua, yakni syahadat Yang Mahakuasa dan syahadat Rasulullah. Maksudnya ialah bersaksi bahwa Yang Mahakuasa SWT ialah satu-satunyaRabb (Tuhan) manusia; disebut dengan Syahadat Allah. Dan bahwa Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusan Yang Mahakuasa SWT, disebut dengan Syahadat Rasulullah.

        Shalat. Shalat ialah perintah yang agung; diturunkan Yang Mahakuasa SWT kepada insan melalui Rasulullah Muhammad SAW. Dengan melampui perjalanan yang berat dan sakral. Yakni perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam satu malam – yang sesungguhnya melampaui batas nalar sehat manusia. Terlebih lagi dengan diangkatnya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha atau lapisan langit yang ketujuh. Di sanalah perintah Shalat diberikan.

        Shaum. Shaum memiliki arti maknawi berpuasa. Maksudnya ialah menahan diri dari rasa haus dan lapar dalam waktu sebulan, yakni waktu yang ditentukan pada bulan Ramadhan. Dan maknaharfiyahnya sesungguhnya bukan hanya menahan nafsu haus dan lapar namun hakikatnya juga menahan diri dari hawa nafsu dan amarah, yang sebetulnya berasal dari diri sendiri.

        Zakat. Zakat pada hakikatnya ialah membersihkan harta benda yang Anda miliki. Meski secara zhahir beramal berarti mengeluarkan sebagian harta benda Anda sebesar 2.5%; namun sesungguhnya harta Anda tidak hilang namun justru bertambah di mata Yang Mahakuasa SWT. Namun dengan syarat Anda beramal dengan keimanan dan keikhlasan.

        Haji. Menunaikan ibadah Haji ialah mirip menunaikan ibadah yang lengkap antara paduan ibadah hati, ibadah harta serta ibadah fisik. Namun Anda yang tulus menjalaninya akan memperoleh Haji yang mabrur di mata Yang Mahakuasa SWT.

    Sekian Dulu Sobat KAI posting Kali Mengenai Arti Islam Semoga Bermanfaat Untuk kita Wasslamualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Arti Islam

    Posted at  19.16  |  in  lainnya  |  Read More»



    Hai Sobat KAI Kembali Membahas Arti Islam, layaknya sebuah bangunan. Ia dibangun di atas pondasi, diperkokoh dengan tiang dan dilindungi oleh atap. Pondasi Islam ialah rukun Iman dalam tataran keyakinan atau pekerjaan hati.
    Sedangkan tiang dan dindingnya ialah rukun Islam. Atapnya ialah sikap Ihsan, yaitu tahap keikhlasan dalam menunaikan rukun Iman dan Islam alasannya ialah merasa diri selalu dipantau oleh Zat Yang Maha Melihat, Yang Mahakuasa SWT.

    Sebagai tiang bangunan, rukun Islam memegang peranan penting untuk menentukan kokoh atau tidaknya sebuah bangunan. Jika bangunan itu kokoh, maka segala kegiatan yang dijalankan di dalamnya pun akan berjalan optimal.

    Jadi, rukun Islam hanyalah kerangka atau wadah bagi muslim untuk melakukan hukum-hukum Islam lainnya mirip perintah menutup aurat, berbuat baik kepada orang tua, dan lain sebagainya. Menunaikan rukun Islam saja tidak cukup untuk menjadi muslim kaffaah (totalitas).

    Rukun Islam dibangun atas lima pilar, yaitu:
       1.)   Syahadatain, mengucapkan dua kalimat syahadat
       2.)   Shalat lima waktu
       3.)    Menunaikan zakat
       4.)   Melaksanakan shaum di bulan Ramadhan
       5.)    Menunaikan haji

    Rasulullah Saw Bersabda : "Sesungguhnya Islam itu dibangun atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Yang Mahakuasa dan Muhammad ialah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan puasa di buIan Ramadhan."
     (HR. Bukhari Muslim).

    Syahadatain
    Kemusliman seseorang dibuktikan dengan ucapan :
    "Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullaah"
    Artinya : "Aku bersaksi bahwa tiada yang kuasa selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad ialah utusan Allah."

    Ucapan tersebut harus dilandasi iman, ilmu dan amal dalam Islam. Sebagai konsekuensi dari ucapan tersebut, ia harus mengingkari sesembahan lain selain Yang Mahakuasa dan hanya mengabdi kepada-Nya. Ia pun akan mengikuti perintah Rasulullah Muhammad Saw. sebagai wujud ketaatan dan kecintaan kepada Yang Mahakuasa Swt.

    Menunaikan Shalat
    Shalat ialah media hamba dengan Rabb-Nya. Dalam sehari, ada lima waktu wajib yang ditetapkan Yang Mahakuasa untuk berdialog dengan-Nya dalam shalat. Jika shalatnya terpelihara, maka dirinya pun akan dijaga oleh Yang Mahakuasa Swt. Secara otomatis, ia akan menunaikan nilai-nilai Islam serta menjauhkan diri dari maksiat dalam kehidupan sehari-harinya.

    Menunaikan Zakat
    Perintah zakat dalam Islam, akan melatih kepekaan sosial seorang muslim terhadap orang lain, dengan memberi apa yang menjadi hak mereka. Ya, di dalam harta seorang muslim, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

    Perintah zakat ini secara tidak pribadi menyuruh muslim untuk berniaga dan berpenghasilan. Dengan demikian, ia mampu melakukan perintah zakat dengan hartanya.

    Melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan
    Puasa ialah perintah Yang Mahakuasa kepada ummat-Nya, untuk menahan diri dari lapar dan dahaga. Dimulai semenjak sebelum shubuh sampai magrib.

    Namun pada hakikatnya, Puasa ialah menahan diri dari gejolak nafsu duniawi. Inilah aliran Islam yang akan memupuk kepribadian seorang muslim sejati supaya mampu mengendalikan hawa nafsunya.

    Menunaikan Haji
    Seluruh ummat Islam dari banyak sekali penjuru dunia, banyak sekali suku, bangsa dan agama dipersatukan di Baitullah. Haji, yaitu berkunjung ke Ka´bah ini cukup dilakukan sekali seumur hidup.

    Tentu saja bukan kunjungan biasa. Islam mengatur tata cara menunaikan haji yang baik dan benar supaya menjadi haji mabrur dan memperoleh pahala dari Yang Mahakuasa Swt.

    Ajaran agama Islam ialah aliran yang kafaah (menyeluruh) dan syamil (melengkapi). Sesuai dengan hakikat agama Islam, yang bermakna harfiah bahwa Islam diambil dari kata ‘Salam’ yang artinya ialah ‘Selamat’. Makna dari kata Salam atau Selamat tadi – bahwa sesungguhnya aliran agama Islam ialah mengajak pemeluknya untuk hidup selamat dunia dan akhirat.

    Pengertian dan Makna Islam
    Islam berasal dari kata ‘Salam’ atau ‘Salamah’ yang bermakna selamat. Inti pengertian selamat tersebut ialah fokus aliran agama Islam ialah mengajak umat Muhammad dan pemeluk agama Islam untuk selalu mentaati aliran Islam, mengikuti tuntunan serta menjauhi semua yang dilarang, sehingga diharapkan dapat hidup selamat sebagai konsistensinya.

    Konsistensi dari hidup selamat tersebut dinyatakan dengan pahala, dan konsistensi dari pelanggaran yang dilakukan disebut dengan dosa.

    Manifestasi Islam dalam Kehidupan
    Apabila digambarkan sebagai perjalanan, maka Anda pasti mengetahui bahwa dalam setiap pemberangkatan penumpang atau cargo; akan diharapkan sebuah manifest sebagai petunjuk yang menunjukkan dan menjelaskan isi, nama, jumlah dan kondisi penumpang atau barang yang diangkut.

    Islam tidak berbeda jauh dengan gambaran tersebut. Dalam kehidupan; Islam bertujuan memanifestkan semua perjalanan tersebut. ManifestasiIslam dinyatakan dengan sebuah petunjuk bagi umat Islam dan pemeluk ajarannya; berupa kitab suci yang diturunkan kepada umat Islam melalui Rasulullah Muhammad SAW berjulukan Al-Qur’anul Karim.

    Berdasarkan hal tersebut maka Al-Qur’anul Karim dapat dianggap sebagaimanifest bagi sebuah perjalanan besar makhluk yang diciptakan Yang Mahakuasa SWT – terutama manusia. Al-Qur’anul Karim berfungsi dua, yakni: Sebagai pembawa kabar besar hati dan pemberi gosip peringatan.

    Penjelasannya ialah sebagai berikut :
        Al-Qur’anul Karim sebagai Pembawa Kabar Gembira. Maksudnya, Al-Qur’anul Karim memuat firman Yang Mahakuasa SWT (kalam Illahi); membawa kabar besar hati mirip : hidup mulia kalau mengikuti aliran Islam, memperoleh ridho Yang Mahakuasa kalau berbuat ikhlas, menerima tiga kebahagiaan ketika menjalankan shaum (puasa) di bulan Ramadhan, masuk ke dalam jannah (surga) milik Yang Mahakuasa SWT bagi mereka yang bertakwa dan sebagainya.

        Al-Qur’anul Karim sebagai Pemberi Berita Peringatan. Maksudnya ialah bahwa Al-Qur’anul Karim juga memberi contoh-contoh perilaku yang melanggar larangan, teladan sikap dan sifat orang-orang munafik, dongeng inspiratif sahabat-sahabat di jaman Rasulullah SAW, serta kisah-kisah orang yang berkhianat pada jaman Nabi dan Rasul hidup di masanya, serta petunjuk dan tanda-tanda para penghuni nar (neraka) milik Yang Mahakuasa SWT.


    Lima Pilar Ajaran Islam


    Apabila diibaratkan sebagai suatu bangunan kokoh, maka Islam berdiri di atas sebuah pondasi kokoh berupa lima pilar utama yang disebut dengan Rukun Islam. Rukun Islam ada lima, yakni: Syahadat, Shalat, Shaum (puasa), Zakat dan Haji.

    Secara garis besar dapat dijabarkan sebagai berikut :

        Syahadat. Syahadat atau syahadatain ialah bermakna persaksian. Maksudnya ialah persaksian antara insan dengan Rabb pencipta yakni Yang Mahakuasa SWT di alam ruh – yakni ketika insan berusia empat bulan dalam rahim ibu.

        Syahadat terbagi dua, yakni syahadat Yang Mahakuasa dan syahadat Rasulullah. Maksudnya ialah bersaksi bahwa Yang Mahakuasa SWT ialah satu-satunyaRabb (Tuhan) manusia; disebut dengan Syahadat Allah. Dan bahwa Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusan Yang Mahakuasa SWT, disebut dengan Syahadat Rasulullah.

        Shalat. Shalat ialah perintah yang agung; diturunkan Yang Mahakuasa SWT kepada insan melalui Rasulullah Muhammad SAW. Dengan melampui perjalanan yang berat dan sakral. Yakni perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam satu malam – yang sesungguhnya melampaui batas nalar sehat manusia. Terlebih lagi dengan diangkatnya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha atau lapisan langit yang ketujuh. Di sanalah perintah Shalat diberikan.

        Shaum. Shaum memiliki arti maknawi berpuasa. Maksudnya ialah menahan diri dari rasa haus dan lapar dalam waktu sebulan, yakni waktu yang ditentukan pada bulan Ramadhan. Dan maknaharfiyahnya sesungguhnya bukan hanya menahan nafsu haus dan lapar namun hakikatnya juga menahan diri dari hawa nafsu dan amarah, yang sebetulnya berasal dari diri sendiri.

        Zakat. Zakat pada hakikatnya ialah membersihkan harta benda yang Anda miliki. Meski secara zhahir beramal berarti mengeluarkan sebagian harta benda Anda sebesar 2.5%; namun sesungguhnya harta Anda tidak hilang namun justru bertambah di mata Yang Mahakuasa SWT. Namun dengan syarat Anda beramal dengan keimanan dan keikhlasan.

        Haji. Menunaikan ibadah Haji ialah mirip menunaikan ibadah yang lengkap antara paduan ibadah hati, ibadah harta serta ibadah fisik. Namun Anda yang tulus menjalaninya akan memperoleh Haji yang mabrur di mata Yang Mahakuasa SWT.

    Sekian Dulu Sobat KAI posting Kali Mengenai Arti Islam Semoga Bermanfaat Untuk kita Wasslamualaikum Wr. Wb.



    Asslamaualaikum Wr. Wb. Apakabar Sobat KAI Semoga Kita Masih diberikan Kesehatan Selalu Oleh Tuhan SWT, Pada kesempatan kali ini Kita akan membahas mengenai Pengertian Puasa mungkin tidak Asing lagi ditelinga Sobat KAi Tentang  Pertian puasa bagi umat muslim di seluruh dunia, merupakan adegan integral dari sikap penyerahan diri sebagai makhluk di hadapan pencipta, Al-Khaliq. Kapan dilaksanakan, apa yang menjadi dorongan, dan bagaimana cara melaksanakan puasa akan menentukan apakah puasa tersebut bernilai sebagai ibadah wajib, sunah, makruh, atau bahkan bisa menjadi perbuatan yang haram.

    Pengertian Puasa
    Pengertian puasa dalam kaidah bahasa bisa diartikan sebagai menahan. Menahan di sini, yaitu menahan dari hal-hal yang masuk ke dalam lisan dalam bentuk makanan dan minuman, bahkan juga diartikan menahan dari perbuatan dan bicara.

    Dalam petikan surat Maryam ayat 26 dijelaskan bahwa, ”Sesungguhnya saya telah Aku telah bernazar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, sebetulnya Aku tidak akan berbicara dengan seorang insan pun pada hari ini."

    Sementara Pengertian puasa menurut secara syariah Islam disepakati para ulama, yaitu menahan dari apa pun yang membatalkan puasa, disertai niat untuk berpuasa dari terbit fajar hingga karam matahari (maghrib). Ada pula sebagian ulama yang mendefinisikan kata-kata ’membatalkan puasa’ itu sebagai perbuatan dua anggota badan, yaitu perut dan alat kelamin.

    Dalam selain agama Islam, dikenal pula acara puasa. Para pendeta, misalnya senantiasa melaksanakan puasa untuk menambah pahala, kaum Yahudi pun mengenal puasa bicara. Puasa bagi umat Buddha dan sebagian Yahudi merupakan adegan dari acara bertapa.

    Bagi umat muslim, salah satu pesan yang tersirat melaksanakan puasa ialah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Swt dan memperoleh derajat yang agung di hadapan Tuhan Swt berupa ketakwaan. Hal ini menyerupai dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kau berpuasa sebagaimana telah diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu, semoga kau bertakwa.”

    Selain puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, umat muslim mengenal puasa lain yang sifatnya sunah, menyerupai puasa Senin-Kamis, yakni puasa setiap hari Senin dan Kamis saja. Karena sifatnya puasa sunah, maka tidak ada kewajiban dan paksaan dalam pelaksanaannya.

    Di samping puasa Senin-Kamis dikenal pula puasa nazar, yaitu puasa atas karena atau tujuan tertentu yang diniatkan akan berpuasa apabila sebab-sebab itu terjadi. Misalnya, seseorang bernazar ”Saya akan puasa seminggu penuh kalau diterima jadi pegawai negeri sipil”. Setelah ia berhasil menjadi PNS, maka terkena hukum wajib untuk puasa seminggu penuh tersebut hingga kapan pun dan akan menjadi utang manakala belum dilaksanakan.

    Sebagian ulama berpendapat bahwa apabila seseorang tidak dapat melaksanakan puasa nazar, maka ia wajib memerdekakan budak sahaya atau kalau tidak ada, ia wajib memberi makan dan pakaian kepada sepuluh orang miskin.

    Puasa-puasa sunah lain di antaranya ialah puasa nisfu Sya’ban yang dilaksanakan pada awal atau pertengahan bulan Sya’ban, puasa pertengahan bulan, puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam, puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 bulan Haji untuk orang yang tidak sedang melaksanakan haji, atau puasa 6 hari di bulan Syawal sebagai puasa sunah penyempurna ibadah puasa Ramadhan.

    Puasa Bagi Kehidupan Manusia
    Kemampuan setiap orang dalam mengendalikan dirinya merupakan aspek penting dalam pergaulan insan untuk menuju tata kehidupan yang harmonis, penuh tenggang rasa, dan cinta kasih. Dengan argumen demikian, semakin terlihatlah bahwa arti puasa memiliki tugas penting dalam kehidupan manusia.

    Puasa bukanlah sekadar menahan rasa lapar dan haus atau sebuah tindakan yang seperti menawarkan sikap empati terhadap orang-orang yang sedang mengalami kelaparan, sehingga pada dikala waktu puasa berakhir, terkadang kita jadi sedikit berlebihan dalam hal makan dan minum.

    Selain itu, berlebihan juga untuk menawarkan bahwa berpuasa ialah suatu tindakan untuk menawarkan sikap empati kita kepada orang-orang yang kelaparan. Puasa kita memiliki batas tamat waktu dan kita punya makanan untuk mengakhiri puasa. Namun, puasa orang-orang yang sedang kelaparan tidak memiliki kejelasan akan batas tamat waktu. Begitu pula dengan persediaan makanan untuk mengakhirkan puasanya.

    Puasa bagi umat Islam ialah menahan diri dari makan dan minum, serta menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Waktunya dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Itu pun harus disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

    Di dalam agama Islam, puasa ialah salah satu rukun Islam yang ketiga, yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Banyak jenis puasa yang ada di dalam anutan agama Islam, ada yang wajib dilaksanakan dan ada yang sunah untuk dilaksanakan. Salah satu puasa wajib bagi umat Islam ialah puasa Ramadhan.

    Puasa Ramadhan wajib dikerjakan oleh semua umat Islam, kecuali orang-orang yang dibolehkan untuk tidak berpuasa, tapi itu juga harus dibayar pada hari lain, selain bulan Ramadhan.

    Puasa sunah boleh dikerjakan dan boleh juga tidak. Apabila dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak apa-apa. Contoh puasa sunah ialah puasa hari senin dan kamis atau puasa arafah.

    Banyak manfaat yang dapat diambil dari berpuasa. Sebagai umat Islam puasa di bulan Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga menahan lainnya, menyerupai yang sudah disebutkan tersebut. Berikut ini ialah manfaat dari berpuasa bagi diri kita sendiri.

    Pengertian puasa yang pertama ialah kesepakatan bahwa kita akan mencar ilmu jujur pada diri sendiri. Seseorang yang menjalani puasa secara nrimo akan bersikap enggan untuk membohongi diri sendiri. Sekalipun tidak ada orang yang melihat, ia tidak akan mencuri-curi kesempatan untuk makan dan minum atau melaksanakan hal lain yang dapat membatalkan puasanya.

    Sikap ini didorong oleh impian untuk mendapatkan suatu kepuasan batin. Apabila ada seseorang yang mengaku berpuasa, namun tidak memiliki kejujuran pada dirinya sendiri, mungkin ia akan mendapatkan pengukuhan kesalehan dari orang lain. Namun, jauh dilubuk hatinya, pengukuhan yang ia dapat dari orang lain itu tidak akan pernah mendatangkan kepuasan bagi batinnya.

    Kemenangan hakiki dalam setiap pertarungan hanya akan bisa memuaskan batin, jikalau didapat dengan cara-cara yang jujur. Di luar itu, kemenangan hanya akan jadi realitas semu. Demikian juga dalam pertarungan melawan hawa nafsu, hanya kita sendiri yang tahu. Dengan cara apa kita berhasil memenangkannya? Cara jujur atau curang?

    Mengingat Pertian puasa ialah kesepakatan bahwa kita akan bersikap jujur pada diri sendiri, andai kita berbuat curang, dengan sendirinya kita telah berada di luar kesepakatan tersebut. Otomatis puasa yang kita jalani akan jadi kehilangan makna dan pahalanya tidak ada.

    Bagaimana orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, tapi melaksanakan tindakan yang tidak jujur, menyerupai mencuri. Hal tersebut dikembalikan lagi kepada pribadinya sendiri, apakah ia memahami arti puasa itu sendiri.

    Jangan mencontoh pada yang buruk, tapi contohlah yang baik. Laksanakanlah puasa dengan kejujuran dan hasil yang kita dapat pun akan terasa ketika waktu berbuka puasa tiba.

    Melatih anak berpuasa semenjak dini juga, dapat melatih anak tersebut untuk bersikap jujur. Hal tersebut membuat anak menjadi mengerti apa arti berpuasa di kemudian harinya.

    Pengertian puasa yang kedua ialah pengendalian diri (self control). Ketika menjalani puasa, kita akan berhadapan dengan hal-hal yang sebenarnya dihalalkan bagi kita. Namun, karena kita sedang berpuasa, hal-hal yang halal tersebut untuk sementara waktu diharamkan bagi kita. Kita pun dengan suka rela mendapatkan ketentuan ini.

    Kita tidak boleh memakan dan meminum semua makanan dan minuman halal yang kita punyai. Kita juga dilarang melaksanakan korelasi suami istri dengan pasangan hidup kita yang sah. Anehnya, kita tidak berkeberatan  dengan hal itu. Bahkan, mematuhinya. Kenapa?

    Karena kita betul-betul menyadari ihwal arti puasa bahwa mengendalikan diri ialah aspek penting bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya kemampuan dalam mengendalikan diri, sangat sulit untuk membedakan mana insan dan mana binatang.

    Bisa dibayangkan jikalau setiap orang sanggup untuk mengendalikan dirinya, sanggup untuk mengendalikan keinginannya dalam kehidupan sehari-hari, dunia ini akan tentram tanpa kejahatan. Bayangkan, dengan berpuasa, seseorang bisa mendapatkan ketentuan yang mengharamkannya untuk menikmati sesuatu yang sebenarnya halal baginya.

    Dengan hal tersebut, sesuatu yang benar-benar haram pasti akan segera ditinggalkan. Bukannya mencari dalih bagaimana caranya menghalalkan sesuatu yang nyata-nyata haram supaya bisa dikorupsi secara aman.

    Dengan rajin beribadah puasa, insan bisa terhindar dari segala macam penyakit hati, menyerupai sombong, kikir, iri hati, dendam, dan sebagainya. Hati kita akan tentram dan damai, apabila kita bisa mengendalikan diri kita. Semoga Pertian puasa tersebut dapat bermanfaat dan menambah keimanan dan ketakwaan Kita.
    Sekian dulu Postingan Kali ini Semoga Bermanfaat Bagi kita Semua, Wassalmualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Pengertian Puasa dan Macam-Macam Puasa dalam Islam

    Posted at  19.16  |  in  lainnya  |  Read More»



    Asslamaualaikum Wr. Wb. Apakabar Sobat KAI Semoga Kita Masih diberikan Kesehatan Selalu Oleh Tuhan SWT, Pada kesempatan kali ini Kita akan membahas mengenai Pengertian Puasa mungkin tidak Asing lagi ditelinga Sobat KAi Tentang  Pertian puasa bagi umat muslim di seluruh dunia, merupakan adegan integral dari sikap penyerahan diri sebagai makhluk di hadapan pencipta, Al-Khaliq. Kapan dilaksanakan, apa yang menjadi dorongan, dan bagaimana cara melaksanakan puasa akan menentukan apakah puasa tersebut bernilai sebagai ibadah wajib, sunah, makruh, atau bahkan bisa menjadi perbuatan yang haram.

    Pengertian Puasa
    Pengertian puasa dalam kaidah bahasa bisa diartikan sebagai menahan. Menahan di sini, yaitu menahan dari hal-hal yang masuk ke dalam lisan dalam bentuk makanan dan minuman, bahkan juga diartikan menahan dari perbuatan dan bicara.

    Dalam petikan surat Maryam ayat 26 dijelaskan bahwa, ”Sesungguhnya saya telah Aku telah bernazar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, sebetulnya Aku tidak akan berbicara dengan seorang insan pun pada hari ini."

    Sementara Pengertian puasa menurut secara syariah Islam disepakati para ulama, yaitu menahan dari apa pun yang membatalkan puasa, disertai niat untuk berpuasa dari terbit fajar hingga karam matahari (maghrib). Ada pula sebagian ulama yang mendefinisikan kata-kata ’membatalkan puasa’ itu sebagai perbuatan dua anggota badan, yaitu perut dan alat kelamin.

    Dalam selain agama Islam, dikenal pula acara puasa. Para pendeta, misalnya senantiasa melaksanakan puasa untuk menambah pahala, kaum Yahudi pun mengenal puasa bicara. Puasa bagi umat Buddha dan sebagian Yahudi merupakan adegan dari acara bertapa.

    Bagi umat muslim, salah satu pesan yang tersirat melaksanakan puasa ialah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Swt dan memperoleh derajat yang agung di hadapan Tuhan Swt berupa ketakwaan. Hal ini menyerupai dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kau berpuasa sebagaimana telah diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu, semoga kau bertakwa.”

    Selain puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, umat muslim mengenal puasa lain yang sifatnya sunah, menyerupai puasa Senin-Kamis, yakni puasa setiap hari Senin dan Kamis saja. Karena sifatnya puasa sunah, maka tidak ada kewajiban dan paksaan dalam pelaksanaannya.

    Di samping puasa Senin-Kamis dikenal pula puasa nazar, yaitu puasa atas karena atau tujuan tertentu yang diniatkan akan berpuasa apabila sebab-sebab itu terjadi. Misalnya, seseorang bernazar ”Saya akan puasa seminggu penuh kalau diterima jadi pegawai negeri sipil”. Setelah ia berhasil menjadi PNS, maka terkena hukum wajib untuk puasa seminggu penuh tersebut hingga kapan pun dan akan menjadi utang manakala belum dilaksanakan.

    Sebagian ulama berpendapat bahwa apabila seseorang tidak dapat melaksanakan puasa nazar, maka ia wajib memerdekakan budak sahaya atau kalau tidak ada, ia wajib memberi makan dan pakaian kepada sepuluh orang miskin.

    Puasa-puasa sunah lain di antaranya ialah puasa nisfu Sya’ban yang dilaksanakan pada awal atau pertengahan bulan Sya’ban, puasa pertengahan bulan, puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam, puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 bulan Haji untuk orang yang tidak sedang melaksanakan haji, atau puasa 6 hari di bulan Syawal sebagai puasa sunah penyempurna ibadah puasa Ramadhan.

    Puasa Bagi Kehidupan Manusia
    Kemampuan setiap orang dalam mengendalikan dirinya merupakan aspek penting dalam pergaulan insan untuk menuju tata kehidupan yang harmonis, penuh tenggang rasa, dan cinta kasih. Dengan argumen demikian, semakin terlihatlah bahwa arti puasa memiliki tugas penting dalam kehidupan manusia.

    Puasa bukanlah sekadar menahan rasa lapar dan haus atau sebuah tindakan yang seperti menawarkan sikap empati terhadap orang-orang yang sedang mengalami kelaparan, sehingga pada dikala waktu puasa berakhir, terkadang kita jadi sedikit berlebihan dalam hal makan dan minum.

    Selain itu, berlebihan juga untuk menawarkan bahwa berpuasa ialah suatu tindakan untuk menawarkan sikap empati kita kepada orang-orang yang kelaparan. Puasa kita memiliki batas tamat waktu dan kita punya makanan untuk mengakhiri puasa. Namun, puasa orang-orang yang sedang kelaparan tidak memiliki kejelasan akan batas tamat waktu. Begitu pula dengan persediaan makanan untuk mengakhirkan puasanya.

    Puasa bagi umat Islam ialah menahan diri dari makan dan minum, serta menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Waktunya dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Itu pun harus disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

    Di dalam agama Islam, puasa ialah salah satu rukun Islam yang ketiga, yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Banyak jenis puasa yang ada di dalam anutan agama Islam, ada yang wajib dilaksanakan dan ada yang sunah untuk dilaksanakan. Salah satu puasa wajib bagi umat Islam ialah puasa Ramadhan.

    Puasa Ramadhan wajib dikerjakan oleh semua umat Islam, kecuali orang-orang yang dibolehkan untuk tidak berpuasa, tapi itu juga harus dibayar pada hari lain, selain bulan Ramadhan.

    Puasa sunah boleh dikerjakan dan boleh juga tidak. Apabila dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak apa-apa. Contoh puasa sunah ialah puasa hari senin dan kamis atau puasa arafah.

    Banyak manfaat yang dapat diambil dari berpuasa. Sebagai umat Islam puasa di bulan Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga menahan lainnya, menyerupai yang sudah disebutkan tersebut. Berikut ini ialah manfaat dari berpuasa bagi diri kita sendiri.

    Pengertian puasa yang pertama ialah kesepakatan bahwa kita akan mencar ilmu jujur pada diri sendiri. Seseorang yang menjalani puasa secara nrimo akan bersikap enggan untuk membohongi diri sendiri. Sekalipun tidak ada orang yang melihat, ia tidak akan mencuri-curi kesempatan untuk makan dan minum atau melaksanakan hal lain yang dapat membatalkan puasanya.

    Sikap ini didorong oleh impian untuk mendapatkan suatu kepuasan batin. Apabila ada seseorang yang mengaku berpuasa, namun tidak memiliki kejujuran pada dirinya sendiri, mungkin ia akan mendapatkan pengukuhan kesalehan dari orang lain. Namun, jauh dilubuk hatinya, pengukuhan yang ia dapat dari orang lain itu tidak akan pernah mendatangkan kepuasan bagi batinnya.

    Kemenangan hakiki dalam setiap pertarungan hanya akan bisa memuaskan batin, jikalau didapat dengan cara-cara yang jujur. Di luar itu, kemenangan hanya akan jadi realitas semu. Demikian juga dalam pertarungan melawan hawa nafsu, hanya kita sendiri yang tahu. Dengan cara apa kita berhasil memenangkannya? Cara jujur atau curang?

    Mengingat Pertian puasa ialah kesepakatan bahwa kita akan bersikap jujur pada diri sendiri, andai kita berbuat curang, dengan sendirinya kita telah berada di luar kesepakatan tersebut. Otomatis puasa yang kita jalani akan jadi kehilangan makna dan pahalanya tidak ada.

    Bagaimana orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, tapi melaksanakan tindakan yang tidak jujur, menyerupai mencuri. Hal tersebut dikembalikan lagi kepada pribadinya sendiri, apakah ia memahami arti puasa itu sendiri.

    Jangan mencontoh pada yang buruk, tapi contohlah yang baik. Laksanakanlah puasa dengan kejujuran dan hasil yang kita dapat pun akan terasa ketika waktu berbuka puasa tiba.

    Melatih anak berpuasa semenjak dini juga, dapat melatih anak tersebut untuk bersikap jujur. Hal tersebut membuat anak menjadi mengerti apa arti berpuasa di kemudian harinya.

    Pengertian puasa yang kedua ialah pengendalian diri (self control). Ketika menjalani puasa, kita akan berhadapan dengan hal-hal yang sebenarnya dihalalkan bagi kita. Namun, karena kita sedang berpuasa, hal-hal yang halal tersebut untuk sementara waktu diharamkan bagi kita. Kita pun dengan suka rela mendapatkan ketentuan ini.

    Kita tidak boleh memakan dan meminum semua makanan dan minuman halal yang kita punyai. Kita juga dilarang melaksanakan korelasi suami istri dengan pasangan hidup kita yang sah. Anehnya, kita tidak berkeberatan  dengan hal itu. Bahkan, mematuhinya. Kenapa?

    Karena kita betul-betul menyadari ihwal arti puasa bahwa mengendalikan diri ialah aspek penting bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya kemampuan dalam mengendalikan diri, sangat sulit untuk membedakan mana insan dan mana binatang.

    Bisa dibayangkan jikalau setiap orang sanggup untuk mengendalikan dirinya, sanggup untuk mengendalikan keinginannya dalam kehidupan sehari-hari, dunia ini akan tentram tanpa kejahatan. Bayangkan, dengan berpuasa, seseorang bisa mendapatkan ketentuan yang mengharamkannya untuk menikmati sesuatu yang sebenarnya halal baginya.

    Dengan hal tersebut, sesuatu yang benar-benar haram pasti akan segera ditinggalkan. Bukannya mencari dalih bagaimana caranya menghalalkan sesuatu yang nyata-nyata haram supaya bisa dikorupsi secara aman.

    Dengan rajin beribadah puasa, insan bisa terhindar dari segala macam penyakit hati, menyerupai sombong, kikir, iri hati, dendam, dan sebagainya. Hati kita akan tentram dan damai, apabila kita bisa mengendalikan diri kita. Semoga Pertian puasa tersebut dapat bermanfaat dan menambah keimanan dan ketakwaan Kita.
    Sekian dulu Postingan Kali ini Semoga Bermanfaat Bagi kita Semua, Wassalmualaikum Wr. Wb.

    AsslamualaikumWr. Wb. Semoga Sobat Diberikan Kemudahan Dalam Melaksanakan Ibadah Kepada Tuhan SWT. Pada kali ini kita membahas mengenai tata cara Tayamum.
    tayamum dalam ISLAM itu mudah, alasannya yaitu bahwasanya Tuhan sama sekali tidak ingin memberatkan hamba-Nya. Dan itulah diantara pesan yang tersirat tayyamum, disaat kita tidak menemukan air untuk bersuci atau alasannya yaitu kedaan yang tidak memungkinkan untuk bersentuhan dengan air (PenyakitKhusus).

    Tayamum yaitu untuk menyucikan diri kita dan semoga kita bersyukur dengan syari’at ini. Sehingga semakin nampak kepada kita bahwa Setelah menyebutkan syariat bersuci, Tuhan Telah Menjelaskan Cara Bersuci tersebut dengan firman-Nya:


    وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
    فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

    Artinya:
    “Dan kalau kau sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari daerah buang air atau berafiliasi tubuh dengan perempuan, lalu kau tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (Qs. Al Maidah: 6).

    Namun bagaimana dan menyerupai apa Tayamum yang benar sesuai sunnah Nabi? Berikut tata cara tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijelaskan dalam hadits ‘Ammar bin Yasirradhiyallahu ‘anhu:

    بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian saya mengalami junub dan saya tidak menemukan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian saya ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya menyerupai ini”.  Kemudian dia memukulkan telapak tangannya ke permukaan tanah sekali, lalu meniupnya. Kemudian dia mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

    Dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori:

    وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

    “Dan dia mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.(Muttafaq ‘alaihi)

    Makara Berdasarkan hadits di atas, kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum Rasulullah yaitu sebagai berikut:


    • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali  kemudian meniupnya.
    • Mengusap punggung telapak ajun dengan tangan kiri dan sebaliknya.
    • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
    • Semua usapan dilakukan sekali.


    • Bagian tangan yang diusap hanya hingga pergelangan tangan saja


    • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil


    • Tidak wajibnya tertib atau berurutan ketika tayammu.


    Sekian Dulu Sobat KAI Penjelasan Kali Ini Semoga Dapat Menambah Pemahaman Kita Lebih Jauh Mengenai Islam.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Tayamum Yang Benar Sesuai Contoh Rasulullah Saw

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    AsslamualaikumWr. Wb. Semoga Sobat Diberikan Kemudahan Dalam Melaksanakan Ibadah Kepada Tuhan SWT. Pada kali ini kita membahas mengenai tata cara Tayamum.
    tayamum dalam ISLAM itu mudah, alasannya yaitu bahwasanya Tuhan sama sekali tidak ingin memberatkan hamba-Nya. Dan itulah diantara pesan yang tersirat tayyamum, disaat kita tidak menemukan air untuk bersuci atau alasannya yaitu kedaan yang tidak memungkinkan untuk bersentuhan dengan air (PenyakitKhusus).

    Tayamum yaitu untuk menyucikan diri kita dan semoga kita bersyukur dengan syari’at ini. Sehingga semakin nampak kepada kita bahwa Setelah menyebutkan syariat bersuci, Tuhan Telah Menjelaskan Cara Bersuci tersebut dengan firman-Nya:


    وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
    فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

    Artinya:
    “Dan kalau kau sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari daerah buang air atau berafiliasi tubuh dengan perempuan, lalu kau tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (Qs. Al Maidah: 6).

    Namun bagaimana dan menyerupai apa Tayamum yang benar sesuai sunnah Nabi? Berikut tata cara tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijelaskan dalam hadits ‘Ammar bin Yasirradhiyallahu ‘anhu:

    بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian saya mengalami junub dan saya tidak menemukan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian saya ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya menyerupai ini”.  Kemudian dia memukulkan telapak tangannya ke permukaan tanah sekali, lalu meniupnya. Kemudian dia mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

    Dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori:

    وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

    “Dan dia mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.(Muttafaq ‘alaihi)

    Makara Berdasarkan hadits di atas, kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum Rasulullah yaitu sebagai berikut:


    • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali  kemudian meniupnya.
    • Mengusap punggung telapak ajun dengan tangan kiri dan sebaliknya.
    • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
    • Semua usapan dilakukan sekali.


    • Bagian tangan yang diusap hanya hingga pergelangan tangan saja


    • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil


    • Tidak wajibnya tertib atau berurutan ketika tayammu.


    Sekian Dulu Sobat KAI Penjelasan Kali Ini Semoga Dapat Menambah Pemahaman Kita Lebih Jauh Mengenai Islam.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Segala puji hanya milik Tuhan Subhanahu wa Ta’ala, kita memuji-Nya, memohon pinjaman dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Tuhan dari kejahatan diri-diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Tuhan beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Tuhan sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bekerjsama tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Tuhan semata,tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bekerjsama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam (صلى الله عليه و سلم) adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam
    (صلى الله عليه و سلم), keluarganya, para Sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari Kiamat.
    Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya ialah firman Tuhan Subhanahu wa Ta’ala,

    إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

    “Sesungguhnya shalat itu ialah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

    [ QS. An Nisa’ (4) : 103]







    Penentuan Jadwal Waktu Shalat

    Kaidah penentuan aktivitas shalat yaitu “Pergerakan  Matahari ” dilihat dari bumi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pelbagai akomodasi terus dibuat dan membuat lebih praktis  dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalt fardu. Diatas ini aktivitas shalat fardu, supaya mampu mempermudah kita untuk sholat pada waktunya. Yang saya cantumkan diatas ialah aktivitas untuk satu bulan ini, Anda mampu juga melihat aktivitas Sholat hari ini. Apabila Anda ingin menampilkan di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda.

    Jaman dahulu sebelum kaum muslimin menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, waktu shalat ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap gejala alam dengan melihat eksklusif matahari. Kemudian berkembang dengan dibuatnya Jam Surya atau Jam Matahari   serta Jam Istiwa atau sering  disebut Tongkat Istiwa dengan kaidah bayangan matahari.

    Informasi Baru Islam Jadwal Shalat

    Posted at  19.16  |  in  Jadwal  |  Read More»

    Segala puji hanya milik Tuhan Subhanahu wa Ta’ala, kita memuji-Nya, memohon pinjaman dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Tuhan dari kejahatan diri-diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Tuhan beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Tuhan sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bekerjsama tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Tuhan semata,tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bekerjsama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam (صلى الله عليه و سلم) adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam
    (صلى الله عليه و سلم), keluarganya, para Sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari Kiamat.
    Semua kaum muslim sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya, dalilnya ialah firman Tuhan Subhanahu wa Ta’ala,

    إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

    “Sesungguhnya shalat itu ialah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

    [ QS. An Nisa’ (4) : 103]







    Penentuan Jadwal Waktu Shalat

    Kaidah penentuan aktivitas shalat yaitu “Pergerakan  Matahari ” dilihat dari bumi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pelbagai akomodasi terus dibuat dan membuat lebih praktis  dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalt fardu. Diatas ini aktivitas shalat fardu, supaya mampu mempermudah kita untuk sholat pada waktunya. Yang saya cantumkan diatas ialah aktivitas untuk satu bulan ini, Anda mampu juga melihat aktivitas Sholat hari ini. Apabila Anda ingin menampilkan di blog Anda, Ini caranya menampilkan Widget Jadwal Sholat di blog Anda.

    Jaman dahulu sebelum kaum muslimin menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, waktu shalat ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap gejala alam dengan melihat eksklusif matahari. Kemudian berkembang dengan dibuatnya Jam Surya atau Jam Matahari   serta Jam Istiwa atau sering  disebut Tongkat Istiwa dengan kaidah bayangan matahari.



    Asslamualaikum Wr. Wb. Apakabar Sobat KAI pada Kali Ini Kita Membahas Mengenai Jihat akhir-akhir ini, istilah jihad sering diselewengkan oleh sebagian kelompok. Makna jihad telah disamakan dengan bentuk terorisme hem tidak sesuikan dibenak sobat. Barang siapa melaksanakan bunuh diri dengan bom guna membunuh kaum kafir, meskipun tanpa alasan benar, dikategorikan sebagai mujahid. Kekacauan di muka bumi jawaban ulah para teroris dianggap sebagai jihad.


    Teror bom kian mengancam beberapa daerah yang “diperkirakan” banyak diTempati atau didatangi kaum kafir. Meskipun ada orang muslim yang  mati dalam pembunuhan massal itu, para teroris menganggapnya sebagai bentuk jihad, mati di jalan Tuhan demi membela agama. Padahal, peristiwa semacam ini sungguh menyedihkan karena para teroris hanya optimis mencium bacin surga versi mereka bukan berjihad.


    Jihad dipraktikkan untuk melaksanakan misi utama manusia, yakni menegakkan peraturan Tuhan atau menjaga agama Islam tetap tegak sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-quran. Jihad yang dilakukan Rasulullah yaitu berdakwah supaya insan meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada peraturan Allah. Itulah jihad yang benar menurut Islam. 

    Islam merupakan aliran agama yang bersih, mengajarkan cinta kasih, dan yang lebih utama Salah satu bukti kasih sayang Islam pada umat insan yakni tidak membenarkan terjadinya pertumpahan darah insan tanpa alasan yang terang dan benar. Tuhan swt. berfirman dalam surat Al-An’am ayat 151 yang Artinya :
    “Janganlah kau membunuh nyawa yang diharamkan Tuhan –untuk dibunuh– keuali dengan alasannya yakni yang benar."

    Al-Baghawi menawarkan penjelasan bahwa yang dimaksud pembunuhan haram dalam ayat tersebut yakni membunuh seorang mukmin dan orang kafir yang terikat perjanjian keamanan dengan umat Islam, kecuali dengan alasannya yakni yang benar. Sebab yang benar dalam hal ini yakni alasannya yakni yang membuat orang itu pantas dibunuh, misalnya karena murtad, bunuh balas bunuh, dan perzinahan yang mengharuskan hukuman rajam bagi pelaku.

    Terkait pembunuhan yang diharamkan ini, Rasulullah pun bersabda:

    “Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin maupun dengan pemerintahannya, maka dia tidak akan mencium bacin surga. Sesungguhnya, baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR Bukhari)

    Hadis tersebut dengan terang menyatakan bahwa membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin dan pemerintahannya merupakan dosa besar. Selain itu, Islam tidak memperbolehkan acara bunuh diri meskipun dengan tujuan baik, misalnya untuk memerangi musuh. Dengan demikian, perilaku para teroris yang menasbihkan jihad dalam peristwa bom bunuh dirinya sangat patut dipertanyakan, jihad atau bukan?


    Jihad dan Terorisme
    Pada dasarnya, setiap orang yang melaksanakan perbuatan dosa sudah menyadari bahwa risikonya yakni siksa. Namun, tidak demikian bagi para teroris yang melaksanakan pengeboman dan agresi bunuh diri. Mereka justru merasa besar hati serta mengelu-elukan dirinya sebagai mujahid  dan berjihad yang sudah pasti masuk surga.

    Seorang pelaku bom bunuh diri, bahkan, sempat membuat rekaman berupa pesan bagi orangtuanya supaya tidak sedih. Dengan penuh optimisme, sang pelaku peledakan itu berkata bahwa ia lebih dulu ada di surga dan kelak akan bersama-sama dengan kedua orangtuanya. Sungguh optimisme yang keliru dan mendahului Kehendak Tuhan.

    Padahal, hal itu bersama-sama merupakan tipu muslihat setan bukan jihad. Tuhan pun menyatakan dalam firmannya bahwa orang yang paling merugi amalnya ialah orang-orang yang usahanya di dunia sia-sia, sementara mereka menganggap telah melaksanakan kebaikan sebaik-baiknya.

    Terorisme tidak dapat dimasukkan ke dalam jihad. Jihad berbentuk peperangan harus terang pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam perang tersebut, menyerupai jihad dalam perang Nabi Muhammad Saw. mewakili Madinah melawan Makkah dan para sekutunya. Alasan perang dan berjihad tersebut dipicu terutama oleh kezaliman kaum Quraisy yang sudah melanggar hak hidup kaum muslimin di Makkah. 

    "Mengapa kau tidak mau berperang di jalan Tuhan dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun belum dewasa yang semuanya berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau." (QS 4:75)

    Perang yang bertujuan menegakkan Islam tetapi tidak mengikuti sunnah Rasul, tidak dapat dikatakan sebagai jihad. Sunnah Rasul untuk menegakkan Islam dimulai dengan dakwah tanpa kekerasan, hijrah ke daerah yang aman dan mendapatkan dakwah Rasul, gres kemudian mengaplikasikan suatu masyarakat Islami yang tujuannya untuk menegakkan kekuasaan Tuhan di muka bumi. 


    Makna Jihad Sebenarnya
    Sesungguhnya, mujahid sejati yakni orang yang bisa menundukkan hawa nafsunya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Termasuk, memerangi orang kafir dengan cara yang benar, bukan melaksanakan perbuatan dosa dan pelanggaran lain. Rasulullah bersabda, “Orang yang berjihad yakni orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR Ahmad)

    Dengan demikian, terang sudah bahwa agresi terorisme bukanlah jihad. Terorisme dapat diartikan sebagai perilaku yang menimbulkan kekacauan serta kerusakan di muka bumi. Seperti yang kita ketahui, Tuhan swt. sangat membenci hal itu menyerupai yang tertuang dalam surat Al-Qashash ayat 77.

    “Janganlah kau berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.”
    Pahami Dalil Jihad Secara Utuh

    Dengan maraknya peristiwa memilukan ini, kaum muslimin sepatutnya meningkatkan pemahaman agama serta berusaha mengamalkannya, khususnya wacana jihad. Sesungguhnya, agresi para teroris tersebut merupakan bentuk penyelewengan atas dalil atau ayat yang disampaikan Tuhan untuk memerangi orang kafir tanpa mempertimbangkan alasannya.

    Oleh alasannya yakni itu, pahamilah dalil jihad secara utuh supaya mata Anda terbuka untuk menghentikan dan terhindar dari perbuatan yang merugikan insan dan bumi serta dimurkai Allah.

    Satu hal yang tidak kalah penting, tidak semua pria bercelana di atas mata kaki dan berjenggot serta perempuan bercadar merupakan jaringan teroris. Rasulullah menganjurkan pria untuk memelihara jenggot dan memakai celana di atas mata kaki. Bahkan, istri dia pun mengenakan cadar. Lantas, apakan Rasulullah dan keluarganya terlibat agresi terorisme?
    Pelaksanaan Jihad


    Pelaksanaan jihad dapat dilakukan dengan Cara Berikut:

        Jihad dalam konteks langsung yaitu berjihad dan berusaha membersihkan pikiran dari pengaruh-pengaruh aliran selain Tuhan dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

        Jihad dalam komunitas, yaitu berusaha supaya agama Islam di masyarakat tetap tegak bangkit dengan berdakwah.

        Jihad dalam kedaulatan yakni berupaya menjaga kedaulatan dari serangan luar, termasuk pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar. Jihad ini berlaku hanya pada daulah yang memakai Din Islam secara kaffah atau menyeluruh.  

    Sebenarnya, kalau dikaji dengan baik wacana hukum-hukum jihad yang sudah dijelaskam dalam syari’at Islam, kita akan tahu bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dibutuhkan oleh insan kecuali Islam sudah menawarkan petunjuk yang Nyata dan jelas. Dengan begitu, kita akan semakin mengerti bagaimana Tuhan SWT, tidak akam membiarkan hamba-Nya berada dalam kebingungan dan duduk perkara yang mengahadangnya.
    sekian dulu sahabat Penjelasan Kali Ini Semoga Ada Manfaatnya Bagi kita semua. Wassalmualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Jihad

    Posted at  19.16  |  in  lainnya  |  Read More»



    Asslamualaikum Wr. Wb. Apakabar Sobat KAI pada Kali Ini Kita Membahas Mengenai Jihat akhir-akhir ini, istilah jihad sering diselewengkan oleh sebagian kelompok. Makna jihad telah disamakan dengan bentuk terorisme hem tidak sesuikan dibenak sobat. Barang siapa melaksanakan bunuh diri dengan bom guna membunuh kaum kafir, meskipun tanpa alasan benar, dikategorikan sebagai mujahid. Kekacauan di muka bumi jawaban ulah para teroris dianggap sebagai jihad.


    Teror bom kian mengancam beberapa daerah yang “diperkirakan” banyak diTempati atau didatangi kaum kafir. Meskipun ada orang muslim yang  mati dalam pembunuhan massal itu, para teroris menganggapnya sebagai bentuk jihad, mati di jalan Tuhan demi membela agama. Padahal, peristiwa semacam ini sungguh menyedihkan karena para teroris hanya optimis mencium bacin surga versi mereka bukan berjihad.


    Jihad dipraktikkan untuk melaksanakan misi utama manusia, yakni menegakkan peraturan Tuhan atau menjaga agama Islam tetap tegak sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-quran. Jihad yang dilakukan Rasulullah yaitu berdakwah supaya insan meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada peraturan Allah. Itulah jihad yang benar menurut Islam. 

    Islam merupakan aliran agama yang bersih, mengajarkan cinta kasih, dan yang lebih utama Salah satu bukti kasih sayang Islam pada umat insan yakni tidak membenarkan terjadinya pertumpahan darah insan tanpa alasan yang terang dan benar. Tuhan swt. berfirman dalam surat Al-An’am ayat 151 yang Artinya :
    “Janganlah kau membunuh nyawa yang diharamkan Tuhan –untuk dibunuh– keuali dengan alasannya yakni yang benar."

    Al-Baghawi menawarkan penjelasan bahwa yang dimaksud pembunuhan haram dalam ayat tersebut yakni membunuh seorang mukmin dan orang kafir yang terikat perjanjian keamanan dengan umat Islam, kecuali dengan alasannya yakni yang benar. Sebab yang benar dalam hal ini yakni alasannya yakni yang membuat orang itu pantas dibunuh, misalnya karena murtad, bunuh balas bunuh, dan perzinahan yang mengharuskan hukuman rajam bagi pelaku.

    Terkait pembunuhan yang diharamkan ini, Rasulullah pun bersabda:

    “Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin maupun dengan pemerintahannya, maka dia tidak akan mencium bacin surga. Sesungguhnya, baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR Bukhari)

    Hadis tersebut dengan terang menyatakan bahwa membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin dan pemerintahannya merupakan dosa besar. Selain itu, Islam tidak memperbolehkan acara bunuh diri meskipun dengan tujuan baik, misalnya untuk memerangi musuh. Dengan demikian, perilaku para teroris yang menasbihkan jihad dalam peristwa bom bunuh dirinya sangat patut dipertanyakan, jihad atau bukan?


    Jihad dan Terorisme
    Pada dasarnya, setiap orang yang melaksanakan perbuatan dosa sudah menyadari bahwa risikonya yakni siksa. Namun, tidak demikian bagi para teroris yang melaksanakan pengeboman dan agresi bunuh diri. Mereka justru merasa besar hati serta mengelu-elukan dirinya sebagai mujahid  dan berjihad yang sudah pasti masuk surga.

    Seorang pelaku bom bunuh diri, bahkan, sempat membuat rekaman berupa pesan bagi orangtuanya supaya tidak sedih. Dengan penuh optimisme, sang pelaku peledakan itu berkata bahwa ia lebih dulu ada di surga dan kelak akan bersama-sama dengan kedua orangtuanya. Sungguh optimisme yang keliru dan mendahului Kehendak Tuhan.

    Padahal, hal itu bersama-sama merupakan tipu muslihat setan bukan jihad. Tuhan pun menyatakan dalam firmannya bahwa orang yang paling merugi amalnya ialah orang-orang yang usahanya di dunia sia-sia, sementara mereka menganggap telah melaksanakan kebaikan sebaik-baiknya.

    Terorisme tidak dapat dimasukkan ke dalam jihad. Jihad berbentuk peperangan harus terang pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam perang tersebut, menyerupai jihad dalam perang Nabi Muhammad Saw. mewakili Madinah melawan Makkah dan para sekutunya. Alasan perang dan berjihad tersebut dipicu terutama oleh kezaliman kaum Quraisy yang sudah melanggar hak hidup kaum muslimin di Makkah. 

    "Mengapa kau tidak mau berperang di jalan Tuhan dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun belum dewasa yang semuanya berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau." (QS 4:75)

    Perang yang bertujuan menegakkan Islam tetapi tidak mengikuti sunnah Rasul, tidak dapat dikatakan sebagai jihad. Sunnah Rasul untuk menegakkan Islam dimulai dengan dakwah tanpa kekerasan, hijrah ke daerah yang aman dan mendapatkan dakwah Rasul, gres kemudian mengaplikasikan suatu masyarakat Islami yang tujuannya untuk menegakkan kekuasaan Tuhan di muka bumi. 


    Makna Jihad Sebenarnya
    Sesungguhnya, mujahid sejati yakni orang yang bisa menundukkan hawa nafsunya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Termasuk, memerangi orang kafir dengan cara yang benar, bukan melaksanakan perbuatan dosa dan pelanggaran lain. Rasulullah bersabda, “Orang yang berjihad yakni orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR Ahmad)

    Dengan demikian, terang sudah bahwa agresi terorisme bukanlah jihad. Terorisme dapat diartikan sebagai perilaku yang menimbulkan kekacauan serta kerusakan di muka bumi. Seperti yang kita ketahui, Tuhan swt. sangat membenci hal itu menyerupai yang tertuang dalam surat Al-Qashash ayat 77.

    “Janganlah kau berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.”
    Pahami Dalil Jihad Secara Utuh

    Dengan maraknya peristiwa memilukan ini, kaum muslimin sepatutnya meningkatkan pemahaman agama serta berusaha mengamalkannya, khususnya wacana jihad. Sesungguhnya, agresi para teroris tersebut merupakan bentuk penyelewengan atas dalil atau ayat yang disampaikan Tuhan untuk memerangi orang kafir tanpa mempertimbangkan alasannya.

    Oleh alasannya yakni itu, pahamilah dalil jihad secara utuh supaya mata Anda terbuka untuk menghentikan dan terhindar dari perbuatan yang merugikan insan dan bumi serta dimurkai Allah.

    Satu hal yang tidak kalah penting, tidak semua pria bercelana di atas mata kaki dan berjenggot serta perempuan bercadar merupakan jaringan teroris. Rasulullah menganjurkan pria untuk memelihara jenggot dan memakai celana di atas mata kaki. Bahkan, istri dia pun mengenakan cadar. Lantas, apakan Rasulullah dan keluarganya terlibat agresi terorisme?
    Pelaksanaan Jihad


    Pelaksanaan jihad dapat dilakukan dengan Cara Berikut:

        Jihad dalam konteks langsung yaitu berjihad dan berusaha membersihkan pikiran dari pengaruh-pengaruh aliran selain Tuhan dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

        Jihad dalam komunitas, yaitu berusaha supaya agama Islam di masyarakat tetap tegak bangkit dengan berdakwah.

        Jihad dalam kedaulatan yakni berupaya menjaga kedaulatan dari serangan luar, termasuk pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar. Jihad ini berlaku hanya pada daulah yang memakai Din Islam secara kaffah atau menyeluruh.  

    Sebenarnya, kalau dikaji dengan baik wacana hukum-hukum jihad yang sudah dijelaskam dalam syari’at Islam, kita akan tahu bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dibutuhkan oleh insan kecuali Islam sudah menawarkan petunjuk yang Nyata dan jelas. Dengan begitu, kita akan semakin mengerti bagaimana Tuhan SWT, tidak akam membiarkan hamba-Nya berada dalam kebingungan dan duduk perkara yang mengahadangnya.
    sekian dulu sahabat Penjelasan Kali Ini Semoga Ada Manfaatnya Bagi kita semua. Wassalmualaikum Wr. Wb.



    Assalamualikum Wr. Wb. Semoga Sahabat kAi tetap diberikan kesehatan selalu oleh Yang Mahakuasa SWT Amin pada kali ini kita Akan Membahas Mengenai Tata Cara Puasa.
    Kita mulai dengan membahas niat.

    1. Niat Untuk Puasa
    Sebelum melaksanakan puasa, kita wajib berniat terlebih dahulu. Puasa kita niatkan sebelum terbit fajar, berdasarkan hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

    ((مَنْ لَمْ يُجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak niat untuk melaksanakan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”


    Khusus untuk puasa yang sunnah, kita boleh berniat puasa setelah fajar terbit apabila sebelumnya kita belum makan. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke ‘Aisyah pada selain bulan Ramadhan, kemudian ia bersabda:

    ((هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاَءٌ ؟ وَ إِلاَّ فَإِنِّي صَائِمٌ ))

    “Apakah engkau punya santapan siang? Maka jikalau tidak ada saya akan berpuasa” (HR. Muslim).


    2. Waktu Puasa

    Puasa dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.

    Dalilnya adalah:

    وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْ

    Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam (Al-Baqarah: 187)


    3. Sahur

    Adik-adik, hendaknya sebelum melaksanakan ibadah puasa, kita makan sahur terlebih dahulu. Kita disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur sesaat menjelang tibanya waktu subuh. Dalilnya yaitu hadits Anas bin Malik berikut:

    “Kami makan sahur bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia shalat” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

    Makan sahur yang diperintahkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa hikmah, antara lain:

    1. Membedakan puasa kita dengan puasanya Ahul Kitab (orang Yahudi dan Nashoro):
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أكْلَةُ السَّحَرِ))

    “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya mahir kitab yaitu makan sahur”
    (HR. Muslim)


    2. Makan Sahur yaitu Barokah

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السُّحُوْرِ بَرَكَةً ))

    “Makan sahurlah kalian alasannya dalam sahur ada barakah” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    Dengan makan sahur, berarti kita telah mengikuti sunnahnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sahur juga akan menguatkan badan, menambah semangat, serta membuat puasa menjadi lebih ringan.

    Adik-adikku sayang, sebagian kaum muslimin memiliki kebiasaan yang jelek ketika sahur. Mereka biasanya melaksanakan sahur dalam waktu yang lama sebelum subuh tiba, kemudian tidur lagi hingga subuh berlalu. Ini menimbulkan mereka jatuh kepada beberapa kesalahan:
    1. Berpuasa sebelum waktunya
    2. Meninggalkan shalat jamaah
    3. Terkadang alasannya tidurnya terlalu nyenyak, mereka berdiri kesiangan dan kehilangan sholat sama sekali

    Oleh alasannya itu hendaknya waktu sahur kita akhirkan dan sebaiknya setelah sahur, kita jangan tidur lagi. Persiapkanlah diri kita untuk shalat subuh yang akan segera tiba.


    4. Perkara Yang Membatalkan Puasa

    Adik-adik, barokallahu fiikum. Kalian harus mengetahui perkara-perkara yang mampu membatalkan puasa. Di antara perkara-perkara tersebut kita adalah:

    1. Makan dan Minum
    Apabila kita makan atau minum di siang hari sewaktu puasa, maka puasa kita batal. Kecuali jikalau kita lupa sedang puasa, maka makan dan minum itu tidaklah membatalkan puasa kita. Kita mampu melanjutkan puasa kita secara sempurna.

    Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمّ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيَتِمْ صَوْمَهُ. فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ))

    “Jika seseorang lupa ketika ia berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaklah menyempurnakan puasanya, alasannya tolong-menolong Yang Mahakuasa yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Muntah dengan Sengaja
    Muntah dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam:

    (( مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقَضِ ))

    “Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha (mengganti) puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya”.

    Sebenarnya ada beberapa hal lain yang mampu membatalkan puasa. Insya Yang Mahakuasa kalian mampu mempelajarinya ketika kalian beranjak dewasa.

    5. Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Ketika Puasa

    Adik-adik, selain menjaga verbal kita dari makan dan minum, ketika berpuasa kita juga harus menjaga verbal kita dari berkata-kata kotor, keji dan dusta. Perbuatan ini memang tidak boleh kita lakukan baik di ketika berpuasa ataupun tidak. Namun hal ini lebih ditekankan lagi apabila kita sedang berpuasa.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Yang Mahakuasa Azza wa Jalla tidaklah butuh atas perbuatannya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhori)

    (( لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَبِ إِنَّمَا الصَّيَامَ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ اَوْجَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ , إِنِّي صَائِمٌ ))

    “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu atau tidak mengetahui perkaramu, maka, katakanlah: Aku sedang puasa, saya sedang puasa”

    Oleh alasannya itu, jagalah lisanmu dari berkata-kata yang kotor, keji dan dusta biar puasamu tidak sia-sia, sebagaimana sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعِ وَالْعَطَشِ ))

    “Berapa banyak orang yang puasa, bab dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)”

    6. Yang Boleh Dilakukan Ketika Puasa

    1. Bersiwak
    Kalian tahu siwak kan? Siwak itu kayu berukuran kecil yang dipergunakan untuk membersihkan gigi. Ketika sedang berpuasa, kita boleh mempergunakannya untuk membersihkan gigi kita, terutama ketika akan sholat.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    (( لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوِاكِ عِنْدَ كُلَّ صَلاَةٍ))

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya saya suruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan sholat” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Berkumur dan Istinsyaq (Memasukkan Air ke dalam Hidung ketika Berwudhu)
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan istinsyaq. Namun ia melarang untuk berlebih-lebihan apabila sedang berpuasa. Beliau bersabda,

    ((وَبَالِغْ فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً))

    “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa”

    3. Mengguyurkan Air ke Atas Kepala alasannya Panas atau Haus
    Apabila kita merasa kepanasan atau haus, maka kita diperbolehkan untuk mengguyurkan air ke kepala kita. Dalilnya yaitu hadits,

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطْشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa alasannya haus atau kepanasan.

    7. Berbuka Puasa

    Ketika matahari telah terbenam dan malam hari pun tiba, kita sudah diperbolehkan untuk makan dan minum. Bahkan kita dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ ))

    “Senantiasa insan berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Berbukalah dengan Buah Kurma
    Pada dikala berbuka, kita disunnahkan untuk membatalkan puasa kita dengan kurma, baik yang berair maupun yang kering. Namun apabila tidak ada, maka kita berbuka dengan air sebagaimana kebiasaan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

    كاَنَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَسَى حَسَوَاتٍ مِنَ مَاءٍ

    “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma berair (ruthob) sebelum sholat. Apabila tidak ada yang basah, maka ia berbuka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada juga, maka ia minum dengan satu tegukan air”


    Sekian Dulu Sobat KAI penjelasan Mengenai Tata Cara Puasa Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua, Tentunya Amin. Wassalmualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Puasa Sesuai Ajaran Rasulullah Saw

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»



    Assalamualikum Wr. Wb. Semoga Sahabat kAi tetap diberikan kesehatan selalu oleh Yang Mahakuasa SWT Amin pada kali ini kita Akan Membahas Mengenai Tata Cara Puasa.
    Kita mulai dengan membahas niat.

    1. Niat Untuk Puasa
    Sebelum melaksanakan puasa, kita wajib berniat terlebih dahulu. Puasa kita niatkan sebelum terbit fajar, berdasarkan hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

    ((مَنْ لَمْ يُجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak niat untuk melaksanakan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”


    Khusus untuk puasa yang sunnah, kita boleh berniat puasa setelah fajar terbit apabila sebelumnya kita belum makan. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke ‘Aisyah pada selain bulan Ramadhan, kemudian ia bersabda:

    ((هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاَءٌ ؟ وَ إِلاَّ فَإِنِّي صَائِمٌ ))

    “Apakah engkau punya santapan siang? Maka jikalau tidak ada saya akan berpuasa” (HR. Muslim).


    2. Waktu Puasa

    Puasa dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.

    Dalilnya adalah:

    وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْ

    Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam (Al-Baqarah: 187)


    3. Sahur

    Adik-adik, hendaknya sebelum melaksanakan ibadah puasa, kita makan sahur terlebih dahulu. Kita disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur sesaat menjelang tibanya waktu subuh. Dalilnya yaitu hadits Anas bin Malik berikut:

    “Kami makan sahur bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia shalat” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

    Makan sahur yang diperintahkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa hikmah, antara lain:

    1. Membedakan puasa kita dengan puasanya Ahul Kitab (orang Yahudi dan Nashoro):
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أكْلَةُ السَّحَرِ))

    “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya mahir kitab yaitu makan sahur”
    (HR. Muslim)


    2. Makan Sahur yaitu Barokah

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السُّحُوْرِ بَرَكَةً ))

    “Makan sahurlah kalian alasannya dalam sahur ada barakah” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    Dengan makan sahur, berarti kita telah mengikuti sunnahnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sahur juga akan menguatkan badan, menambah semangat, serta membuat puasa menjadi lebih ringan.

    Adik-adikku sayang, sebagian kaum muslimin memiliki kebiasaan yang jelek ketika sahur. Mereka biasanya melaksanakan sahur dalam waktu yang lama sebelum subuh tiba, kemudian tidur lagi hingga subuh berlalu. Ini menimbulkan mereka jatuh kepada beberapa kesalahan:
    1. Berpuasa sebelum waktunya
    2. Meninggalkan shalat jamaah
    3. Terkadang alasannya tidurnya terlalu nyenyak, mereka berdiri kesiangan dan kehilangan sholat sama sekali

    Oleh alasannya itu hendaknya waktu sahur kita akhirkan dan sebaiknya setelah sahur, kita jangan tidur lagi. Persiapkanlah diri kita untuk shalat subuh yang akan segera tiba.


    4. Perkara Yang Membatalkan Puasa

    Adik-adik, barokallahu fiikum. Kalian harus mengetahui perkara-perkara yang mampu membatalkan puasa. Di antara perkara-perkara tersebut kita adalah:

    1. Makan dan Minum
    Apabila kita makan atau minum di siang hari sewaktu puasa, maka puasa kita batal. Kecuali jikalau kita lupa sedang puasa, maka makan dan minum itu tidaklah membatalkan puasa kita. Kita mampu melanjutkan puasa kita secara sempurna.

    Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمّ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيَتِمْ صَوْمَهُ. فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ))

    “Jika seseorang lupa ketika ia berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaklah menyempurnakan puasanya, alasannya tolong-menolong Yang Mahakuasa yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Muntah dengan Sengaja
    Muntah dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam:

    (( مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقَضِ ))

    “Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha (mengganti) puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya”.

    Sebenarnya ada beberapa hal lain yang mampu membatalkan puasa. Insya Yang Mahakuasa kalian mampu mempelajarinya ketika kalian beranjak dewasa.

    5. Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Ketika Puasa

    Adik-adik, selain menjaga verbal kita dari makan dan minum, ketika berpuasa kita juga harus menjaga verbal kita dari berkata-kata kotor, keji dan dusta. Perbuatan ini memang tidak boleh kita lakukan baik di ketika berpuasa ataupun tidak. Namun hal ini lebih ditekankan lagi apabila kita sedang berpuasa.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Yang Mahakuasa Azza wa Jalla tidaklah butuh atas perbuatannya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhori)

    (( لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَبِ إِنَّمَا الصَّيَامَ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ اَوْجَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ , إِنِّي صَائِمٌ ))

    “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu atau tidak mengetahui perkaramu, maka, katakanlah: Aku sedang puasa, saya sedang puasa”

    Oleh alasannya itu, jagalah lisanmu dari berkata-kata yang kotor, keji dan dusta biar puasamu tidak sia-sia, sebagaimana sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعِ وَالْعَطَشِ ))

    “Berapa banyak orang yang puasa, bab dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)”

    6. Yang Boleh Dilakukan Ketika Puasa

    1. Bersiwak
    Kalian tahu siwak kan? Siwak itu kayu berukuran kecil yang dipergunakan untuk membersihkan gigi. Ketika sedang berpuasa, kita boleh mempergunakannya untuk membersihkan gigi kita, terutama ketika akan sholat.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    (( لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوِاكِ عِنْدَ كُلَّ صَلاَةٍ))

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya saya suruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan sholat” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Berkumur dan Istinsyaq (Memasukkan Air ke dalam Hidung ketika Berwudhu)
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan istinsyaq. Namun ia melarang untuk berlebih-lebihan apabila sedang berpuasa. Beliau bersabda,

    ((وَبَالِغْ فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً))

    “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa”

    3. Mengguyurkan Air ke Atas Kepala alasannya Panas atau Haus
    Apabila kita merasa kepanasan atau haus, maka kita diperbolehkan untuk mengguyurkan air ke kepala kita. Dalilnya yaitu hadits,

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطْشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa alasannya haus atau kepanasan.

    7. Berbuka Puasa

    Ketika matahari telah terbenam dan malam hari pun tiba, kita sudah diperbolehkan untuk makan dan minum. Bahkan kita dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ ))

    “Senantiasa insan berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Berbukalah dengan Buah Kurma
    Pada dikala berbuka, kita disunnahkan untuk membatalkan puasa kita dengan kurma, baik yang berair maupun yang kering. Namun apabila tidak ada, maka kita berbuka dengan air sebagaimana kebiasaan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

    كاَنَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَسَى حَسَوَاتٍ مِنَ مَاءٍ

    “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma berair (ruthob) sebelum sholat. Apabila tidak ada yang basah, maka ia berbuka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada juga, maka ia minum dengan satu tegukan air”


    Sekian Dulu Sobat KAI penjelasan Mengenai Tata Cara Puasa Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua, Tentunya Amin. Wassalmualaikum Wr. Wb.

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 Hidup Itu Indah.
    Powered by Themes24x7 .
    back to top