• Featured

    Informasi Baru Islam Tips Trick Berpuasa bagi Penderita Diabetes

  • Featured

    Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaamya.

  • Articles

    Tata Cara Makan Menurut Islam

  • Articles

    Tata Cara Tidur yang Baik Menurut Islam

  • Tampilkan postingan dengan label TataCara. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label TataCara. Tampilkan semua postingan

    بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

    Assalamualaikum, Wr. Wb. selamat menikmati hidup kalian teman KAI !
    Saya disini hanya sekedar posting/sharing (berbagi) untuk mencar ilmu dan menambah ilmu.
    Shalat Tahajud

    Kalau ada yang salah baik itu kecil maupun besar mohon maaf ! Saya bukanlah hebat (ustadz, kiai, dsb) dalam islam dan sekali lagi saya hanya sekedar berbagi/ sharing sekalian mencar ilmu bareng-bareng, dan agar artikel/ postingan ini bermafaat bagi yang ingin maupun yang gres mencar ilmu Tata Cara Shalat Tahajud dan             BacaanDoa Tahajud. ^_^


    Kali ini KAI akan sharing/ memposting mengenai Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaanya

    Shalat Tahajud

    Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa Tahajud
    Sebelum lanjut ke Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa Tahajud ada yang tahu apa itu shalat? Nah kalau ada yang tahu apa itu shalat tolong berkomentar ya di artikel ini, dan bagi yang belum tahu baca:
    pengertian singkat dari salat :

    Salat ("Bahasa Arab": صلاة; transliterasi: Shalat), merujuk kepada ritual ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad, sebagai figur Teladan, perintah Tuhan Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat, alasannya yaitu menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar:

      “dirikanlah shalat, bantu-membantu shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan bantu-membantu mengingat Tuhan (shalat) yaitu lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)". (Al-Ankabut: 45)

    Masih kurang jelas? coba tanyakan ke ustadz yang ada di tempat teman KAI masing-masing (lebih afdol) :)
    Ok, eksklusif saja Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa-doa Tahajud

    Ups, sedikit kepotong...Bagi yang belum tahu apa itu Shalat Tahajud, KAI akan tulis  dibawah ini !

    Shalat Tahajud :

    Shalat Tahajud Adalah Shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari, dimulai selepas isya hingga menjelang subuh dan dikerjakan setelah tidur atau bangun tidur di malam hari. Dan shalat tahajud sering juga disebut shalat malam atau disebut juga (Sholatul lail) alasannya yaitu waktu yang melaksanakan shalat ini pada malam hari dimana semua orang sedang tertidur lelap. Shalat Tahajud juga yaitu shalat sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Mengingat keutamaan yang sangat besar dalam shalat malam ini dan dianjurkan oleh Tuhan dalam Alqur'an :

    ”Wa minal laili fatahajjad bihi naafilatan laka `asaa an yab`atsaka rabbuka maqaaman mahmuudan” (QS : Al-Isro’ : 79)


    Artinya: "Dan pada sebagian malam, sembahyang tahajudlah kau sebagai suatu ibadah aksesori bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kau ke tempat yang terpuji"


    Kalau sudah diketahui waktu melaksanakan ibadah ini dari waktu isya' hingga waktu subuh, sedang, sepanjang malam ini ada saat-saat utama, lebih utama dan paling utama, maka waktu malam yang panjang itu dapat kita bagi menjadi tiga bab :

        Sepertiga pertama, kira-kira mulai dari jam 19.00 hingga jam 22.00, ini dikala utama
        Sepertiga kedua, kira-kira mulai dari jam 22.00 hingga dengan jam 01.00, ini dikala yang lebih utama
        Sepertiga ketiga, kira-kira dari jam 01.00 hingga dengan masuknya waktu subuh, ini dikala yang paling utama


    Ups, maaf kepotong lagi. KAI juga pingin sharing perihal Keutamaan Shalat Tahajud, ini beliau :

    Keutamaan Shalat Tahajud:

    Tuhan Ta'ala berfirman:
    "Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kau sebagai suatu ibadah aksesori bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kau ke tempat yang terpuji." ( QS Al-Isra' (17) : 79)
    Shalat Malam Menyembuhkan Hati Yang Lalai
    Sifat Lalai yaitu penyakit berbahaya dan menyimpang. Penyakit ini akan menimpa hati yang selalu karam dalam hal mubah ,bermalasan-malasan dalam ketaatan , dan hanyut dalam segala kenikmatan. Fokuslah untuk bemunajat kepada Tuhan , sedangkan ketika itu obat yang ampuh akan datang dengan izin Allah, yakni "shalat malam".

    Rasulullah SAW bersabda :
    "Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca sepuluh ayat Qur'an, beliau tidak dituliskan termasuk orang-orang yang lalai. Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 100 ayat Qur'an , beliau akan dituliskan termasuk dalam orang yang Qunut. Dan barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 1000 ayat Qur'an dituliskan dalam sebagai orang yang kaya" (HR. Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibn Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam SHahih Al-Targib wa Al-Tarhib no.635)
    Nikmat nya Shalat Malam
    Seseorang tidak akan bisa mencicipi nikmatnya shalat, indahnya bermunajat dan asyiknya bermesraan dengan Allah, jikalau shalat belum menempati tempat utama di dalam hatinya. Dia tidak akan mencicipi apa-apa jikalau beliau belum hingga pada derajat menimbulkan shalat sebagai penyejuk hati, penggembira jiwa, pelapang dada, penyembuh sakit, penghilang rasa gundah, dan pelepas kesempitan.

    Rasulullah SAW suatu hari bersabda :
    “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Tuhan SWT akan memperlihatkan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
    Adapun lima keutamaan didunia itu, yaitu :

        Akan dipelihara oleh Tuhan SWT dari segala macam bencana.
        Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
        Akan dicintai para hamba Tuhan yang shaleh dan dicintai oleh semua insan Lidahnya akan bisa mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
        Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

    Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, ialah :

        Wajahnya berseri ketika berdiri dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
        Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
        Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, ibarat halilintar yang menyambar.
        Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.


    Nah, Masih Mau Lanjut Sahabat KAI bacanya Oke kalau MAsih mau lanjut kita lanjutkan bacaannya !

    Tata Cara Shalat Tahajud :

        Berniat untuk mengerjakan shalat tahajud
    Ushallii sunnatat-tahajjudi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
      Artinya: "Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat alasannya yaitu Allah"

    Raka'at pertama membaca surah Al Fatihah, setelah itu di lanjut dengan
    Bacaan/surah lain yang anda kira sudah hafal
        Pada raka'at kedua/selanjutnya lakukan ibarat raka'at pertama
        Salam

    Note: Jumlah rakaat pada shalat tahajud tidak terbatas, mulai dari dua rakaat, empat rakaat, dst.....

    Bacaan Do'a Setelah Shalat Tahajud :
    Dalam hadits Bukhari dinyatakan, bahwa Rasulullah saw. jikalau bangun dari tidur di tengah malam, terus bertahajjud dan membaca doa sebagai berikut:

    Artinya:
    ""Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau penegak langit dan bumi dan alam semesta serta segala isinya. Bagi-Mulah  segala puji. Engkau raja penguasa langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah yang hak, Pemancar cahaya langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah yang hak, dan janji-Mu yaitu benar, dan perjumpaan-Mu itu yaitu hak, dan firman-Mu yaitu benar, dan surga yaitu hak, dan neraka yaitu hak, dan nabi-nabi itu hak benar, dan Nabi Muhammad saw. yaitu benar, dan dikala hari tamat zaman itu benar. Ya Allah, kepada-Mulah kami berserah diri (bertawakkal) kepada Engkau jualah kami kembali, dan kepada-Mulah kami rindu, dan kepada Engkaulah kami berhukum.
    Ampunilah kami atas kesalahan yang kami lakukan dan yang sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tiada Tuhan melainkan Engkau Rabbul-'alamin. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah"

    Sesudah membaca doa itu perbanyaklah membaca istighfar. Adapun istighfar yang biasa ialah :
    Astaghfirullaahal-azhiim wa atuubu ilaiih.


    Ada baiknya membaca Do'a keselamatan Dunia Dan Akhirat :
    رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Artinya :
    "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di alam abadi dan peliharalah kami dari siksa neraka".(QS, 2:201)

    Dan jangan lupa perbanyaklah mebaca Istigfar, usahakan sebanyak-banyaknya. :)

    Sekian, agar artikel/ postingan ini "Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa Tahajud" bermanfaat bagi kita semua ! :D

    WassalamualaikumWr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Shalat Tahajud & Bacaamya

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»


    بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

    Assalamualaikum, Wr. Wb. selamat menikmati hidup kalian teman KAI !
    Saya disini hanya sekedar posting/sharing (berbagi) untuk mencar ilmu dan menambah ilmu.
    Shalat Tahajud

    Kalau ada yang salah baik itu kecil maupun besar mohon maaf ! Saya bukanlah hebat (ustadz, kiai, dsb) dalam islam dan sekali lagi saya hanya sekedar berbagi/ sharing sekalian mencar ilmu bareng-bareng, dan agar artikel/ postingan ini bermafaat bagi yang ingin maupun yang gres mencar ilmu Tata Cara Shalat Tahajud dan             BacaanDoa Tahajud. ^_^


    Kali ini KAI akan sharing/ memposting mengenai Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaanya

    Shalat Tahajud

    Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa Tahajud
    Sebelum lanjut ke Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa Tahajud ada yang tahu apa itu shalat? Nah kalau ada yang tahu apa itu shalat tolong berkomentar ya di artikel ini, dan bagi yang belum tahu baca:
    pengertian singkat dari salat :

    Salat ("Bahasa Arab": صلاة; transliterasi: Shalat), merujuk kepada ritual ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad, sebagai figur Teladan, perintah Tuhan Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat, alasannya yaitu menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar:

      “dirikanlah shalat, bantu-membantu shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan bantu-membantu mengingat Tuhan (shalat) yaitu lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)". (Al-Ankabut: 45)

    Masih kurang jelas? coba tanyakan ke ustadz yang ada di tempat teman KAI masing-masing (lebih afdol) :)
    Ok, eksklusif saja Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa-doa Tahajud

    Ups, sedikit kepotong...Bagi yang belum tahu apa itu Shalat Tahajud, KAI akan tulis  dibawah ini !

    Shalat Tahajud :

    Shalat Tahajud Adalah Shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari, dimulai selepas isya hingga menjelang subuh dan dikerjakan setelah tidur atau bangun tidur di malam hari. Dan shalat tahajud sering juga disebut shalat malam atau disebut juga (Sholatul lail) alasannya yaitu waktu yang melaksanakan shalat ini pada malam hari dimana semua orang sedang tertidur lelap. Shalat Tahajud juga yaitu shalat sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Mengingat keutamaan yang sangat besar dalam shalat malam ini dan dianjurkan oleh Tuhan dalam Alqur'an :

    ”Wa minal laili fatahajjad bihi naafilatan laka `asaa an yab`atsaka rabbuka maqaaman mahmuudan” (QS : Al-Isro’ : 79)


    Artinya: "Dan pada sebagian malam, sembahyang tahajudlah kau sebagai suatu ibadah aksesori bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kau ke tempat yang terpuji"


    Kalau sudah diketahui waktu melaksanakan ibadah ini dari waktu isya' hingga waktu subuh, sedang, sepanjang malam ini ada saat-saat utama, lebih utama dan paling utama, maka waktu malam yang panjang itu dapat kita bagi menjadi tiga bab :

        Sepertiga pertama, kira-kira mulai dari jam 19.00 hingga jam 22.00, ini dikala utama
        Sepertiga kedua, kira-kira mulai dari jam 22.00 hingga dengan jam 01.00, ini dikala yang lebih utama
        Sepertiga ketiga, kira-kira dari jam 01.00 hingga dengan masuknya waktu subuh, ini dikala yang paling utama


    Ups, maaf kepotong lagi. KAI juga pingin sharing perihal Keutamaan Shalat Tahajud, ini beliau :

    Keutamaan Shalat Tahajud:

    Tuhan Ta'ala berfirman:
    "Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kau sebagai suatu ibadah aksesori bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kau ke tempat yang terpuji." ( QS Al-Isra' (17) : 79)
    Shalat Malam Menyembuhkan Hati Yang Lalai
    Sifat Lalai yaitu penyakit berbahaya dan menyimpang. Penyakit ini akan menimpa hati yang selalu karam dalam hal mubah ,bermalasan-malasan dalam ketaatan , dan hanyut dalam segala kenikmatan. Fokuslah untuk bemunajat kepada Tuhan , sedangkan ketika itu obat yang ampuh akan datang dengan izin Allah, yakni "shalat malam".

    Rasulullah SAW bersabda :
    "Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca sepuluh ayat Qur'an, beliau tidak dituliskan termasuk orang-orang yang lalai. Barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 100 ayat Qur'an , beliau akan dituliskan termasuk dalam orang yang Qunut. Dan barangsiapa mengerjakan shalat malam dengan membaca 1000 ayat Qur'an dituliskan dalam sebagai orang yang kaya" (HR. Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibn Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam SHahih Al-Targib wa Al-Tarhib no.635)
    Nikmat nya Shalat Malam
    Seseorang tidak akan bisa mencicipi nikmatnya shalat, indahnya bermunajat dan asyiknya bermesraan dengan Allah, jikalau shalat belum menempati tempat utama di dalam hatinya. Dia tidak akan mencicipi apa-apa jikalau beliau belum hingga pada derajat menimbulkan shalat sebagai penyejuk hati, penggembira jiwa, pelapang dada, penyembuh sakit, penghilang rasa gundah, dan pelepas kesempitan.

    Rasulullah SAW suatu hari bersabda :
    “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Tuhan SWT akan memperlihatkan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
    Adapun lima keutamaan didunia itu, yaitu :

        Akan dipelihara oleh Tuhan SWT dari segala macam bencana.
        Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
        Akan dicintai para hamba Tuhan yang shaleh dan dicintai oleh semua insan Lidahnya akan bisa mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
        Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

    Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, ialah :

        Wajahnya berseri ketika berdiri dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
        Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
        Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, ibarat halilintar yang menyambar.
        Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.


    Nah, Masih Mau Lanjut Sahabat KAI bacanya Oke kalau MAsih mau lanjut kita lanjutkan bacaannya !

    Tata Cara Shalat Tahajud :

        Berniat untuk mengerjakan shalat tahajud
    Ushallii sunnatat-tahajjudi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
      Artinya: "Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat alasannya yaitu Allah"

    Raka'at pertama membaca surah Al Fatihah, setelah itu di lanjut dengan
    Bacaan/surah lain yang anda kira sudah hafal
        Pada raka'at kedua/selanjutnya lakukan ibarat raka'at pertama
        Salam

    Note: Jumlah rakaat pada shalat tahajud tidak terbatas, mulai dari dua rakaat, empat rakaat, dst.....

    Bacaan Do'a Setelah Shalat Tahajud :
    Dalam hadits Bukhari dinyatakan, bahwa Rasulullah saw. jikalau bangun dari tidur di tengah malam, terus bertahajjud dan membaca doa sebagai berikut:

    Artinya:
    ""Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau penegak langit dan bumi dan alam semesta serta segala isinya. Bagi-Mulah  segala puji. Engkau raja penguasa langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah yang hak, Pemancar cahaya langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engkaulah yang hak, dan janji-Mu yaitu benar, dan perjumpaan-Mu itu yaitu hak, dan firman-Mu yaitu benar, dan surga yaitu hak, dan neraka yaitu hak, dan nabi-nabi itu hak benar, dan Nabi Muhammad saw. yaitu benar, dan dikala hari tamat zaman itu benar. Ya Allah, kepada-Mulah kami berserah diri (bertawakkal) kepada Engkau jualah kami kembali, dan kepada-Mulah kami rindu, dan kepada Engkaulah kami berhukum.
    Ampunilah kami atas kesalahan yang kami lakukan dan yang sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tiada Tuhan melainkan Engkau Rabbul-'alamin. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah"

    Sesudah membaca doa itu perbanyaklah membaca istighfar. Adapun istighfar yang biasa ialah :
    Astaghfirullaahal-azhiim wa atuubu ilaiih.


    Ada baiknya membaca Do'a keselamatan Dunia Dan Akhirat :
    رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Artinya :
    "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di alam abadi dan peliharalah kami dari siksa neraka".(QS, 2:201)

    Dan jangan lupa perbanyaklah mebaca Istigfar, usahakan sebanyak-banyaknya. :)

    Sekian, agar artikel/ postingan ini "Tata Cara Shalat Tahajud dan Bacaan Doa Tahajud" bermanfaat bagi kita semua ! :D

    WassalamualaikumWr. Wb.


    Halo Sahabat KAI Apakabar Masih Sehatkan? Pada Pembahasan Kali ini kita akan Membahas Mengenai Tata Cara Shalat Jenazah Dan Bacaanyna
    Shalat Jenazah atau Mayit, fardhu kifayah hukumnya dikerjakan dan diwakili salah satu keluarganya si mayit kalau tidak maka pihak keluarga yang ditinggalkan akan menanggung dosa. Dan Apabila Tidak Diketahui Asal Mayit Atau Mayat ini Maka pihak Berwajib yang berhak mengurusnya (iman Desa dll). apabila tidak mengurus jenezah tersebut Maka Berdosa Pulalah Seluruh isi Desa Tersebut.
    Rasulullah saw. bersabda:
    “Barang siapa menghadiri mayat hingga mayat itu disalati, maka ia menerima satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya hingga mayat itu dikuburkan, maka ia menerima dua qirath. Ada yang bertanya: Apakah dua qirath itu? Rasulullah saw. bersabda: Sama dengan dua gunung yang besar.” (HR Abu Hurairah)

    tata cara shalat mayat , niat shalat mayat

    Bahwa Rasulullah saw. bersabda:
    “Barang siapa menyalati jenazah, maka ia menerima satu qirath. Jika ia menghadiri penguburannya, maka ia menerima dua qirath. Satu qirath sama dengan gunung Uhud.” (HR Tsauban).

    Shalat mayat merupakan salah satu praktik ibadah shalat yang dilakukan umat Muslim kalau ada Muslim lainnya yang meninggal dunia.

    Tata cara shalat mayat akan Disajikan lengkap di bawah ini silakan Baca selengkapnya perihal bacaan niat sholat mayat berikut ini:

    Bacaan niat shalat mayat untuk mayit laki-laki
    Ushallii alaa hadzal mayyiti arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati ma’muuman lillaahi ta’alaa.
    Artinya:
    Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir fardhu kifayah alasannya yakni Allah.

    Bacaan niat shalat mayat untuk mayit perempuan
    Ushallii alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa.

    Tata Cara Shalat Jenazah
    Setelah membaca niat

    2. Takbir Pertama
    Setelah takbiratul ihram, yakni setelah mengucapkan “Allahu akbar” sambil meletakan asisten di atas tangan kiri di atas perut (sidekap), kemudian membaca Al-Fatihah,

    Dan setelah membaca Al-Fatihah lalu takbir “Allahu akbar”

    3. Setelah takbir kedua, lalu membaca shalawat:
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad
    Artinya:
    “Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad”
    Lebih tepat lagi kalau membaca shalawat sebagai berikut:
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa’alaa aali Muhammadin. Kamaa shallaita ‘alaa Ibrahim wa ‘allaa aali Ibrahim. Wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aalii Muhammad. Kamaa baarakta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa aali Ibrahim fil-‘aalamiina innaka hamiidummajid.

    Artinya:
    “Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah menunjukkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. DI seluruh ala mini Tuhanlah yang terpuji Yang Maha Mulia.”

    4. Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa:
    Allahummaghfir lahuu warhamhu wa’aafihii wa’fu’anhu.
    Artinya:
    “Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dab sejahtera, maafkanlah dia.”

    Lebih tepat lagi kalau membaca doa:

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
    وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ
    مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ
     وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ
     وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
     وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار


    Allahummaghfir lahu (lahaa) warhamhu (haa) wa’aafihii (haa) wa’fu ‘anhu (haa) wa akrim nuzulahu (haa) wawassa’madkhalahu (haa) waghsilhu (haa) bil-maa’I watstsalji wal-baradi wanaqqihi (haa) minal-khathaayaa kamaa yu-naqqatats-tsaubul-abyadhu minad-danasi waabdilhu (haa) daaran khairan min daarihi (haa) wa ahlan khairan min ahlihi (haa) wa zaujan khairan min zaujihi (haa) wa adkhilhul jannata wa a’iduhu min ‘adabil qabri wa ‘adabin nar

    Artinya:
    “Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah daerah tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya hebat keluarga yang lebih baik daripada hebat keluarganya yang dahulu, dan peliharalah ia dari siksa kubur dan azab api neraka.” (HR. Muslim)

    Keterangan:
    Jika mayit perempuan kata lahu menjadi lahaa.

    Jika mayit bawah umur doanya adalah:

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا
    وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا
    وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ
    وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ


    Allahummaj’alhu faratan li abawaihi wa salafan wa dzukhro
    wa’idhotaw wa’tibaaraw wa syafii’an wa tsaqqil bihii mawaa ziinahuma
    wa-afri-ghish-shabra ‘alaa quluu bihimaa wa laa taf-tin-humaa ba’dahu
    wa laa tahrim humaa ajrahu

    Artinya:
    “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran mirip serta syafa’at bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menimbulkan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya.”

    5. Selesai takbir keempat, lalu membaca:

    اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَناَ وَلَهُ
    Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu.

    Artinya:
    “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak hingga kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau member kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.”

    6. Kemudian setelah salam membaca:

    As-sallamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
    Artinya:
    “Keselamatan dan rahmat Tuhan agar tetap pada kau sekalian.”

    Demikian isu yang dapat ,KAI sampaikan mengenai bacaan shalat mayat dan tata cara shalat mayat diatas bermanfaat dunia akhirat.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Shalat Jenazah & Bacaannya

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»


    Halo Sahabat KAI Apakabar Masih Sehatkan? Pada Pembahasan Kali ini kita akan Membahas Mengenai Tata Cara Shalat Jenazah Dan Bacaanyna
    Shalat Jenazah atau Mayit, fardhu kifayah hukumnya dikerjakan dan diwakili salah satu keluarganya si mayit kalau tidak maka pihak keluarga yang ditinggalkan akan menanggung dosa. Dan Apabila Tidak Diketahui Asal Mayit Atau Mayat ini Maka pihak Berwajib yang berhak mengurusnya (iman Desa dll). apabila tidak mengurus jenezah tersebut Maka Berdosa Pulalah Seluruh isi Desa Tersebut.
    Rasulullah saw. bersabda:
    “Barang siapa menghadiri mayat hingga mayat itu disalati, maka ia menerima satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya hingga mayat itu dikuburkan, maka ia menerima dua qirath. Ada yang bertanya: Apakah dua qirath itu? Rasulullah saw. bersabda: Sama dengan dua gunung yang besar.” (HR Abu Hurairah)

    tata cara shalat mayat , niat shalat mayat

    Bahwa Rasulullah saw. bersabda:
    “Barang siapa menyalati jenazah, maka ia menerima satu qirath. Jika ia menghadiri penguburannya, maka ia menerima dua qirath. Satu qirath sama dengan gunung Uhud.” (HR Tsauban).

    Shalat mayat merupakan salah satu praktik ibadah shalat yang dilakukan umat Muslim kalau ada Muslim lainnya yang meninggal dunia.

    Tata cara shalat mayat akan Disajikan lengkap di bawah ini silakan Baca selengkapnya perihal bacaan niat sholat mayat berikut ini:

    Bacaan niat shalat mayat untuk mayit laki-laki
    Ushallii alaa hadzal mayyiti arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati ma’muuman lillaahi ta’alaa.
    Artinya:
    Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir fardhu kifayah alasannya yakni Allah.

    Bacaan niat shalat mayat untuk mayit perempuan
    Ushallii alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa.

    Tata Cara Shalat Jenazah
    Setelah membaca niat

    2. Takbir Pertama
    Setelah takbiratul ihram, yakni setelah mengucapkan “Allahu akbar” sambil meletakan asisten di atas tangan kiri di atas perut (sidekap), kemudian membaca Al-Fatihah,

    Dan setelah membaca Al-Fatihah lalu takbir “Allahu akbar”

    3. Setelah takbir kedua, lalu membaca shalawat:
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad
    Artinya:
    “Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad”
    Lebih tepat lagi kalau membaca shalawat sebagai berikut:
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa’alaa aali Muhammadin. Kamaa shallaita ‘alaa Ibrahim wa ‘allaa aali Ibrahim. Wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aalii Muhammad. Kamaa baarakta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa aali Ibrahim fil-‘aalamiina innaka hamiidummajid.

    Artinya:
    “Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah menunjukkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. DI seluruh ala mini Tuhanlah yang terpuji Yang Maha Mulia.”

    4. Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa:
    Allahummaghfir lahuu warhamhu wa’aafihii wa’fu’anhu.
    Artinya:
    “Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dab sejahtera, maafkanlah dia.”

    Lebih tepat lagi kalau membaca doa:

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
    وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ
    مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ
     وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ
     وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
     وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار


    Allahummaghfir lahu (lahaa) warhamhu (haa) wa’aafihii (haa) wa’fu ‘anhu (haa) wa akrim nuzulahu (haa) wawassa’madkhalahu (haa) waghsilhu (haa) bil-maa’I watstsalji wal-baradi wanaqqihi (haa) minal-khathaayaa kamaa yu-naqqatats-tsaubul-abyadhu minad-danasi waabdilhu (haa) daaran khairan min daarihi (haa) wa ahlan khairan min ahlihi (haa) wa zaujan khairan min zaujihi (haa) wa adkhilhul jannata wa a’iduhu min ‘adabil qabri wa ‘adabin nar

    Artinya:
    “Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah daerah tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya hebat keluarga yang lebih baik daripada hebat keluarganya yang dahulu, dan peliharalah ia dari siksa kubur dan azab api neraka.” (HR. Muslim)

    Keterangan:
    Jika mayit perempuan kata lahu menjadi lahaa.

    Jika mayit bawah umur doanya adalah:

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا
    وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا
    وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ
    وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ


    Allahummaj’alhu faratan li abawaihi wa salafan wa dzukhro
    wa’idhotaw wa’tibaaraw wa syafii’an wa tsaqqil bihii mawaa ziinahuma
    wa-afri-ghish-shabra ‘alaa quluu bihimaa wa laa taf-tin-humaa ba’dahu
    wa laa tahrim humaa ajrahu

    Artinya:
    “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran mirip serta syafa’at bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menimbulkan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya.”

    5. Selesai takbir keempat, lalu membaca:

    اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَناَ وَلَهُ
    Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu.

    Artinya:
    “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak hingga kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau member kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.”

    6. Kemudian setelah salam membaca:

    As-sallamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
    Artinya:
    “Keselamatan dan rahmat Tuhan agar tetap pada kau sekalian.”

    Demikian isu yang dapat ,KAI sampaikan mengenai bacaan shalat mayat dan tata cara shalat mayat diatas bermanfaat dunia akhirat.

    Hai.. Sobat KAI bertemu lagi Kita Diposting Kali Ini Kita akan Membahas Tentang Tata Cara Shalat Ghaib. Langsung Saja Kita menuju pembahasan mengenai Shalat Ghaib, Apa bekerjsama itu Shalat Ghaib ???

    Pada dasarnya, shalat mayat dan shalat gaib sifatnya sama. Namun pada shalat ghaib, kita tidak sedang berada di erat jenazah. Semisalnya ada seorang kerabat yang meninggal di luar kota dan kita tidak dapat hadir untuk eksklusif menyolatkannya. Maka yang dapat kita lakukan ialah melakukan shalat ghaib ini. Adapun tata cara shalat ghaib tidak jauh beda pula ibarat shalat mayat yaitu melakukan 8 rukun-rukunnya.

    Tata cara shalat ghaib

    Rukun yang pertama : Niat
    Niat ialah tonggak utama dari segala macam ibadah yang kita laksanakan. Sebagaimana shalat pada umumnya, shalat ini pun tidak akan sah kalau tidak diniatkan terlebih dahulu. Sebagaimana yang terjadi pula pada ibadah-ibadah yang lainnya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang menerima sesuai niatnya.”(HR. Muttafaq Alaihi). Makara sekalipun niat terletak di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan keras, tetap saja kita harus berniat untuk melakukan shalat dan ibadah lainnya. Dan khusus pada poin ini ialah niat untuk shalat ghaib bagi si mayit.

    Rukun yang kedua : Berdiri Bila Mampu
    Dalam shalat wajib dan sunnah lainnya, seseorang diberikan keringanan untuk shalat dengan posisi duduk, bahkan berbaring kalau kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melakukan shalat sambil berdiri. Begitu pula dengan shalat mayat dan shalat ghaib. Kecuali memang seseorang tersebut benar-benar memiliki udzur atau alasan yang syar'i sehingga membebaskannya dari posisi shalat sambil berdiri. Namun, kalau masih mampu diusahakan untuk shalat sambil berdiri, maka itu yang lebih baik baginya.

    Rukun yang ketiga : Takbir sebanyak 4 kali
    Sebagaimana hadits Nabi Muhammad dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan mayat Raja Najasyi dengan shalat ghaib dan dia bertakbir 4 kali. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari: 1245, Muslim: 952 dan Ahmad 3:355). Inilah yang menjadi contoh untuk melakukan shalat ghaib dengan jumlah takbir sebanyak 4 kali. Seperti yang telah diketahui bahwa setelah sebelumnya menjadi seorang pemeluk nasrani yang taat, Raja Najasyi dapat masuk Islam saat mendengar isu kerasulan Muhammad SAW.

    Rukun yang keempat : Membaca Surat Al-Fatihah sebagaimana shalat pada umumnya.
    Rukun yang kelima : Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW sebagaimana saat bacaan sholat pada tahiyyat umumnya.

    Rukun yang keenam : Memanjatkan doa teruntuk Jenazah, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya, "Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya." Hadits Riwayat Abu Daud: 3199 dan Ibnu Majah: 1947. Lafadz doa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW diantaranya, "Allahummaghfirlahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil ma’i watstsalji wal barad."

    Rukun yang ketujuh : Berdoa Setelah Takbir Keempat, "Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu."

    Rukun yang kedelapan : Salam
    Untuk menyelenggarakan shalat ghaib ada beberapa pendapat bahwa ada perintah untuk disyariatkan shalat ghaib, baik apakah mayat itu sudah dishalatkan secara eksklusif ataupun belum dishalatkan. Salah satu ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Ibnu Hazm. Beliau berkata dalam kitabnya Al-Muhalla (5/169, no.260) bahwa "Mayit tetap dishalatkan ghaib, alasannya ialah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyalatkan raja Najasyi bersama para sahabatnya dalam beberapa shaf. Ini merupakan ijma' mereka yang tidak boleh dibantah."

    Demikianlah Sobat KAI panduan lengkap Tata Cara Sholat Ghaib, biar bermanfaat bagi Kita.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Shalat Ghaib

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    Hai.. Sobat KAI bertemu lagi Kita Diposting Kali Ini Kita akan Membahas Tentang Tata Cara Shalat Ghaib. Langsung Saja Kita menuju pembahasan mengenai Shalat Ghaib, Apa bekerjsama itu Shalat Ghaib ???

    Pada dasarnya, shalat mayat dan shalat gaib sifatnya sama. Namun pada shalat ghaib, kita tidak sedang berada di erat jenazah. Semisalnya ada seorang kerabat yang meninggal di luar kota dan kita tidak dapat hadir untuk eksklusif menyolatkannya. Maka yang dapat kita lakukan ialah melakukan shalat ghaib ini. Adapun tata cara shalat ghaib tidak jauh beda pula ibarat shalat mayat yaitu melakukan 8 rukun-rukunnya.

    Tata cara shalat ghaib

    Rukun yang pertama : Niat
    Niat ialah tonggak utama dari segala macam ibadah yang kita laksanakan. Sebagaimana shalat pada umumnya, shalat ini pun tidak akan sah kalau tidak diniatkan terlebih dahulu. Sebagaimana yang terjadi pula pada ibadah-ibadah yang lainnya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang menerima sesuai niatnya.”(HR. Muttafaq Alaihi). Makara sekalipun niat terletak di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan keras, tetap saja kita harus berniat untuk melakukan shalat dan ibadah lainnya. Dan khusus pada poin ini ialah niat untuk shalat ghaib bagi si mayit.

    Rukun yang kedua : Berdiri Bila Mampu
    Dalam shalat wajib dan sunnah lainnya, seseorang diberikan keringanan untuk shalat dengan posisi duduk, bahkan berbaring kalau kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melakukan shalat sambil berdiri. Begitu pula dengan shalat mayat dan shalat ghaib. Kecuali memang seseorang tersebut benar-benar memiliki udzur atau alasan yang syar'i sehingga membebaskannya dari posisi shalat sambil berdiri. Namun, kalau masih mampu diusahakan untuk shalat sambil berdiri, maka itu yang lebih baik baginya.

    Rukun yang ketiga : Takbir sebanyak 4 kali
    Sebagaimana hadits Nabi Muhammad dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan mayat Raja Najasyi dengan shalat ghaib dan dia bertakbir 4 kali. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari: 1245, Muslim: 952 dan Ahmad 3:355). Inilah yang menjadi contoh untuk melakukan shalat ghaib dengan jumlah takbir sebanyak 4 kali. Seperti yang telah diketahui bahwa setelah sebelumnya menjadi seorang pemeluk nasrani yang taat, Raja Najasyi dapat masuk Islam saat mendengar isu kerasulan Muhammad SAW.

    Rukun yang keempat : Membaca Surat Al-Fatihah sebagaimana shalat pada umumnya.
    Rukun yang kelima : Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW sebagaimana saat bacaan sholat pada tahiyyat umumnya.

    Rukun yang keenam : Memanjatkan doa teruntuk Jenazah, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya, "Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya." Hadits Riwayat Abu Daud: 3199 dan Ibnu Majah: 1947. Lafadz doa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW diantaranya, "Allahummaghfirlahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil ma’i watstsalji wal barad."

    Rukun yang ketujuh : Berdoa Setelah Takbir Keempat, "Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu."

    Rukun yang kedelapan : Salam
    Untuk menyelenggarakan shalat ghaib ada beberapa pendapat bahwa ada perintah untuk disyariatkan shalat ghaib, baik apakah mayat itu sudah dishalatkan secara eksklusif ataupun belum dishalatkan. Salah satu ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Ibnu Hazm. Beliau berkata dalam kitabnya Al-Muhalla (5/169, no.260) bahwa "Mayit tetap dishalatkan ghaib, alasannya ialah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyalatkan raja Najasyi bersama para sahabatnya dalam beberapa shaf. Ini merupakan ijma' mereka yang tidak boleh dibantah."

    Demikianlah Sobat KAI panduan lengkap Tata Cara Sholat Ghaib, biar bermanfaat bagi Kita.



    Hai Sobat  KAI pada kesempatan kali ini Kami akan membahas Mengenai Tata Cara Mandi Wajib & Niat Mandi Wajib


    Tata cara mandi wajib yang Betul selepas bersetubuh, haid, bersalin atau tidak , yaitu perkara yang mesti diketahui setiap orang muslim, dan tentu setiap muslim tidak sekedar mencukupkan dirinya dengan perkara yang sifatnya mubah, tapi berusaha beranjak kepada perkara-perkara sunnah/mustahab, yakni mencontoh apa yang biasa dikerjakan oleh rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

    Adapun perkara sunnah dalam tata cara mandi wajib atau mandi junub/besar yang sah tepat mampu diambil dari dua hadis yakni hadis aisyah dan hadis maimunah radiyallahu ‘anhuma.



    Niat Mandi Wajib Dan Tata Caranya terkadang kita menyepelehakan permasalahan yang satu ini mengenai Mandi wajib atau janabah, atau junub yaitu mandi yang dilakukan ketika kita mengalami mimpi lembap atau habis bersenggama. Nah, pada ketika ibarat inilah kita diwajibkan untuk mandi wajib janabah mandi besar. Namun tidak ibarat hanya dikala mandi biasa, mandi wajib ini harus diperhatikan niat dan tata caranya, Namanya juga mandi wajib, hukumnya pasti harus dikerjakan sebelum kita melakukan pekerjaan lain utamanya kewajiban beribadah ibarat sholat.


    Niat Mandi Wajib Dan Tata Caranya


    Niat mandi besar atau mandi jinabat itu ibarat niat niat dalam ibadah yang lain, yaitu di dalam hati, adapun kalimat dan arti Doa Niat Mandi Wajib niatnya yaitu sebagai berikut yang di kelompkan dalam tiga bahagian AN :


    1. Jika mandi besar disebabkan junub Mimpi basah, keluar mani, senggama maka niat mandi besarnya adalah

        BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBAR MINAL JANABATI FARDLON LILLAHI TA’ALA
    Artiya: Dengan menyebut nama Tuhan Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari jinabah, fardlu karena Tuhan Ta’ala

    2. Jika mandi besarnya disebabkan karena haid maka niat mandi besarnya adalah

        BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBAR MINAL HAIDI FARDLON LILLAHI TA’ALAArtinya Dengan menyebut nama Tuhan Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari haidl, fardlu karena Tuhan Ta’ala

    3. Jika mandi besarnya disebabab karena nifas, maka niyat mandi besarnya adalah

        BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITU GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBAR MINAN NIFASI FARDLON LILLAHI TA’ALA
    Artinya Dengan menyebut nama Tuhan Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari nifas, fardlu karena Tuhan Ta’ala


    Adapun Tata Cara Mandi Wajib Mandi Junub sebagai berikut:
    Dan untuk urutan tata cara mandi wajib yang benar menurut Islam yaitu sebagai berikut:

    1.  Dimulai dengan niat untuk menghilangkan hadas besar. Mulailah segala sesuatu hal dengan niat. Bisa bahasa Arab atau bahasa Indonesia saja.

    2.  Membersihkan telapak tangan sebanyak 3x lalu bercebok  Membersihkan      kemaluan serta kotoran yang ada disekitarnya hingga bersih dengan tangan kiri.

    3.  Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan tangan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

    4.    Berwudhu dengan wudhu yang tepat ibarat ketika hendak shalat

    5.    Mengguyur air pada kepala sebanyak 3 kali hingga hingga ke pangkal rambut

    6.    Mencuci kepala adegan kanan, lalu kepala adegan kiri

    7.    Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari

    8.    Mengguyur air pada seluruh tubuh dimulai dari sisi yang kanan, lalu kiri.

    Sudah jelaskan kan Sobat KAI bagaimana tata cara mandi wajib yang benar?
    Makara jangan salah lagi urutannya.

        Disunnahkan untuk melakukan mandi besar junub jinabat itu dengan tertib ibarat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam.

    Tambahan:

    Oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairiy

        Mandi wajib dimulai dengan mengucapkan bismillah, dan berniat untuk menghilangkan hadast besar,
        Membersihkan kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian bercebok.
        Membersihkan kemaluannya, dan kotoran yang ada di sekitarnya.
        Berwudhu ibarat halnya orang yang berwudhu hendak shalat, kecuali kedua kakinya. Namun boleh membersikan kedua kakinya ketika berwudhu atau mengakhirkannya sampa selesai mandi.
        Mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya itu kemudian membersihkan kepalanya dan kedua telinganya tiga kali dengan tiga cidukan.

    HR At-TIrmidzi Menyela pangkal rambut hanya khusus bagi laki-laki. Bagi perempuan, cukup dengan mengguyurkan pada kepalanya tiga kali guyuran, dan menggosoknya, tapi jangan mengurai membuka rambutnya yang dikepang, karena ada hadist yand diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah, Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya ini perempuan yang sangat besar lengan berkuasa jalinan rambut kepalanya, apakah saya boleh mengurainya ketika mandi junub (mandi besar)? Maka Rasulullah menjawab, Jangan, bersama-sama cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu tiga kali guyuran.

    Mengguyur tubuhnya yang sebelah kanan dengan air, membersihkannya dari atas hingga ke bawah, kemudian adegan yang kiri ibarat itu juga berturut-turut sambil membersihkan bagian-bagian yang tersembunyi pusar, bawah ketiak, lutut, dan lainnya, dan diriwatkan Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda:

    Barangsiapa yang meningggalkan adegan tubuh yang harus dialiri air dalam mandi janabat walaupun satu rambut untuk tidak dibasuh dengan air mandi itu, maka akan diperlakukan kepadanya demikian dan demikian dari api neraka “. HR. Abu Dawud

    Seorang Wanita Tidak Harus Melepas Jalinan atau Kepangan Rambutnya
    cara mandi wajib“Ya Rasulullah, saya yaitu wanita yang SANGAT KUAT kepangan/jalinan rambutku, apakah saya harus melepaskannya ketika mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak perlu, namun cukup bagimu untuk menuangkan air tiga tuangan ke atas kepalamu, kemudian engkau curahkan air ke tubuhmu, maka engkau suci.”  HR. Muslim no. 330

    Boleh Mandi Hanya Sekali Setelah Men-jima’i Beberapa Istri
    Anas bin Malik radiyallahu anhu berkata: “Adalah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mengelilingi istri-istrinya (menjima’i mereka secara bergantian -pent.) dengan satu kali mandi.”  HR. Muslim no. 706 dan mandinya disini dilakukan ketika selesai jima yang akhir.


    Demikianlah Ulsan Hasbi Htc Mengenai Mandi Wajib, biar artikel tata cara mandi wajib yang benar cara Mandi bersih diatas yaitu cara mandi wajib menurut islam, mampu bermanfaat bagi wanita dan pria yang Ingin lebih tahu mengenai Mandi wajib. Wassalam

    Sekian Sobat KAI biar bermanfaat Buat Kita Bersama.

    Informasi Baru Islam Tata Caranya & Niat Mandi Wajib

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»



    Hai Sobat  KAI pada kesempatan kali ini Kami akan membahas Mengenai Tata Cara Mandi Wajib & Niat Mandi Wajib


    Tata cara mandi wajib yang Betul selepas bersetubuh, haid, bersalin atau tidak , yaitu perkara yang mesti diketahui setiap orang muslim, dan tentu setiap muslim tidak sekedar mencukupkan dirinya dengan perkara yang sifatnya mubah, tapi berusaha beranjak kepada perkara-perkara sunnah/mustahab, yakni mencontoh apa yang biasa dikerjakan oleh rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

    Adapun perkara sunnah dalam tata cara mandi wajib atau mandi junub/besar yang sah tepat mampu diambil dari dua hadis yakni hadis aisyah dan hadis maimunah radiyallahu ‘anhuma.



    Niat Mandi Wajib Dan Tata Caranya terkadang kita menyepelehakan permasalahan yang satu ini mengenai Mandi wajib atau janabah, atau junub yaitu mandi yang dilakukan ketika kita mengalami mimpi lembap atau habis bersenggama. Nah, pada ketika ibarat inilah kita diwajibkan untuk mandi wajib janabah mandi besar. Namun tidak ibarat hanya dikala mandi biasa, mandi wajib ini harus diperhatikan niat dan tata caranya, Namanya juga mandi wajib, hukumnya pasti harus dikerjakan sebelum kita melakukan pekerjaan lain utamanya kewajiban beribadah ibarat sholat.


    Niat Mandi Wajib Dan Tata Caranya


    Niat mandi besar atau mandi jinabat itu ibarat niat niat dalam ibadah yang lain, yaitu di dalam hati, adapun kalimat dan arti Doa Niat Mandi Wajib niatnya yaitu sebagai berikut yang di kelompkan dalam tiga bahagian AN :


    1. Jika mandi besar disebabkan junub Mimpi basah, keluar mani, senggama maka niat mandi besarnya adalah

        BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBAR MINAL JANABATI FARDLON LILLAHI TA’ALA
    Artiya: Dengan menyebut nama Tuhan Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari jinabah, fardlu karena Tuhan Ta’ala

    2. Jika mandi besarnya disebabkan karena haid maka niat mandi besarnya adalah

        BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBAR MINAL HAIDI FARDLON LILLAHI TA’ALAArtinya Dengan menyebut nama Tuhan Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari haidl, fardlu karena Tuhan Ta’ala

    3. Jika mandi besarnya disebabab karena nifas, maka niyat mandi besarnya adalah

        BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITU GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBAR MINAN NIFASI FARDLON LILLAHI TA’ALA
    Artinya Dengan menyebut nama Tuhan Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari nifas, fardlu karena Tuhan Ta’ala


    Adapun Tata Cara Mandi Wajib Mandi Junub sebagai berikut:
    Dan untuk urutan tata cara mandi wajib yang benar menurut Islam yaitu sebagai berikut:

    1.  Dimulai dengan niat untuk menghilangkan hadas besar. Mulailah segala sesuatu hal dengan niat. Bisa bahasa Arab atau bahasa Indonesia saja.

    2.  Membersihkan telapak tangan sebanyak 3x lalu bercebok  Membersihkan      kemaluan serta kotoran yang ada disekitarnya hingga bersih dengan tangan kiri.

    3.  Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan tangan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

    4.    Berwudhu dengan wudhu yang tepat ibarat ketika hendak shalat

    5.    Mengguyur air pada kepala sebanyak 3 kali hingga hingga ke pangkal rambut

    6.    Mencuci kepala adegan kanan, lalu kepala adegan kiri

    7.    Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari

    8.    Mengguyur air pada seluruh tubuh dimulai dari sisi yang kanan, lalu kiri.

    Sudah jelaskan kan Sobat KAI bagaimana tata cara mandi wajib yang benar?
    Makara jangan salah lagi urutannya.

        Disunnahkan untuk melakukan mandi besar junub jinabat itu dengan tertib ibarat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam.

    Tambahan:

    Oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairiy

        Mandi wajib dimulai dengan mengucapkan bismillah, dan berniat untuk menghilangkan hadast besar,
        Membersihkan kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian bercebok.
        Membersihkan kemaluannya, dan kotoran yang ada di sekitarnya.
        Berwudhu ibarat halnya orang yang berwudhu hendak shalat, kecuali kedua kakinya. Namun boleh membersikan kedua kakinya ketika berwudhu atau mengakhirkannya sampa selesai mandi.
        Mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya itu kemudian membersihkan kepalanya dan kedua telinganya tiga kali dengan tiga cidukan.

    HR At-TIrmidzi Menyela pangkal rambut hanya khusus bagi laki-laki. Bagi perempuan, cukup dengan mengguyurkan pada kepalanya tiga kali guyuran, dan menggosoknya, tapi jangan mengurai membuka rambutnya yang dikepang, karena ada hadist yand diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah, Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya ini perempuan yang sangat besar lengan berkuasa jalinan rambut kepalanya, apakah saya boleh mengurainya ketika mandi junub (mandi besar)? Maka Rasulullah menjawab, Jangan, bersama-sama cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu tiga kali guyuran.

    Mengguyur tubuhnya yang sebelah kanan dengan air, membersihkannya dari atas hingga ke bawah, kemudian adegan yang kiri ibarat itu juga berturut-turut sambil membersihkan bagian-bagian yang tersembunyi pusar, bawah ketiak, lutut, dan lainnya, dan diriwatkan Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda:

    Barangsiapa yang meningggalkan adegan tubuh yang harus dialiri air dalam mandi janabat walaupun satu rambut untuk tidak dibasuh dengan air mandi itu, maka akan diperlakukan kepadanya demikian dan demikian dari api neraka “. HR. Abu Dawud

    Seorang Wanita Tidak Harus Melepas Jalinan atau Kepangan Rambutnya
    cara mandi wajib“Ya Rasulullah, saya yaitu wanita yang SANGAT KUAT kepangan/jalinan rambutku, apakah saya harus melepaskannya ketika mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak perlu, namun cukup bagimu untuk menuangkan air tiga tuangan ke atas kepalamu, kemudian engkau curahkan air ke tubuhmu, maka engkau suci.”  HR. Muslim no. 330

    Boleh Mandi Hanya Sekali Setelah Men-jima’i Beberapa Istri
    Anas bin Malik radiyallahu anhu berkata: “Adalah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mengelilingi istri-istrinya (menjima’i mereka secara bergantian -pent.) dengan satu kali mandi.”  HR. Muslim no. 706 dan mandinya disini dilakukan ketika selesai jima yang akhir.


    Demikianlah Ulsan Hasbi Htc Mengenai Mandi Wajib, biar artikel tata cara mandi wajib yang benar cara Mandi bersih diatas yaitu cara mandi wajib menurut islam, mampu bermanfaat bagi wanita dan pria yang Ingin lebih tahu mengenai Mandi wajib. Wassalam

    Sekian Sobat KAI biar bermanfaat Buat Kita Bersama.

    Hai Sobat KAI pada Kesempat Kali ini kita akan membahas mengenai Tata Cara Makan Menurut Islam  Mungkin Sobat tidak Asing Lagi Mengenai Cara Makan, Namun Jika Menurut Islam Atau Tata Cara Makan Yang Diajarkan Rasulullah
    SAW. Sobat Pasti Masih Bertanya-tanya dalam Hati Sobat Bagaimana Sih Cara Makan Yang  baik menurut Islam, Ataukah bagaiman Cara Rasul makan ?? Nah, Pada Kesempatan Kali Ini Kita Akan Mengupasnya Lebih Dalam Semua yang mungkin Belum Kita ketahui Bersama.

    Sebenarnya Islam telah datang sebagai Agama yang sempurna, yang tidak saja mengatur tata cara beribadah kepada Yang Mahakuasa (hubungan dengan Sang Pencipta), namun juga mengatur relasi dengan sesama, makhluk hidup lain, lingkungan, maupun relasi terhadap diri sendiri.

    Salah satu aturan dalam Islam yang berkenaan dengan relasi terhadap diri sendiri yakni adab/ Tata cara makan.

    Islam tidak menganggap dilema makan hanya sekedar dilema dunia, tetapi juga ada kaitannya dengan ibadah.
    Hal ini tergantung pada niat insan itu sendiri terhadap apa yang dilakukannya.
    Rasulullah SAW adalah suri tauladan umat dalam banyak sekali aspek kehidupan. Dalam hal kesehatan, ajaran-ajaran ia sudah banyak dibuktikan oleh penelitian-penelitian modern akan kebenaran manfaatnya yang besar apa yang Telah diajarkan Rasulullah SAW.
    Salah satu fatwa ia yakni adab-adab makan yang membawa kesehatan dan keberkahan sepanjang zaman.
    Agar kita tetap bisa menjaga adab dengan meneladani Rasul dalam urusan makan dan minum sekaligus menerima pahalanya, berikut diuraikan tata cara dan budaya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:

    1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

    Rasulullah SAW bersabda :
    “Barang siapa yang tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih/lemak (karena tidak dicuci) dan ketika bangkit pagi ia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”

    2. Tidak mencela makanan yang tidak disukai.

    Abu Hurairah ra. berkata : “Rasulullah SAW tidak pernah sedikit pun mencela makanan. Bila ia berselera, ia memakannya. Dan bila ia tidak menyukainya, maka ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari Muslim)

    Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada keluarganya (istrinya) ihwal lauk pauk. Mereka menjawab : “Kami hanya punya cuka”. Lalu ia memintanya dan makan dengannya, seraya bersabda : “Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka (al-khall), sebaik-baik lauk pauk yakni (yang mengandung) cuka.” (HR. Muslim)

    Penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang dalam bukunya ’The True Power of Water’ menemukan bahwa unsur air ternyata hidup. Air bisa merespon stimulus dari insan berupa lisan maupun tulisan.
    Ketika diucapkan kalimat yang baik atau ditempelkan goresan pena dengan kalimat positif, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang cantik dan bisa memiliki daya sembuh untuk banyak sekali penyakit.
    Sebaliknya, bila diucapkan maupun ditempelkan kalimat umpatan, celaan atau kalimat negatif lainnya, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang jelek dan bisa kuat negatif terhadap kesehatan.

    3. Diniatkan untuk beribadah kepada Yang Mahakuasa SWT.

    yaitu dengan makan dibutuhkan kebutuhan biologis akan makanan terpenuhi, yang nantinya akan diolah oleh badan menjadi energi, dan dengan energi badan yang dihasilkan dari makanan dan minuman tersebut kita gunakan untuk beribadah kepada Yang Mahakuasa SWT.
    Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Yang Mahakuasa kepada kita (qana’ah). Hal ini sesuai dengan hadist Nabi saw.

    “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setip orang yakni apa yang diniatkannya”. (HR. Bukhori).

    4. Membaca Basmalah dan Hamdalah.

    Memulainya dengan membaca “basmalah” serta doa. Hal ini merupakan manifestasi ibadah dalam bentuk yang paling minimal.
    Sebab bila tidak menyebut nama Allah, setan niscaya akan turut makan bersamanya, dan dengan demikian hilanglah nilai ibadahnya.
    Lantas apa bedanya dengan orang kafir? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:

    Dan dari Jabir berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang masuk dalam rumahnya dengan mengucapkan “bismillah” ketika masuk dan ketika hendak makan, maka setan berkata kepada temannya: ‘tiada daerah tinggal dan tiada episode makanan bagimu disini’. Sedangkan bila orang itu masuk tanpa menyebut nama Allah, maka setan akan berkata:’Kamu dapat bermalamdi rumah ini’. Kemudian bila waktu makan tidak menyebut nama Allah, setanpun berkata: ‘kamu dapat bermalam dan makan disini’.” (HR.Muslim).

    Rasulullah SAW bersabda : “Jika seseorang di antara kau hendak makan, maka sebutlah nama Yang Mahakuasa SWT. Dan bila ia lupa menyebut nama-Nya pada awalnya, maka bacalah, ’Bismillahi awwalahu wa akhirahu’ (Dengan menyebut nama Yang Mahakuasa SWT pada awalnya dan pada akhirnya).”(HR. Abu Dawud)

    Jika lupa di awal makan, maka ucapkanlah segera ketika teringat.
    Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah r.a, sebagai berikut: “Bila salah seorang diantara kau hendak makan maka ucapkanlah “bismillah”, namun bila ia lupa di awalnya, maka ucapkanlah ‘bismillahi awwaluhu wa akhiruhu’(dengan nama Yang Mahakuasa dari mula sampai akhir). (HR. Turmidzi)

    Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW tersenyum, ia menjelaskan ketika seorang Muslim tidak membaca Basmalah sebelum makan, maka syaitan akan ikut makan dengannya. Namun, ketika Muslim tersebut teringat dan menyebut nama Yang Mahakuasa SWT, maka syaitan pun pribadi memuntahkan makanan yang sudah dimakannya.

    Rasulullah SAW juga bersabda : “Sesungguhnya Yang Mahakuasa SWT meridhai seorang hamba yang ketika makan suatu makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka dia pun mengucapkan Alhamdulillah.” (HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

    5. Makan dengan tangan kanan.

    Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa ‘alaa aalihi wa sallam bersabda,“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022).

    Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri alasannya yakni syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019)

    Dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020)

    Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “karena tangan kiri digunakan untuk cebok dan memegang hal-hal yang najis dan ajun untuk makan, maka tidak sepantasnya salah satu tangan tersebut digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tangan yang lain.” (Kasyful Musykil, hal 2/594).

    6. Memakan makanan yang terdekat dahulu.

    Umar bin Abi Salamah ra. bercerita : “Saat saya belia, saya pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua tanganku seringkali mengacak-acak piring-piring. Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ’Nak, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat.” (HR. Bukhari)

    Dalam hadis lain juga dikatakan, “Sesungguhnya termasuk pemborosan (perbuatan yang berlebihan dan dimurkai Allah) bila kau makan apa saja yang kau (bernafsu) ingin memakannya”. (HR. Ibnu Majah)

    7. Tenang, perlahan dan tidak terburu buru.

    Janganbersikap rakus sehingga tampak verbal penuh dengan suapan, dan jangan meniup-niup makanan atau minuman yang menyampaikan sikap tidak sabar.

    Dari Ibnu Abas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum dengan sekali tegukan ibarat minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali tegukan. Ucapkanlah ‘bismillah’ bila kalian minum dan ‘alhamdulillah’ bila kalian selesai minum”. (HR. Turmidzi).

    Dalam hadis lain disebutkan: “Dari Abi Qatadah RA, sebetulnya Nabi SAW telah melarang bernafas dalam air minumannya “.(HR.Muttafaqun ALaihi)

    8. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.

    Dari Mikdam bin Ma’dikarib ra. menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Tiada memenuhi anak Adam suatu daerah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

    9. Mengambil makanan dan minuman secukupnya.

    sehingga bisa dihabiskan tanpa sisa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.Artinya :

    Dari Jabir katanya, Rosululloh saw. menyuruh membersihkan sisa makanan yang di samping piring maupun yang di jari, seraya bersabda : “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dibagian manakah makananmu yang mengandung berkah”. (HR. Muslim).

    10. Makan Sambil duduk, dan tidak berdiri.

    Hal ini seiring dengan hadis Nabi: Dari Qatadah, dari Anas dari Rasulullah SAW, bahwa sebetulnya Nabi SAW telah melarang orang minum sambil berdiri”. Lalu Qatadah bertanya kepada Anas: Kalau makan bagaimana? Ia pun menjawab: “Hal itu (makan dengan cara berdiri) lebih kedaluwarsa dan jahat”. (HR. Ahmad, Muslim dan Turmidzi)






    Oke, Sobat KAI udah jelaskan mengenai Tata Cara Makan Menururut Islam, Tinggal Bagaimana Kita Menerapkan dalam Kehidupan kita.
    Sekian Dulu Yah, Pembahasan Kali ini Kita akan bertemu pada kesempatan yang lain Nanti Isnya Allah.


    Informasi Baru Islam Tata Cara Makan Menurut Islam

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    Hai Sobat KAI pada Kesempat Kali ini kita akan membahas mengenai Tata Cara Makan Menurut Islam  Mungkin Sobat tidak Asing Lagi Mengenai Cara Makan, Namun Jika Menurut Islam Atau Tata Cara Makan Yang Diajarkan Rasulullah
    SAW. Sobat Pasti Masih Bertanya-tanya dalam Hati Sobat Bagaimana Sih Cara Makan Yang  baik menurut Islam, Ataukah bagaiman Cara Rasul makan ?? Nah, Pada Kesempatan Kali Ini Kita Akan Mengupasnya Lebih Dalam Semua yang mungkin Belum Kita ketahui Bersama.

    Sebenarnya Islam telah datang sebagai Agama yang sempurna, yang tidak saja mengatur tata cara beribadah kepada Yang Mahakuasa (hubungan dengan Sang Pencipta), namun juga mengatur relasi dengan sesama, makhluk hidup lain, lingkungan, maupun relasi terhadap diri sendiri.

    Salah satu aturan dalam Islam yang berkenaan dengan relasi terhadap diri sendiri yakni adab/ Tata cara makan.

    Islam tidak menganggap dilema makan hanya sekedar dilema dunia, tetapi juga ada kaitannya dengan ibadah.
    Hal ini tergantung pada niat insan itu sendiri terhadap apa yang dilakukannya.
    Rasulullah SAW adalah suri tauladan umat dalam banyak sekali aspek kehidupan. Dalam hal kesehatan, ajaran-ajaran ia sudah banyak dibuktikan oleh penelitian-penelitian modern akan kebenaran manfaatnya yang besar apa yang Telah diajarkan Rasulullah SAW.
    Salah satu fatwa ia yakni adab-adab makan yang membawa kesehatan dan keberkahan sepanjang zaman.
    Agar kita tetap bisa menjaga adab dengan meneladani Rasul dalam urusan makan dan minum sekaligus menerima pahalanya, berikut diuraikan tata cara dan budaya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:

    1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

    Rasulullah SAW bersabda :
    “Barang siapa yang tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih/lemak (karena tidak dicuci) dan ketika bangkit pagi ia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”

    2. Tidak mencela makanan yang tidak disukai.

    Abu Hurairah ra. berkata : “Rasulullah SAW tidak pernah sedikit pun mencela makanan. Bila ia berselera, ia memakannya. Dan bila ia tidak menyukainya, maka ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari Muslim)

    Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada keluarganya (istrinya) ihwal lauk pauk. Mereka menjawab : “Kami hanya punya cuka”. Lalu ia memintanya dan makan dengannya, seraya bersabda : “Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka (al-khall), sebaik-baik lauk pauk yakni (yang mengandung) cuka.” (HR. Muslim)

    Penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang dalam bukunya ’The True Power of Water’ menemukan bahwa unsur air ternyata hidup. Air bisa merespon stimulus dari insan berupa lisan maupun tulisan.
    Ketika diucapkan kalimat yang baik atau ditempelkan goresan pena dengan kalimat positif, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang cantik dan bisa memiliki daya sembuh untuk banyak sekali penyakit.
    Sebaliknya, bila diucapkan maupun ditempelkan kalimat umpatan, celaan atau kalimat negatif lainnya, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang jelek dan bisa kuat negatif terhadap kesehatan.

    3. Diniatkan untuk beribadah kepada Yang Mahakuasa SWT.

    yaitu dengan makan dibutuhkan kebutuhan biologis akan makanan terpenuhi, yang nantinya akan diolah oleh badan menjadi energi, dan dengan energi badan yang dihasilkan dari makanan dan minuman tersebut kita gunakan untuk beribadah kepada Yang Mahakuasa SWT.
    Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Yang Mahakuasa kepada kita (qana’ah). Hal ini sesuai dengan hadist Nabi saw.

    “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setip orang yakni apa yang diniatkannya”. (HR. Bukhori).

    4. Membaca Basmalah dan Hamdalah.

    Memulainya dengan membaca “basmalah” serta doa. Hal ini merupakan manifestasi ibadah dalam bentuk yang paling minimal.
    Sebab bila tidak menyebut nama Allah, setan niscaya akan turut makan bersamanya, dan dengan demikian hilanglah nilai ibadahnya.
    Lantas apa bedanya dengan orang kafir? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:

    Dan dari Jabir berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang masuk dalam rumahnya dengan mengucapkan “bismillah” ketika masuk dan ketika hendak makan, maka setan berkata kepada temannya: ‘tiada daerah tinggal dan tiada episode makanan bagimu disini’. Sedangkan bila orang itu masuk tanpa menyebut nama Allah, maka setan akan berkata:’Kamu dapat bermalamdi rumah ini’. Kemudian bila waktu makan tidak menyebut nama Allah, setanpun berkata: ‘kamu dapat bermalam dan makan disini’.” (HR.Muslim).

    Rasulullah SAW bersabda : “Jika seseorang di antara kau hendak makan, maka sebutlah nama Yang Mahakuasa SWT. Dan bila ia lupa menyebut nama-Nya pada awalnya, maka bacalah, ’Bismillahi awwalahu wa akhirahu’ (Dengan menyebut nama Yang Mahakuasa SWT pada awalnya dan pada akhirnya).”(HR. Abu Dawud)

    Jika lupa di awal makan, maka ucapkanlah segera ketika teringat.
    Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah r.a, sebagai berikut: “Bila salah seorang diantara kau hendak makan maka ucapkanlah “bismillah”, namun bila ia lupa di awalnya, maka ucapkanlah ‘bismillahi awwaluhu wa akhiruhu’(dengan nama Yang Mahakuasa dari mula sampai akhir). (HR. Turmidzi)

    Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW tersenyum, ia menjelaskan ketika seorang Muslim tidak membaca Basmalah sebelum makan, maka syaitan akan ikut makan dengannya. Namun, ketika Muslim tersebut teringat dan menyebut nama Yang Mahakuasa SWT, maka syaitan pun pribadi memuntahkan makanan yang sudah dimakannya.

    Rasulullah SAW juga bersabda : “Sesungguhnya Yang Mahakuasa SWT meridhai seorang hamba yang ketika makan suatu makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka dia pun mengucapkan Alhamdulillah.” (HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

    5. Makan dengan tangan kanan.

    Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa ‘alaa aalihi wa sallam bersabda,“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022).

    Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri alasannya yakni syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019)

    Dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020)

    Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “karena tangan kiri digunakan untuk cebok dan memegang hal-hal yang najis dan ajun untuk makan, maka tidak sepantasnya salah satu tangan tersebut digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tangan yang lain.” (Kasyful Musykil, hal 2/594).

    6. Memakan makanan yang terdekat dahulu.

    Umar bin Abi Salamah ra. bercerita : “Saat saya belia, saya pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua tanganku seringkali mengacak-acak piring-piring. Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ’Nak, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat.” (HR. Bukhari)

    Dalam hadis lain juga dikatakan, “Sesungguhnya termasuk pemborosan (perbuatan yang berlebihan dan dimurkai Allah) bila kau makan apa saja yang kau (bernafsu) ingin memakannya”. (HR. Ibnu Majah)

    7. Tenang, perlahan dan tidak terburu buru.

    Janganbersikap rakus sehingga tampak verbal penuh dengan suapan, dan jangan meniup-niup makanan atau minuman yang menyampaikan sikap tidak sabar.

    Dari Ibnu Abas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum dengan sekali tegukan ibarat minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali tegukan. Ucapkanlah ‘bismillah’ bila kalian minum dan ‘alhamdulillah’ bila kalian selesai minum”. (HR. Turmidzi).

    Dalam hadis lain disebutkan: “Dari Abi Qatadah RA, sebetulnya Nabi SAW telah melarang bernafas dalam air minumannya “.(HR.Muttafaqun ALaihi)

    8. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.

    Dari Mikdam bin Ma’dikarib ra. menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Tiada memenuhi anak Adam suatu daerah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

    9. Mengambil makanan dan minuman secukupnya.

    sehingga bisa dihabiskan tanpa sisa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.Artinya :

    Dari Jabir katanya, Rosululloh saw. menyuruh membersihkan sisa makanan yang di samping piring maupun yang di jari, seraya bersabda : “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dibagian manakah makananmu yang mengandung berkah”. (HR. Muslim).

    10. Makan Sambil duduk, dan tidak berdiri.

    Hal ini seiring dengan hadis Nabi: Dari Qatadah, dari Anas dari Rasulullah SAW, bahwa sebetulnya Nabi SAW telah melarang orang minum sambil berdiri”. Lalu Qatadah bertanya kepada Anas: Kalau makan bagaimana? Ia pun menjawab: “Hal itu (makan dengan cara berdiri) lebih kedaluwarsa dan jahat”. (HR. Ahmad, Muslim dan Turmidzi)






    Oke, Sobat KAI udah jelaskan mengenai Tata Cara Makan Menururut Islam, Tinggal Bagaimana Kita Menerapkan dalam Kehidupan kita.
    Sekian Dulu Yah, Pembahasan Kali ini Kita akan bertemu pada kesempatan yang lain Nanti Isnya Allah.


    Hai, Sobat KAI kita bertemu lagi di Pembahasan Kali ini Pada kesempatan ini kita akan mengupas lebih dalam mengenai Tata Cara Tidur Yang Baik Menurut Islam.

    “Seandainya insan tidak menerima nikmat tidur, boleh jadi insan akan menjadi makhluk yang paling buruk dan menderita di dunia”, benarkah demikian sahabat KAI?

    Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat tidur yaitu dengan cara menunaikannya dengan baik dan benar. Rasulullah Muhammad saw telah menawarkan banyak keterangan yang terperinci mengenai bagaimanakah seharusnya umat muslim memperlakukan nikmat tidur yang telah dianugerahkan Tuhan swt kepadanya. Rasulullah Muhammad saw senantiasa memperlakukan tidur dengan adat yang baik. Rasulullah Muhammad saw tidak pernah tidur, keduali dengan disertai adat tidur yang baik.

    Berikut beberapa adat tidur yang sesuai dengan anutan Islam sebagaimana yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah Muhammad saw:

    1. Berwudhu dikala akan tidur

        “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melaksanakan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

    2. Membaca doa akan tidur

        Rasulullah Muhammad saw jikalau mau tidur berdoa, “Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Tuhan saya mati dan hidup). Bila bangun tidur berdoa, “Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur.” (Segala puji bagi Tuhan yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)

        Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw bila berbaring di kawasan tidurnya, ia letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah saya dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” (HR. At Tarmidzi)

    3. Miring ke sebelah kanan

        Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kau hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) menyerupai kau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan“.

    4. Meletakkan tangan di bawah pipi sebelah kanan

        “Rasulullah Muhammad saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

    5. Membaca surat surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas

        Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di kawasan tidurnya, ia kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh tubuh yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bab depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” (HR. At Tarmidzi)

    6. Tidurlah di awal malam

        “Beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan simpulan malam.” (Mutafaq ’Alaih)

        “Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235))

    7. Tidak tidur dengan posisi telungkup (tengkurap)

        “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu yaitu posisi tidur yang dimurkai Tuhan Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

    8. Berdoa dikala bangun tidur

        “Rasulullah Muhammad saw jikalau mau tidur berdoa, “Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Tuhan saya mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, “Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur.” (Segala puji bagi Tuhan yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)

    9. Mengusap Bekas tidur

        “Maka bangunlah Rasulullah Muhammad saw dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya” (HR. Muslim No. 763 (182)

    10. Beristinsyaq, beristintsaar dan bersiwak dikala bangun tidur
    Beristinsyaq dan beristintsaar yaitu menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan kembali air dari hidung.

        “Apabila Rasulullah Muhammad saw bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)

    Demikianlah Rasulullah Muhammad saw menunaikan hak-hak tidur yang telah diberikan Tuhan swt kepadanya. Dan sebagai umat Islam yang beriman kepada Tuhan swt dan Rasulullah Muhammad saw, maka sudah sepatutnya umat muslim menunaikan nikmat tidur tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

    Bagaimana Sobat KAI udah jelaskan Mengenai Tata Cara Tidur Yang Baik Menurut Islam, ya kalau sudah Tinggal Bagaimana Sobat Menerapkannya Dalam Kehidupan Sobat.

    Semoga Artikel Kali Ini Bermanfaat Bagi Kita Semua.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Tidur yang Baik Menurut Islam

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    Hai, Sobat KAI kita bertemu lagi di Pembahasan Kali ini Pada kesempatan ini kita akan mengupas lebih dalam mengenai Tata Cara Tidur Yang Baik Menurut Islam.

    “Seandainya insan tidak menerima nikmat tidur, boleh jadi insan akan menjadi makhluk yang paling buruk dan menderita di dunia”, benarkah demikian sahabat KAI?

    Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat tidur yaitu dengan cara menunaikannya dengan baik dan benar. Rasulullah Muhammad saw telah menawarkan banyak keterangan yang terperinci mengenai bagaimanakah seharusnya umat muslim memperlakukan nikmat tidur yang telah dianugerahkan Tuhan swt kepadanya. Rasulullah Muhammad saw senantiasa memperlakukan tidur dengan adat yang baik. Rasulullah Muhammad saw tidak pernah tidur, keduali dengan disertai adat tidur yang baik.

    Berikut beberapa adat tidur yang sesuai dengan anutan Islam sebagaimana yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah Muhammad saw:

    1. Berwudhu dikala akan tidur

        “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melaksanakan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

    2. Membaca doa akan tidur

        Rasulullah Muhammad saw jikalau mau tidur berdoa, “Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Tuhan saya mati dan hidup). Bila bangun tidur berdoa, “Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur.” (Segala puji bagi Tuhan yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)

        Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw bila berbaring di kawasan tidurnya, ia letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah saya dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” (HR. At Tarmidzi)

    3. Miring ke sebelah kanan

        Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kau hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) menyerupai kau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan“.

    4. Meletakkan tangan di bawah pipi sebelah kanan

        “Rasulullah Muhammad saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

    5. Membaca surat surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas

        Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di kawasan tidurnya, ia kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh tubuh yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bab depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” (HR. At Tarmidzi)

    6. Tidurlah di awal malam

        “Beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan simpulan malam.” (Mutafaq ’Alaih)

        “Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235))

    7. Tidak tidur dengan posisi telungkup (tengkurap)

        “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu yaitu posisi tidur yang dimurkai Tuhan Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

    8. Berdoa dikala bangun tidur

        “Rasulullah Muhammad saw jikalau mau tidur berdoa, “Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa” (Dengan nama-Mu ya Tuhan saya mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, “Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur.” (Segala puji bagi Tuhan yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali.” (HR. Muslim)

    9. Mengusap Bekas tidur

        “Maka bangunlah Rasulullah Muhammad saw dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya” (HR. Muslim No. 763 (182)

    10. Beristinsyaq, beristintsaar dan bersiwak dikala bangun tidur
    Beristinsyaq dan beristintsaar yaitu menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan kembali air dari hidung.

        “Apabila Rasulullah Muhammad saw bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)

    Demikianlah Rasulullah Muhammad saw menunaikan hak-hak tidur yang telah diberikan Tuhan swt kepadanya. Dan sebagai umat Islam yang beriman kepada Tuhan swt dan Rasulullah Muhammad saw, maka sudah sepatutnya umat muslim menunaikan nikmat tidur tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

    Bagaimana Sobat KAI udah jelaskan Mengenai Tata Cara Tidur Yang Baik Menurut Islam, ya kalau sudah Tinggal Bagaimana Sobat Menerapkannya Dalam Kehidupan Sobat.

    Semoga Artikel Kali Ini Bermanfaat Bagi Kita Semua.


    Sobat KAI Siapa yang tidak merasa senang kalau sudah tiba waktu berbuka? Berbuka puasa merupakan hal yang sangat Ditunggu-tunggu  bagi orang yang berpuasa. Tetapi bagi sebagian orang, berbuka puasa tetap saja berbuka dengan nafsu. Ketika berbuka, eksklusif menyiapkan makanan yang banyak. Ada ini ada itu dan sebagainya. Ketika berbuka, seluruh hidangan eksklusif disantap hingga perut terasa kenyang. Kemudian setelah kenyang, terasa malas untuk melaksanakan shalat maghrib. Apalagi melaksanakan aktivitas ibadah yang lainnya menyerupai shalat tarawih. Hm.. Semoga tidak terjadi pada sahabat KAI

    Hal yang demikian merupakan cara berbuka yang tidak baik. Rasulullah mengajarkan berbuka puasa dengan sederhana dan penuh dengan adab. Bagaimana tata cara berbuka puasa yang baik dan benar sesuai dengan sunnah. Menurut Para Pakar Kesehatan dan Ahli Islam Berikut ialah Tata cara berbuka puasa yang telah DiRekomendasi.
    Intinya ialah berbuka puasa itu tidak sederhana dan tidak berlebihan. Cara berbuka ini dimulai dari mendengar azan hingga shalat. Berikut tata cara berbuka selengkapnya:

    1. Persiapan berbuka
    Tentunya saat hendak berbuka menyiapkan beberapa hidangan untuk buka. Tidak usah terlalu banyak, yang penting mampu membatalkan puasa dan mengisi perut yang kosong. Sunah Rasulullah ialah berbuka dengan yang manis. Maksud manis di sini ialah kurma (bukan Teh Botol ). Jika tidak ada kurma, tentu mampu diganti dengan makanan manis lainnya. Salah satu sunnahnya ialah dengan satu gelas air putih dan tiga buah kurma.

    2. Mendengarkan adzan hingga selesai
    Ketika adzan dikumandangkan, hendaknya kita mendengarkan adzannya dulu hingga selesai. Namun hal ini terkadang sulit untuk dilakukan. Mengingat adzan yang dilakukan oleh masyarakat kita ialah adzan yang cukup lama (keburu laper lagi dong ). Oleh karena itu, bagi para muadzin khusus pada bulan pahala sebaiknya melaksanakan adzan itu menyerupai dengan iqomah tetapi tidak terlalu cepat. Sambil mendengarkan adzan, tentunya kita juga menjawab adzan tersebut. Untungnya di kawasan saya adzannya tidak terlalu lama. Setelah mendengarkan adzan, kita baca do’a setelah adzan.

    3. Batalkan puasa dengan minum air dan makanan
    Membatalkan Puasa Dengan Segelas Air Putih Itu ialah Sunah Rasul, dan kalau berbuka Sebaiknya yang Manis Manis Didahulukan, kenapa Bukan Makanan yang mengenyankan Karena nanti kita tidak dapat melaksanakan aktifitas ibadah alasannya terlalu kenyan, jadi sebaiknya berbukalah dengan Sewajarnya.

    4. Shalat, berdo’a, kemudian makan lagi bila perlu
    Setelah berbuka, eksklusif kita ambil air wudhu kemudian shalat maghrib. Dilanjutkan dengan membaca wirid dan berdo’a.
    Setelah final shalat dan berdo’a, barulah kita lanjutkan dengan makan kalau masih merasa lapar. Tetapi tentunya jangan hingga kekenyangan pula, karena kita harus persiapkan kondisi yang nyaman untuk melaksanakan shalat tarawih.

    Itulah Tata cara berbuka puasa yang direkomendasikan Menurut Para Pakar Kesehatan dan Ahli Islam . Cara ini menurut saya tertib, menyenangkan, dan terasa berkah. Semoga Sobat KAI mampu mencoba dan mengikuti Tata cara berbuka puasa tersebut dan mencicipi kenikmatan serta keberkahannya. Jujur saja, saya mencicipi nikmat berbuka puasa dengan tata cara menyerupai di atas, Selamat Mencoba Sobat KAI.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Berbuka Puasa yang Benar

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»


    Sobat KAI Siapa yang tidak merasa senang kalau sudah tiba waktu berbuka? Berbuka puasa merupakan hal yang sangat Ditunggu-tunggu  bagi orang yang berpuasa. Tetapi bagi sebagian orang, berbuka puasa tetap saja berbuka dengan nafsu. Ketika berbuka, eksklusif menyiapkan makanan yang banyak. Ada ini ada itu dan sebagainya. Ketika berbuka, seluruh hidangan eksklusif disantap hingga perut terasa kenyang. Kemudian setelah kenyang, terasa malas untuk melaksanakan shalat maghrib. Apalagi melaksanakan aktivitas ibadah yang lainnya menyerupai shalat tarawih. Hm.. Semoga tidak terjadi pada sahabat KAI

    Hal yang demikian merupakan cara berbuka yang tidak baik. Rasulullah mengajarkan berbuka puasa dengan sederhana dan penuh dengan adab. Bagaimana tata cara berbuka puasa yang baik dan benar sesuai dengan sunnah. Menurut Para Pakar Kesehatan dan Ahli Islam Berikut ialah Tata cara berbuka puasa yang telah DiRekomendasi.
    Intinya ialah berbuka puasa itu tidak sederhana dan tidak berlebihan. Cara berbuka ini dimulai dari mendengar azan hingga shalat. Berikut tata cara berbuka selengkapnya:

    1. Persiapan berbuka
    Tentunya saat hendak berbuka menyiapkan beberapa hidangan untuk buka. Tidak usah terlalu banyak, yang penting mampu membatalkan puasa dan mengisi perut yang kosong. Sunah Rasulullah ialah berbuka dengan yang manis. Maksud manis di sini ialah kurma (bukan Teh Botol ). Jika tidak ada kurma, tentu mampu diganti dengan makanan manis lainnya. Salah satu sunnahnya ialah dengan satu gelas air putih dan tiga buah kurma.

    2. Mendengarkan adzan hingga selesai
    Ketika adzan dikumandangkan, hendaknya kita mendengarkan adzannya dulu hingga selesai. Namun hal ini terkadang sulit untuk dilakukan. Mengingat adzan yang dilakukan oleh masyarakat kita ialah adzan yang cukup lama (keburu laper lagi dong ). Oleh karena itu, bagi para muadzin khusus pada bulan pahala sebaiknya melaksanakan adzan itu menyerupai dengan iqomah tetapi tidak terlalu cepat. Sambil mendengarkan adzan, tentunya kita juga menjawab adzan tersebut. Untungnya di kawasan saya adzannya tidak terlalu lama. Setelah mendengarkan adzan, kita baca do’a setelah adzan.

    3. Batalkan puasa dengan minum air dan makanan
    Membatalkan Puasa Dengan Segelas Air Putih Itu ialah Sunah Rasul, dan kalau berbuka Sebaiknya yang Manis Manis Didahulukan, kenapa Bukan Makanan yang mengenyankan Karena nanti kita tidak dapat melaksanakan aktifitas ibadah alasannya terlalu kenyan, jadi sebaiknya berbukalah dengan Sewajarnya.

    4. Shalat, berdo’a, kemudian makan lagi bila perlu
    Setelah berbuka, eksklusif kita ambil air wudhu kemudian shalat maghrib. Dilanjutkan dengan membaca wirid dan berdo’a.
    Setelah final shalat dan berdo’a, barulah kita lanjutkan dengan makan kalau masih merasa lapar. Tetapi tentunya jangan hingga kekenyangan pula, karena kita harus persiapkan kondisi yang nyaman untuk melaksanakan shalat tarawih.

    Itulah Tata cara berbuka puasa yang direkomendasikan Menurut Para Pakar Kesehatan dan Ahli Islam . Cara ini menurut saya tertib, menyenangkan, dan terasa berkah. Semoga Sobat KAI mampu mencoba dan mengikuti Tata cara berbuka puasa tersebut dan mencicipi kenikmatan serta keberkahannya. Jujur saja, saya mencicipi nikmat berbuka puasa dengan tata cara menyerupai di atas, Selamat Mencoba Sobat KAI.


    Tahukah Sobat  KAI budpekerti berbuka puasa? Puasa yaitu sebuah syariat ibadah yang dikenal dalamagama : Islam, Kristen, maupun Yahudi. Tentu saja, masing-masing agama tersebut memiliki tuntunan yang berbeda satu sama lain. Dan di dalam agama Islam, tuntunannya yaitu Rasulullah saw. Beliau memperlihatkan pola yang Di dalam ibadah istimewa tersebut, termasuk budpekerti berbuka puasa.
    Sobat KAI Bukan saja dalam tata-cara, syarat rukun, maupun hukum-hukum yang terkait dengan ibadah puasa, bahkan dalam berbuka puasa pun, Rasulullah memperlihatkan tuntunan. Sebagai umat yang setia meneladani beliau, sudah sepantasnya kita memalsukan adab-adab berbuka puasa tersebut.

    Adab Berbuka Puasa

    Hadis-hadits yang bersumber pribadi dari Rasulullah banyak mengungkap perihal bagaimana adab-adab dia dalam berbuka puasa. Adab-adab berbuka puasainimemiliki muatan pesan tersirat yang humanis. Beberapa di antara budpekerti berbuka puasa adalah:

    1. Menyegerakan Berbuka Begitu Masuk Waktu Maghrib
    Apabila Rasulullah berpuasa dan telah masuk waktu maghrib, maka budpekerti berbuka puasa dia yaitu menyegerakan berbuka puasa dengan takjil atau ifthar. Bahkan dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Sahl bin Sa`ad, Rasulullah saw. bersabda:
    "Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa." (Bukhari dan Muslim).
    Dalam riwayat lain yang bersumber dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda:
     "Agama ini akan senantiasa menang selama insan menyegerakan berbuka, alasannya orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya."
    Pernah hidup sekalangan andal bidah yang berpendapat bahwa melewatkan berbuka puasa mampu menambah pahala. Pendapat semacam ini terperinci sangat bertentangan dengan fatwa Rasulullah yang tercantum dalam hadis-hadis masyhur.
    At-Tibi dalam Syarh Miskhat al-Masabih berpendapat bahwa pesan tersirat dari tuntunan ini adalah, dengan mendahulukan berbuka puasa akan membuat ibadah shalat maghrib lebih khusyuk. Selain itu juga lebih menyehatkan bagi badan kita.

    2. Berbuka Puasa dengan Rutab, Tamar, atau Air

    Berbuka puasa yang disegerakan di atas yaitu ifthar atau takjil, bukan makan berat menyerupai yang dilakukan oleh sebagian orang yang kurang memahami makna hadis ini.

    Adapun Rasulullah, dalam sebuah hadis hasan yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi, "berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum shalat. Sekiranya tidak ada rutab maka dengan beberapa biji tamar, dan apabila tidak ada tamar maka dia minum beberapa teguk air."
    Perlu dijelaskan di sini bahwa rutab yaitu kurma yang telah masak dan masih basah. Daging buahnya lembut dan manis. Sedangkan tamar yaitu kurma masak yang telah kering.
    Ilmu pengetahuan modern mengungkap diam-diam pesan tersirat berbuka puasa dengan kurma tersebut, di mana kandungan zat dalam buah kurma dinilai paling cepat diserap badan dan memulihkan stamina selepas berpuasa sehari penuh.

    3. Berdoa Ketika Berbuka

    Rasulullah, dalam hadis hasan riwayat Abu Daud, selalu berdoa ketika berbuka puasa dengan mengucapkan: "Dzahaba ad-dhâma'u wabtalati al-'urûqu watsabbati al-ajru insyaAllah." Yang artinya: Telah hilang dahaga dan telah lembap urat-urat, dan telah ditetapkan pahala. Insya Allah."
    Selain itu, kita mampu berdoa apa saja alasannya doa orang yang berpuasa puasa termasuk salah satu jenis doa yang mustajab. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang berpuasa, doa orang yang teraniaya, dan doa musafir."
    Abdullah bin Amr bin al-'Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak."

    4. Tidak Berlebih-lebihan Makan ketika Berbuka

    Rasulullah memberi gambaran yang terperinci perihal proporsi makan yang tidak berlebihan, yaitu dengan sepertiganya berisi makanan, sepertiganya berisi air, dan sepertiganya lagi berisi udara.

    Ini selaras dengan firman Tuhan dalam surat Al 'Araf: 31, yang artinya: "Dan makan dan minumlah kamu, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak suka orang yang berlebih-lebihan."

    5. Memberi Makan Orang yang Puasa

    Salah satu budpekerti yang tak kalah penting diajarkan Rasulullah saw. yaitu memberi makan orang yang berpuasa dan akan berbuka puasa. Begitu besarnya kemuliaan yang didapat sehingga orang tersebut akan menerima pahala sebesar pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

    Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa memberi makan seorang yang berpuasa, ia menerima pahala menyerupai orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya." (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    Jika seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa diundang berbuka puasa, wajib hukumnya untuk memenuhi permintaan tersebut. Orang yang diundang ini juga disarankan merndoakan kebaikan kepada si pemberi makan.

    "Orang-orang yang baik telah makan makananmu dan para malaikat telah bershalawat kepadamu serta orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu." (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An Nasa`i, dan yang lainnya)

    "Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi makan kepadaku dan berilah minum orang yang telah memberi minum kepadaku." (HR Muslim dari Al Miqdad)

    6. Saling Mendoakan Orang yang Memberi Jamuan Buka Puasa

    Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Anas r.a., diceritakan bahwa Rasulullah datang kepada Saad bin Ubadah, dan dia menghidangkan roti dan minyak. Maka, Rasulullah makan bersamanya dan Rasulullah bersabda: "Telah berbuka puasa di sisi kau mereka yang berpuasa, telah makan makananmu mereka yang baik dan telah berselawat ke atas kau para malaikat.

    7. Sebelum makan, Ucapkan 'Bismillah'

    Adab berbuka puasa berupa ucapan basmallah sebelum makan dilakukan supaya tambah barokah. Hal inilah yang diatur dalam Islam supaya makan kita, termasuk ketika berbuka puasa menjadi barokah, dalam artian menuai kebaikan yang banyak.

    "Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Tuhan Ta'ala (yaitu membaca 'bismillah'). Jika ia lupa untuk menyebut nama Tuhan Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Tuhan pada awal dan akhirnya)." (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

    Para teman Nabi Muhammad berkata: "Wahai Rasulullah, bergotong-royong kami makan dan tidak merasa kenyang? Beliau bersabda: Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri. Mereka menjawab, Ya. Beliau bersabda: Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." (H.R. Abu Daud).

    Hadis tersebut mengisyaratkan supaya makan penuh dengan keberkahan, termasuk ketika berbuka puasa, ucapkanlah bismillah dan keberkahan dapat bertambah dengan makan bahu-membahu atau berjama'ah.

    Demikian Sobat KAI sebagian dari adab-adab berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah saw. Semoga kita dimudahkan dalam meneladani budpekerti berbuka puasa beliau. Amin.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Berbuka Puasa Sesuai Sunah Rasulullah Saw.

    Posted at  20.16  |  in  TataCara  |  Read More»


    Tahukah Sobat  KAI budpekerti berbuka puasa? Puasa yaitu sebuah syariat ibadah yang dikenal dalamagama : Islam, Kristen, maupun Yahudi. Tentu saja, masing-masing agama tersebut memiliki tuntunan yang berbeda satu sama lain. Dan di dalam agama Islam, tuntunannya yaitu Rasulullah saw. Beliau memperlihatkan pola yang Di dalam ibadah istimewa tersebut, termasuk budpekerti berbuka puasa.
    Sobat KAI Bukan saja dalam tata-cara, syarat rukun, maupun hukum-hukum yang terkait dengan ibadah puasa, bahkan dalam berbuka puasa pun, Rasulullah memperlihatkan tuntunan. Sebagai umat yang setia meneladani beliau, sudah sepantasnya kita memalsukan adab-adab berbuka puasa tersebut.

    Adab Berbuka Puasa

    Hadis-hadits yang bersumber pribadi dari Rasulullah banyak mengungkap perihal bagaimana adab-adab dia dalam berbuka puasa. Adab-adab berbuka puasainimemiliki muatan pesan tersirat yang humanis. Beberapa di antara budpekerti berbuka puasa adalah:

    1. Menyegerakan Berbuka Begitu Masuk Waktu Maghrib
    Apabila Rasulullah berpuasa dan telah masuk waktu maghrib, maka budpekerti berbuka puasa dia yaitu menyegerakan berbuka puasa dengan takjil atau ifthar. Bahkan dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Sahl bin Sa`ad, Rasulullah saw. bersabda:
    "Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa." (Bukhari dan Muslim).
    Dalam riwayat lain yang bersumber dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda:
     "Agama ini akan senantiasa menang selama insan menyegerakan berbuka, alasannya orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya."
    Pernah hidup sekalangan andal bidah yang berpendapat bahwa melewatkan berbuka puasa mampu menambah pahala. Pendapat semacam ini terperinci sangat bertentangan dengan fatwa Rasulullah yang tercantum dalam hadis-hadis masyhur.
    At-Tibi dalam Syarh Miskhat al-Masabih berpendapat bahwa pesan tersirat dari tuntunan ini adalah, dengan mendahulukan berbuka puasa akan membuat ibadah shalat maghrib lebih khusyuk. Selain itu juga lebih menyehatkan bagi badan kita.

    2. Berbuka Puasa dengan Rutab, Tamar, atau Air

    Berbuka puasa yang disegerakan di atas yaitu ifthar atau takjil, bukan makan berat menyerupai yang dilakukan oleh sebagian orang yang kurang memahami makna hadis ini.

    Adapun Rasulullah, dalam sebuah hadis hasan yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi, "berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum shalat. Sekiranya tidak ada rutab maka dengan beberapa biji tamar, dan apabila tidak ada tamar maka dia minum beberapa teguk air."
    Perlu dijelaskan di sini bahwa rutab yaitu kurma yang telah masak dan masih basah. Daging buahnya lembut dan manis. Sedangkan tamar yaitu kurma masak yang telah kering.
    Ilmu pengetahuan modern mengungkap diam-diam pesan tersirat berbuka puasa dengan kurma tersebut, di mana kandungan zat dalam buah kurma dinilai paling cepat diserap badan dan memulihkan stamina selepas berpuasa sehari penuh.

    3. Berdoa Ketika Berbuka

    Rasulullah, dalam hadis hasan riwayat Abu Daud, selalu berdoa ketika berbuka puasa dengan mengucapkan: "Dzahaba ad-dhâma'u wabtalati al-'urûqu watsabbati al-ajru insyaAllah." Yang artinya: Telah hilang dahaga dan telah lembap urat-urat, dan telah ditetapkan pahala. Insya Allah."
    Selain itu, kita mampu berdoa apa saja alasannya doa orang yang berpuasa puasa termasuk salah satu jenis doa yang mustajab. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang berpuasa, doa orang yang teraniaya, dan doa musafir."
    Abdullah bin Amr bin al-'Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak."

    4. Tidak Berlebih-lebihan Makan ketika Berbuka

    Rasulullah memberi gambaran yang terperinci perihal proporsi makan yang tidak berlebihan, yaitu dengan sepertiganya berisi makanan, sepertiganya berisi air, dan sepertiganya lagi berisi udara.

    Ini selaras dengan firman Tuhan dalam surat Al 'Araf: 31, yang artinya: "Dan makan dan minumlah kamu, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak suka orang yang berlebih-lebihan."

    5. Memberi Makan Orang yang Puasa

    Salah satu budpekerti yang tak kalah penting diajarkan Rasulullah saw. yaitu memberi makan orang yang berpuasa dan akan berbuka puasa. Begitu besarnya kemuliaan yang didapat sehingga orang tersebut akan menerima pahala sebesar pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

    Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa memberi makan seorang yang berpuasa, ia menerima pahala menyerupai orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya." (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    Jika seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa diundang berbuka puasa, wajib hukumnya untuk memenuhi permintaan tersebut. Orang yang diundang ini juga disarankan merndoakan kebaikan kepada si pemberi makan.

    "Orang-orang yang baik telah makan makananmu dan para malaikat telah bershalawat kepadamu serta orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu." (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An Nasa`i, dan yang lainnya)

    "Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi makan kepadaku dan berilah minum orang yang telah memberi minum kepadaku." (HR Muslim dari Al Miqdad)

    6. Saling Mendoakan Orang yang Memberi Jamuan Buka Puasa

    Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Anas r.a., diceritakan bahwa Rasulullah datang kepada Saad bin Ubadah, dan dia menghidangkan roti dan minyak. Maka, Rasulullah makan bersamanya dan Rasulullah bersabda: "Telah berbuka puasa di sisi kau mereka yang berpuasa, telah makan makananmu mereka yang baik dan telah berselawat ke atas kau para malaikat.

    7. Sebelum makan, Ucapkan 'Bismillah'

    Adab berbuka puasa berupa ucapan basmallah sebelum makan dilakukan supaya tambah barokah. Hal inilah yang diatur dalam Islam supaya makan kita, termasuk ketika berbuka puasa menjadi barokah, dalam artian menuai kebaikan yang banyak.

    "Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Tuhan Ta'ala (yaitu membaca 'bismillah'). Jika ia lupa untuk menyebut nama Tuhan Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Tuhan pada awal dan akhirnya)." (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

    Para teman Nabi Muhammad berkata: "Wahai Rasulullah, bergotong-royong kami makan dan tidak merasa kenyang? Beliau bersabda: Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri. Mereka menjawab, Ya. Beliau bersabda: Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." (H.R. Abu Daud).

    Hadis tersebut mengisyaratkan supaya makan penuh dengan keberkahan, termasuk ketika berbuka puasa, ucapkanlah bismillah dan keberkahan dapat bertambah dengan makan bahu-membahu atau berjama'ah.

    Demikian Sobat KAI sebagian dari adab-adab berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah saw. Semoga kita dimudahkan dalam meneladani budpekerti berbuka puasa beliau. Amin.

    Asslamualaikum Wr. Wb. Apakabar Sobat KAI pada Kesempatan kali ini kita akan Mengupas Tentang Tata Cara Wudhu, Jika Kita Ingin Berwudhu Pertama-tama Kita Harus Bersihkan Diri kita Dari najis dan Hadats. Sebelum shalat kita wajib berwudhu, tanpa berwudhu shalat kita tidak sah.


    لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

    “Allah tidak mendapatkan shalat salah seorang di antara kau hingga beliau berwudhu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)


    Berikut ini urutan-urutan langkah atau tata cara melaksanakan wudhu

    1. Mencuci / membasuh kedua telapak tangan tiga kali sambil membaca basmalah.
    "Bismilaahir rahmanir rahiim"

    2. Membersihkan verbal dan lubang hidung, masing-masing sebanyak tiga kali.

    3. Membasuh muka sebanyak tiga kali sambil mengucapkan doa niat wudhu.

    Bacaan Doa Niat Wudhu
    “Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta’aalaa”

    Arti Doa Niat Wudhu
    “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu alasannya Tuhan semata.”

    4. Mencuci / membersihkan ajudan dan kiri, mulai dari ujung jari hingga pangkal / batas siku, masing-masing sebanyak tiga kali.

    5. Mengusap kepala mulai dari dahi hingga batas rambut bab atas sebanyak tiga kali.

    6. Menyapu / membersihkan kedua indera pendengaran mulai bab daun indera pendengaran bawah dan menuju bab atas, sebanyak tiga kali.

    7. Mencuci / membersihkan kaki kanan dan kiri, mulai dari ujung jari merata hingga mata kaki, masing-masing sebanyak tiga kali.

    8. Membaca doa setelah wudhu.

    Bacaan Doa Setelah Wudhu
    “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j’alnii minat tawwabiina, waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash shalihiina.”

    Arti Doa Setelah Wudhu
    “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan dan tidak ada yang menyekutukanNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad yakni hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah saya orang yang jago bertobat, jadikanlah saya orang yang suci, dan jadikanlah saya dari golongan orang-orang yang saleh.”

    Didalam Mengerjakan Wudhu DiAtas Wajib dikerjakan secara Teratur(berurutan) Artinya Mana yang harus didahulukan Pertama Dan  harus tamat Diakhiri, Oke Sobat KAI sekian Dan Terimakasih Wasslamualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Wudhu yang baik dan benar

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    Asslamualaikum Wr. Wb. Apakabar Sobat KAI pada Kesempatan kali ini kita akan Mengupas Tentang Tata Cara Wudhu, Jika Kita Ingin Berwudhu Pertama-tama Kita Harus Bersihkan Diri kita Dari najis dan Hadats. Sebelum shalat kita wajib berwudhu, tanpa berwudhu shalat kita tidak sah.


    لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

    “Allah tidak mendapatkan shalat salah seorang di antara kau hingga beliau berwudhu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)


    Berikut ini urutan-urutan langkah atau tata cara melaksanakan wudhu

    1. Mencuci / membasuh kedua telapak tangan tiga kali sambil membaca basmalah.
    "Bismilaahir rahmanir rahiim"

    2. Membersihkan verbal dan lubang hidung, masing-masing sebanyak tiga kali.

    3. Membasuh muka sebanyak tiga kali sambil mengucapkan doa niat wudhu.

    Bacaan Doa Niat Wudhu
    “Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta’aalaa”

    Arti Doa Niat Wudhu
    “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu alasannya Tuhan semata.”

    4. Mencuci / membersihkan ajudan dan kiri, mulai dari ujung jari hingga pangkal / batas siku, masing-masing sebanyak tiga kali.

    5. Mengusap kepala mulai dari dahi hingga batas rambut bab atas sebanyak tiga kali.

    6. Menyapu / membersihkan kedua indera pendengaran mulai bab daun indera pendengaran bawah dan menuju bab atas, sebanyak tiga kali.

    7. Mencuci / membersihkan kaki kanan dan kiri, mulai dari ujung jari merata hingga mata kaki, masing-masing sebanyak tiga kali.

    8. Membaca doa setelah wudhu.

    Bacaan Doa Setelah Wudhu
    “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j’alnii minat tawwabiina, waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash shalihiina.”

    Arti Doa Setelah Wudhu
    “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Tuhan dan tidak ada yang menyekutukanNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad yakni hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah saya orang yang jago bertobat, jadikanlah saya orang yang suci, dan jadikanlah saya dari golongan orang-orang yang saleh.”

    Didalam Mengerjakan Wudhu DiAtas Wajib dikerjakan secara Teratur(berurutan) Artinya Mana yang harus didahulukan Pertama Dan  harus tamat Diakhiri, Oke Sobat KAI sekian Dan Terimakasih Wasslamualaikum Wr. Wb.


    Assalamualaikum Wr. Wb

    Pernah gak Sobat KAI datang ke musholla atau masjid waktu sholat jamaahnya sudah mulai? nah, sayang kan kalo kita sholat sendiri aja, padahal sholat jamaah itu pahalanya sama dengan 27 Derajat sholat sendiri. Trus gimana kita mampu ikutan sholat Jamaah yang sudah berlangsung ??? Ini disebut makmum masbuk atau makmum yang ketinggalan. yang harus kita lakukan ialah :

    • Jika sholat gres di rakaat pertama, dan imam belum rukuk, maka kita mampu pribadi mengikuti imam setelah takbiratulihrom,sampai selesai tanpa menambah apapun.


    • Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat pertama, maka kita juga mampu pribadi mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 1 rakaat lagi setelah imam salam.


    • Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat kedua, maka kita juga mampu pribadi mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 2 rakaat lagi setelah imam salam. 2 rakaat terakhir ya..


    • Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat ke tiga, maka kita juga mampu pribadi mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 3 rakaat lagi setelah imam salam, hitung rakaat terakhir saja.

    Contoh : kalo imam sholat ashar sudah selesai rukuk rakaat ke tiga, kita gres ikut jamaah, maka kita takbiratul ihrom, lalu pribadi mengikuti gerakan imam, setelah sholat jamaah selesai (imam mengucap salam) kita berdiri untuk melanjutkan
    sholat dengan menambah 3 rakaat lagi, yaitu rakaat ke 2, lalu ke 3 dan rakaat terakhir. Walaupun jamaah tadi sudah selesai, kita masih menerima kebaikan sholat jamaah sama menyerupai mereka.

    Penjelasan Tambahan!!!

    Apabila seorang makmum terlambat (masbuk) maka kewajibannya ialah menyempurnakan sholatnya dengan menambah raka’at yang kurang. Karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan apa yang kalian luput maka sempurnakanlah.”
     (Hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Sabda dia “sempurnakanlah” artinya lengkapi apa yang kurang dengan menambah kekurangannya, bukan dengan cara memulai dari awal raka’at.

    Misal masbuk pada shalat isya (4 rakaat) dan tertinggal 3 rakaat. Setelah imam salam, kita berdiri dan tentunya melengkapi 3 rakaat lagi. Urutannya  adalah :

    – Rakaat pertama : melaksanakan tasyahud awal
    – Rakaat kedua : tidak ada tasyahud
    – Rakaat ketiga : tasyahud simpulan dan duduk tawarruk
    Demikianlah Sobat KAI Tata Cara Masbuk, Semoga dapat bermanfaat bagi kita Semua Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Masbuk

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»


    Assalamualaikum Wr. Wb

    Pernah gak Sobat KAI datang ke musholla atau masjid waktu sholat jamaahnya sudah mulai? nah, sayang kan kalo kita sholat sendiri aja, padahal sholat jamaah itu pahalanya sama dengan 27 Derajat sholat sendiri. Trus gimana kita mampu ikutan sholat Jamaah yang sudah berlangsung ??? Ini disebut makmum masbuk atau makmum yang ketinggalan. yang harus kita lakukan ialah :

    • Jika sholat gres di rakaat pertama, dan imam belum rukuk, maka kita mampu pribadi mengikuti imam setelah takbiratulihrom,sampai selesai tanpa menambah apapun.


    • Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat pertama, maka kita juga mampu pribadi mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 1 rakaat lagi setelah imam salam.


    • Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat kedua, maka kita juga mampu pribadi mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 2 rakaat lagi setelah imam salam. 2 rakaat terakhir ya..


    • Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat ke tiga, maka kita juga mampu pribadi mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 3 rakaat lagi setelah imam salam, hitung rakaat terakhir saja.

    Contoh : kalo imam sholat ashar sudah selesai rukuk rakaat ke tiga, kita gres ikut jamaah, maka kita takbiratul ihrom, lalu pribadi mengikuti gerakan imam, setelah sholat jamaah selesai (imam mengucap salam) kita berdiri untuk melanjutkan
    sholat dengan menambah 3 rakaat lagi, yaitu rakaat ke 2, lalu ke 3 dan rakaat terakhir. Walaupun jamaah tadi sudah selesai, kita masih menerima kebaikan sholat jamaah sama menyerupai mereka.

    Penjelasan Tambahan!!!

    Apabila seorang makmum terlambat (masbuk) maka kewajibannya ialah menyempurnakan sholatnya dengan menambah raka’at yang kurang. Karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan apa yang kalian luput maka sempurnakanlah.”
     (Hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Sabda dia “sempurnakanlah” artinya lengkapi apa yang kurang dengan menambah kekurangannya, bukan dengan cara memulai dari awal raka’at.

    Misal masbuk pada shalat isya (4 rakaat) dan tertinggal 3 rakaat. Setelah imam salam, kita berdiri dan tentunya melengkapi 3 rakaat lagi. Urutannya  adalah :

    – Rakaat pertama : melaksanakan tasyahud awal
    – Rakaat kedua : tidak ada tasyahud
    – Rakaat ketiga : tasyahud simpulan dan duduk tawarruk
    Demikianlah Sobat KAI Tata Cara Masbuk, Semoga dapat bermanfaat bagi kita Semua Wassalamualaikum Wr. Wb.

    AsslamualaikumWr. Wb. Semoga Sobat Diberikan Kemudahan Dalam Melaksanakan Ibadah Kepada Tuhan SWT. Pada kali ini kita membahas mengenai tata cara Tayamum.
    tayamum dalam ISLAM itu mudah, alasannya yaitu bahwasanya Tuhan sama sekali tidak ingin memberatkan hamba-Nya. Dan itulah diantara pesan yang tersirat tayyamum, disaat kita tidak menemukan air untuk bersuci atau alasannya yaitu kedaan yang tidak memungkinkan untuk bersentuhan dengan air (PenyakitKhusus).

    Tayamum yaitu untuk menyucikan diri kita dan semoga kita bersyukur dengan syari’at ini. Sehingga semakin nampak kepada kita bahwa Setelah menyebutkan syariat bersuci, Tuhan Telah Menjelaskan Cara Bersuci tersebut dengan firman-Nya:


    وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
    فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

    Artinya:
    “Dan kalau kau sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari daerah buang air atau berafiliasi tubuh dengan perempuan, lalu kau tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (Qs. Al Maidah: 6).

    Namun bagaimana dan menyerupai apa Tayamum yang benar sesuai sunnah Nabi? Berikut tata cara tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijelaskan dalam hadits ‘Ammar bin Yasirradhiyallahu ‘anhu:

    بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian saya mengalami junub dan saya tidak menemukan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian saya ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya menyerupai ini”.  Kemudian dia memukulkan telapak tangannya ke permukaan tanah sekali, lalu meniupnya. Kemudian dia mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

    Dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori:

    وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

    “Dan dia mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.(Muttafaq ‘alaihi)

    Makara Berdasarkan hadits di atas, kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum Rasulullah yaitu sebagai berikut:


    • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali  kemudian meniupnya.
    • Mengusap punggung telapak ajun dengan tangan kiri dan sebaliknya.
    • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
    • Semua usapan dilakukan sekali.


    • Bagian tangan yang diusap hanya hingga pergelangan tangan saja


    • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil


    • Tidak wajibnya tertib atau berurutan ketika tayammu.


    Sekian Dulu Sobat KAI Penjelasan Kali Ini Semoga Dapat Menambah Pemahaman Kita Lebih Jauh Mengenai Islam.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Tayamum Yang Benar Sesuai Contoh Rasulullah Saw

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    AsslamualaikumWr. Wb. Semoga Sobat Diberikan Kemudahan Dalam Melaksanakan Ibadah Kepada Tuhan SWT. Pada kali ini kita membahas mengenai tata cara Tayamum.
    tayamum dalam ISLAM itu mudah, alasannya yaitu bahwasanya Tuhan sama sekali tidak ingin memberatkan hamba-Nya. Dan itulah diantara pesan yang tersirat tayyamum, disaat kita tidak menemukan air untuk bersuci atau alasannya yaitu kedaan yang tidak memungkinkan untuk bersentuhan dengan air (PenyakitKhusus).

    Tayamum yaitu untuk menyucikan diri kita dan semoga kita bersyukur dengan syari’at ini. Sehingga semakin nampak kepada kita bahwa Setelah menyebutkan syariat bersuci, Tuhan Telah Menjelaskan Cara Bersuci tersebut dengan firman-Nya:


    وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
    فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

    Artinya:
    “Dan kalau kau sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari daerah buang air atau berafiliasi tubuh dengan perempuan, lalu kau tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (Qs. Al Maidah: 6).

    Namun bagaimana dan menyerupai apa Tayamum yang benar sesuai sunnah Nabi? Berikut tata cara tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijelaskan dalam hadits ‘Ammar bin Yasirradhiyallahu ‘anhu:

    بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian saya mengalami junub dan saya tidak menemukan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian saya ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya menyerupai ini”.  Kemudian dia memukulkan telapak tangannya ke permukaan tanah sekali, lalu meniupnya. Kemudian dia mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

    Dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori:

    وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

    “Dan dia mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.(Muttafaq ‘alaihi)

    Makara Berdasarkan hadits di atas, kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum Rasulullah yaitu sebagai berikut:


    • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan tanah sekali  kemudian meniupnya.
    • Mengusap punggung telapak ajun dengan tangan kiri dan sebaliknya.
    • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
    • Semua usapan dilakukan sekali.


    • Bagian tangan yang diusap hanya hingga pergelangan tangan saja


    • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil


    • Tidak wajibnya tertib atau berurutan ketika tayammu.


    Sekian Dulu Sobat KAI Penjelasan Kali Ini Semoga Dapat Menambah Pemahaman Kita Lebih Jauh Mengenai Islam.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.



    Assalamualikum Wr. Wb. Semoga Sahabat kAi tetap diberikan kesehatan selalu oleh Yang Mahakuasa SWT Amin pada kali ini kita Akan Membahas Mengenai Tata Cara Puasa.
    Kita mulai dengan membahas niat.

    1. Niat Untuk Puasa
    Sebelum melaksanakan puasa, kita wajib berniat terlebih dahulu. Puasa kita niatkan sebelum terbit fajar, berdasarkan hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

    ((مَنْ لَمْ يُجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak niat untuk melaksanakan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”


    Khusus untuk puasa yang sunnah, kita boleh berniat puasa setelah fajar terbit apabila sebelumnya kita belum makan. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke ‘Aisyah pada selain bulan Ramadhan, kemudian ia bersabda:

    ((هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاَءٌ ؟ وَ إِلاَّ فَإِنِّي صَائِمٌ ))

    “Apakah engkau punya santapan siang? Maka jikalau tidak ada saya akan berpuasa” (HR. Muslim).


    2. Waktu Puasa

    Puasa dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.

    Dalilnya adalah:

    وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْ

    Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam (Al-Baqarah: 187)


    3. Sahur

    Adik-adik, hendaknya sebelum melaksanakan ibadah puasa, kita makan sahur terlebih dahulu. Kita disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur sesaat menjelang tibanya waktu subuh. Dalilnya yaitu hadits Anas bin Malik berikut:

    “Kami makan sahur bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia shalat” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

    Makan sahur yang diperintahkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa hikmah, antara lain:

    1. Membedakan puasa kita dengan puasanya Ahul Kitab (orang Yahudi dan Nashoro):
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أكْلَةُ السَّحَرِ))

    “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya mahir kitab yaitu makan sahur”
    (HR. Muslim)


    2. Makan Sahur yaitu Barokah

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السُّحُوْرِ بَرَكَةً ))

    “Makan sahurlah kalian alasannya dalam sahur ada barakah” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    Dengan makan sahur, berarti kita telah mengikuti sunnahnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sahur juga akan menguatkan badan, menambah semangat, serta membuat puasa menjadi lebih ringan.

    Adik-adikku sayang, sebagian kaum muslimin memiliki kebiasaan yang jelek ketika sahur. Mereka biasanya melaksanakan sahur dalam waktu yang lama sebelum subuh tiba, kemudian tidur lagi hingga subuh berlalu. Ini menimbulkan mereka jatuh kepada beberapa kesalahan:
    1. Berpuasa sebelum waktunya
    2. Meninggalkan shalat jamaah
    3. Terkadang alasannya tidurnya terlalu nyenyak, mereka berdiri kesiangan dan kehilangan sholat sama sekali

    Oleh alasannya itu hendaknya waktu sahur kita akhirkan dan sebaiknya setelah sahur, kita jangan tidur lagi. Persiapkanlah diri kita untuk shalat subuh yang akan segera tiba.


    4. Perkara Yang Membatalkan Puasa

    Adik-adik, barokallahu fiikum. Kalian harus mengetahui perkara-perkara yang mampu membatalkan puasa. Di antara perkara-perkara tersebut kita adalah:

    1. Makan dan Minum
    Apabila kita makan atau minum di siang hari sewaktu puasa, maka puasa kita batal. Kecuali jikalau kita lupa sedang puasa, maka makan dan minum itu tidaklah membatalkan puasa kita. Kita mampu melanjutkan puasa kita secara sempurna.

    Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمّ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيَتِمْ صَوْمَهُ. فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ))

    “Jika seseorang lupa ketika ia berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaklah menyempurnakan puasanya, alasannya tolong-menolong Yang Mahakuasa yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Muntah dengan Sengaja
    Muntah dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam:

    (( مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقَضِ ))

    “Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha (mengganti) puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya”.

    Sebenarnya ada beberapa hal lain yang mampu membatalkan puasa. Insya Yang Mahakuasa kalian mampu mempelajarinya ketika kalian beranjak dewasa.

    5. Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Ketika Puasa

    Adik-adik, selain menjaga verbal kita dari makan dan minum, ketika berpuasa kita juga harus menjaga verbal kita dari berkata-kata kotor, keji dan dusta. Perbuatan ini memang tidak boleh kita lakukan baik di ketika berpuasa ataupun tidak. Namun hal ini lebih ditekankan lagi apabila kita sedang berpuasa.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Yang Mahakuasa Azza wa Jalla tidaklah butuh atas perbuatannya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhori)

    (( لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَبِ إِنَّمَا الصَّيَامَ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ اَوْجَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ , إِنِّي صَائِمٌ ))

    “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu atau tidak mengetahui perkaramu, maka, katakanlah: Aku sedang puasa, saya sedang puasa”

    Oleh alasannya itu, jagalah lisanmu dari berkata-kata yang kotor, keji dan dusta biar puasamu tidak sia-sia, sebagaimana sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعِ وَالْعَطَشِ ))

    “Berapa banyak orang yang puasa, bab dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)”

    6. Yang Boleh Dilakukan Ketika Puasa

    1. Bersiwak
    Kalian tahu siwak kan? Siwak itu kayu berukuran kecil yang dipergunakan untuk membersihkan gigi. Ketika sedang berpuasa, kita boleh mempergunakannya untuk membersihkan gigi kita, terutama ketika akan sholat.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    (( لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوِاكِ عِنْدَ كُلَّ صَلاَةٍ))

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya saya suruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan sholat” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Berkumur dan Istinsyaq (Memasukkan Air ke dalam Hidung ketika Berwudhu)
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan istinsyaq. Namun ia melarang untuk berlebih-lebihan apabila sedang berpuasa. Beliau bersabda,

    ((وَبَالِغْ فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً))

    “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa”

    3. Mengguyurkan Air ke Atas Kepala alasannya Panas atau Haus
    Apabila kita merasa kepanasan atau haus, maka kita diperbolehkan untuk mengguyurkan air ke kepala kita. Dalilnya yaitu hadits,

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطْشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa alasannya haus atau kepanasan.

    7. Berbuka Puasa

    Ketika matahari telah terbenam dan malam hari pun tiba, kita sudah diperbolehkan untuk makan dan minum. Bahkan kita dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ ))

    “Senantiasa insan berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Berbukalah dengan Buah Kurma
    Pada dikala berbuka, kita disunnahkan untuk membatalkan puasa kita dengan kurma, baik yang berair maupun yang kering. Namun apabila tidak ada, maka kita berbuka dengan air sebagaimana kebiasaan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

    كاَنَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَسَى حَسَوَاتٍ مِنَ مَاءٍ

    “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma berair (ruthob) sebelum sholat. Apabila tidak ada yang basah, maka ia berbuka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada juga, maka ia minum dengan satu tegukan air”


    Sekian Dulu Sobat KAI penjelasan Mengenai Tata Cara Puasa Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua, Tentunya Amin. Wassalmualaikum Wr. Wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Puasa Sesuai Ajaran Rasulullah Saw

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»



    Assalamualikum Wr. Wb. Semoga Sahabat kAi tetap diberikan kesehatan selalu oleh Yang Mahakuasa SWT Amin pada kali ini kita Akan Membahas Mengenai Tata Cara Puasa.
    Kita mulai dengan membahas niat.

    1. Niat Untuk Puasa
    Sebelum melaksanakan puasa, kita wajib berniat terlebih dahulu. Puasa kita niatkan sebelum terbit fajar, berdasarkan hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

    ((مَنْ لَمْ يُجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak niat untuk melaksanakan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”


    Khusus untuk puasa yang sunnah, kita boleh berniat puasa setelah fajar terbit apabila sebelumnya kita belum makan. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke ‘Aisyah pada selain bulan Ramadhan, kemudian ia bersabda:

    ((هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاَءٌ ؟ وَ إِلاَّ فَإِنِّي صَائِمٌ ))

    “Apakah engkau punya santapan siang? Maka jikalau tidak ada saya akan berpuasa” (HR. Muslim).


    2. Waktu Puasa

    Puasa dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.

    Dalilnya adalah:

    وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْ

    Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam (Al-Baqarah: 187)


    3. Sahur

    Adik-adik, hendaknya sebelum melaksanakan ibadah puasa, kita makan sahur terlebih dahulu. Kita disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur sesaat menjelang tibanya waktu subuh. Dalilnya yaitu hadits Anas bin Malik berikut:

    “Kami makan sahur bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia shalat” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

    Makan sahur yang diperintahkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa hikmah, antara lain:

    1. Membedakan puasa kita dengan puasanya Ahul Kitab (orang Yahudi dan Nashoro):
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أكْلَةُ السَّحَرِ))

    “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya mahir kitab yaitu makan sahur”
    (HR. Muslim)


    2. Makan Sahur yaitu Barokah

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السُّحُوْرِ بَرَكَةً ))

    “Makan sahurlah kalian alasannya dalam sahur ada barakah” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    Dengan makan sahur, berarti kita telah mengikuti sunnahnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sahur juga akan menguatkan badan, menambah semangat, serta membuat puasa menjadi lebih ringan.

    Adik-adikku sayang, sebagian kaum muslimin memiliki kebiasaan yang jelek ketika sahur. Mereka biasanya melaksanakan sahur dalam waktu yang lama sebelum subuh tiba, kemudian tidur lagi hingga subuh berlalu. Ini menimbulkan mereka jatuh kepada beberapa kesalahan:
    1. Berpuasa sebelum waktunya
    2. Meninggalkan shalat jamaah
    3. Terkadang alasannya tidurnya terlalu nyenyak, mereka berdiri kesiangan dan kehilangan sholat sama sekali

    Oleh alasannya itu hendaknya waktu sahur kita akhirkan dan sebaiknya setelah sahur, kita jangan tidur lagi. Persiapkanlah diri kita untuk shalat subuh yang akan segera tiba.


    4. Perkara Yang Membatalkan Puasa

    Adik-adik, barokallahu fiikum. Kalian harus mengetahui perkara-perkara yang mampu membatalkan puasa. Di antara perkara-perkara tersebut kita adalah:

    1. Makan dan Minum
    Apabila kita makan atau minum di siang hari sewaktu puasa, maka puasa kita batal. Kecuali jikalau kita lupa sedang puasa, maka makan dan minum itu tidaklah membatalkan puasa kita. Kita mampu melanjutkan puasa kita secara sempurna.

    Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمّ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيَتِمْ صَوْمَهُ. فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ))

    “Jika seseorang lupa ketika ia berpuasa, lalu dia makan dan minum, maka hendaklah menyempurnakan puasanya, alasannya tolong-menolong Yang Mahakuasa yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Muntah dengan Sengaja
    Muntah dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Dalilnya yaitu hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam:

    (( مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقَضِ ))

    “Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha (mengganti) puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya”.

    Sebenarnya ada beberapa hal lain yang mampu membatalkan puasa. Insya Yang Mahakuasa kalian mampu mempelajarinya ketika kalian beranjak dewasa.

    5. Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Ketika Puasa

    Adik-adik, selain menjaga verbal kita dari makan dan minum, ketika berpuasa kita juga harus menjaga verbal kita dari berkata-kata kotor, keji dan dusta. Perbuatan ini memang tidak boleh kita lakukan baik di ketika berpuasa ataupun tidak. Namun hal ini lebih ditekankan lagi apabila kita sedang berpuasa.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ))

    “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Yang Mahakuasa Azza wa Jalla tidaklah butuh atas perbuatannya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhori)

    (( لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَبِ إِنَّمَا الصَّيَامَ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ اَوْجَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ , إِنِّي صَائِمٌ ))

    “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu atau tidak mengetahui perkaramu, maka, katakanlah: Aku sedang puasa, saya sedang puasa”

    Oleh alasannya itu, jagalah lisanmu dari berkata-kata yang kotor, keji dan dusta biar puasamu tidak sia-sia, sebagaimana sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,

    (( وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعِ وَالْعَطَشِ ))

    “Berapa banyak orang yang puasa, bab dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)”

    6. Yang Boleh Dilakukan Ketika Puasa

    1. Bersiwak
    Kalian tahu siwak kan? Siwak itu kayu berukuran kecil yang dipergunakan untuk membersihkan gigi. Ketika sedang berpuasa, kita boleh mempergunakannya untuk membersihkan gigi kita, terutama ketika akan sholat.

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    (( لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوِاكِ عِنْدَ كُلَّ صَلاَةٍ))

    “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya saya suruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan sholat” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

    2. Berkumur dan Istinsyaq (Memasukkan Air ke dalam Hidung ketika Berwudhu)
    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan istinsyaq. Namun ia melarang untuk berlebih-lebihan apabila sedang berpuasa. Beliau bersabda,

    ((وَبَالِغْ فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً))

    “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa”

    3. Mengguyurkan Air ke Atas Kepala alasannya Panas atau Haus
    Apabila kita merasa kepanasan atau haus, maka kita diperbolehkan untuk mengguyurkan air ke kepala kita. Dalilnya yaitu hadits,

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطْشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ

    Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa alasannya haus atau kepanasan.

    7. Berbuka Puasa

    Ketika matahari telah terbenam dan malam hari pun tiba, kita sudah diperbolehkan untuk makan dan minum. Bahkan kita dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    (( لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ ))

    “Senantiasa insan berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Berbukalah dengan Buah Kurma
    Pada dikala berbuka, kita disunnahkan untuk membatalkan puasa kita dengan kurma, baik yang berair maupun yang kering. Namun apabila tidak ada, maka kita berbuka dengan air sebagaimana kebiasaan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

    كاَنَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٍ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَسَى حَسَوَاتٍ مِنَ مَاءٍ

    “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma berair (ruthob) sebelum sholat. Apabila tidak ada yang basah, maka ia berbuka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada juga, maka ia minum dengan satu tegukan air”


    Sekian Dulu Sobat KAI penjelasan Mengenai Tata Cara Puasa Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua, Tentunya Amin. Wassalmualaikum Wr. Wb.

    Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :



    “Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Yang Mahakuasa memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin”
    Pengertian Adzan
    Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana Yang Mahakuasa SWT berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:
     وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ
    “dan ini ialah undangan dari Yang Mahakuasa dan Rasul-Nya kepada umat manusia”
    Dan makna adzan secara istilah ialah undangan yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu.
    Hukum Adzan
    Ulama berselisih pendapat wacana hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan ialah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih berpengaruh dalam duduk perkara ini ialah pendapat yang mengatakan hukum adzan ialah fardu kifayah[3]. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melaksanakan adzan[4].
    Syarat Adzan
    1.      Telah Masuk Waktu Shalat
    Syarat sah adzan ialah telah masuknya waktu shalat, sehingga adzan yang dilakukan sebelum waktu solat masuk maka tidak sah.
    2.      Berniat adzan
    Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya bahwa ia akan melaksanakan adzan dengan nrimo untuk Yang Mahakuasa semata.
    3.      Dikumandangkan dengan bahasa arab
    Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jikalau menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i.
    4.      Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna
    Maksudnya ialah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut mampu merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan harus diucapkan dengan terperinci dan benar.
    5.      Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai urutan
    Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang sahih.
    6.      Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung
    Maksudnya ialah hendaknya antara lafazh adzan yang satu dengan yang lain diucapkan secara bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan atau pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi diperbolehkan berkata atau berbuat sesuatu yang sifatnya ringan menyerupai bersin.
    7.      Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di daerah muadzin
    Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang yang tidak berada di daerah sang muadzin melaksanakan adzan. Hal tersebut mampu dilakukan dengan cara mengeraskan bunyi atau dengan alat pengerasa suara.

    Sifat Muadzin
    1.      Muslim
    Disyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah seorang muslim. Tidak sah adzan dari seorang yang kafir.
    2.      Ikhlas hanya mengharap wajah Allah
    Sepatutnya seorang muadzin melaksanakan adzan dengan niat nrimo mengaharap wajah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu.”
    3.      Adil dan amanah
    Yaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam waktu-waktu shalat.
    4.      Memiliki bunyi yang bagus
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada sobat Abdullah bin Zaid: “pergilah dan ajarkanlah apa yang kau lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, alasannya ialah ia memiliki bunyi yang lebih cantik dari pada suaramu”
    5.      Mengetahui kapan waktu solat masuk
    Hendaknya seorang muadzin mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga ia mampu mengumandangkan adzan sempurna pada awal waktu dan terhindar dari kesalahan.
                            
    Lafazh Adzan:

    4x     اَللهُ اَكْبَرُ

    2x     اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    2x     اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

    2x     حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

    2x     حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

    2x     قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ

    2x     اَللهُ اَكْبَرُ

    1x     لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    Yang Dianjurkan bagi Muadzin
    1.      Adzan dalam keadaan suci
    Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum yang menganjurkan biar insan dalam keadaan suci dikala berdizikir (mengingat) kepada Allah.
    2.      Adzan dalam keadaan berdiri
    Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salamdalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : “berdiri wahai bilal! Serulah insan untuk melakukukan solat!”
    3.      Adzan menghadap kiblat
      Menghadap kiblat artinya menghadap ke Baitullah (mekah)
    4.      Memasukkan jari ke dalam telinga
    Ini ialah perbuatan yang biasa dilakukan oleh sobat Bilal dikala adzan.
    5.      Menyambung tiap dua-dua takbir
    Maksudnya ialah menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar, tidak dijeda antara keduanya.
    6.      Menolehkan kepala ke kanan dikala mengucapakan “hayya ‘alas shalah”dan menolehkan kepala ke kiri dikala mengucapakan “hayya ‘alal falah”.
    7.      Menambahkan “ash shalatu khairum minannaum” pada azan subuh.

    Pengertian Iqamah
    Iqamah secara istilah maknanya ialah pemberitahuan atau undangan bahwa sholat akan segera didirikan dengan menyebut lafazh-lafazh khusus.
    Hukum Iqamah
    Hukum iqamah sama dengan hukum adzan, yaitu fardu kifayah. Dan hukum ini juga tidak berlaku untuk wanita.
    Sifat Iqamah

    2x     اَللهُ اَكْبَرُ

    1x      اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    1x      اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

    1x      حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

    1x     حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

    2x     قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ

    2x      اَللهُ اَكْبَرُ

    1x      لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    Apakah yang Melaksanakan Iqamah Harus Orang yang Mengumandangkan Adzan?
    Sebagian besar ulama’ mengatakan hukumnya ialah hanya proposal dan tidak wajib, sebagaimana kebiasaan Sahabat Bilal, dia yang adzan dia pula yang iqamah. dan boleh hukumnya jikalau yang adzan dan iqamah berbeda.
    Demikianlah Semoga bermanfaat bagi kita semua wassalamualaikum wr. wb.

    Informasi Baru Islam Tata Cara Adzan dan Iqomah

    Posted at  19.16  |  in  TataCara  |  Read More»

    Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :



    “Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Yang Mahakuasa memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin”
    Pengertian Adzan
    Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana Yang Mahakuasa SWT berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:
     وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ
    “dan ini ialah undangan dari Yang Mahakuasa dan Rasul-Nya kepada umat manusia”
    Dan makna adzan secara istilah ialah undangan yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu.
    Hukum Adzan
    Ulama berselisih pendapat wacana hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan ialah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih berpengaruh dalam duduk perkara ini ialah pendapat yang mengatakan hukum adzan ialah fardu kifayah[3]. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melaksanakan adzan[4].
    Syarat Adzan
    1.      Telah Masuk Waktu Shalat
    Syarat sah adzan ialah telah masuknya waktu shalat, sehingga adzan yang dilakukan sebelum waktu solat masuk maka tidak sah.
    2.      Berniat adzan
    Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya bahwa ia akan melaksanakan adzan dengan nrimo untuk Yang Mahakuasa semata.
    3.      Dikumandangkan dengan bahasa arab
    Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jikalau menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i.
    4.      Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna
    Maksudnya ialah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut mampu merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan harus diucapkan dengan terperinci dan benar.
    5.      Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai urutan
    Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang sahih.
    6.      Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung
    Maksudnya ialah hendaknya antara lafazh adzan yang satu dengan yang lain diucapkan secara bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan atau pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi diperbolehkan berkata atau berbuat sesuatu yang sifatnya ringan menyerupai bersin.
    7.      Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di daerah muadzin
    Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang yang tidak berada di daerah sang muadzin melaksanakan adzan. Hal tersebut mampu dilakukan dengan cara mengeraskan bunyi atau dengan alat pengerasa suara.

    Sifat Muadzin
    1.      Muslim
    Disyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah seorang muslim. Tidak sah adzan dari seorang yang kafir.
    2.      Ikhlas hanya mengharap wajah Allah
    Sepatutnya seorang muadzin melaksanakan adzan dengan niat nrimo mengaharap wajah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu.”
    3.      Adil dan amanah
    Yaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam waktu-waktu shalat.
    4.      Memiliki bunyi yang bagus
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada sobat Abdullah bin Zaid: “pergilah dan ajarkanlah apa yang kau lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, alasannya ialah ia memiliki bunyi yang lebih cantik dari pada suaramu”
    5.      Mengetahui kapan waktu solat masuk
    Hendaknya seorang muadzin mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga ia mampu mengumandangkan adzan sempurna pada awal waktu dan terhindar dari kesalahan.
                            
    Lafazh Adzan:

    4x     اَللهُ اَكْبَرُ

    2x     اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    2x     اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

    2x     حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

    2x     حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

    2x     قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ

    2x     اَللهُ اَكْبَرُ

    1x     لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    Yang Dianjurkan bagi Muadzin
    1.      Adzan dalam keadaan suci
    Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum yang menganjurkan biar insan dalam keadaan suci dikala berdizikir (mengingat) kepada Allah.
    2.      Adzan dalam keadaan berdiri
    Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salamdalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : “berdiri wahai bilal! Serulah insan untuk melakukukan solat!”
    3.      Adzan menghadap kiblat
      Menghadap kiblat artinya menghadap ke Baitullah (mekah)
    4.      Memasukkan jari ke dalam telinga
    Ini ialah perbuatan yang biasa dilakukan oleh sobat Bilal dikala adzan.
    5.      Menyambung tiap dua-dua takbir
    Maksudnya ialah menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar, tidak dijeda antara keduanya.
    6.      Menolehkan kepala ke kanan dikala mengucapakan “hayya ‘alas shalah”dan menolehkan kepala ke kiri dikala mengucapakan “hayya ‘alal falah”.
    7.      Menambahkan “ash shalatu khairum minannaum” pada azan subuh.

    Pengertian Iqamah
    Iqamah secara istilah maknanya ialah pemberitahuan atau undangan bahwa sholat akan segera didirikan dengan menyebut lafazh-lafazh khusus.
    Hukum Iqamah
    Hukum iqamah sama dengan hukum adzan, yaitu fardu kifayah. Dan hukum ini juga tidak berlaku untuk wanita.
    Sifat Iqamah

    2x     اَللهُ اَكْبَرُ

    1x      اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    1x      اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

    1x      حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

    1x     حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

    2x     قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ

    2x      اَللهُ اَكْبَرُ

    1x      لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

    Apakah yang Melaksanakan Iqamah Harus Orang yang Mengumandangkan Adzan?
    Sebagian besar ulama’ mengatakan hukumnya ialah hanya proposal dan tidak wajib, sebagaimana kebiasaan Sahabat Bilal, dia yang adzan dia pula yang iqamah. dan boleh hukumnya jikalau yang adzan dan iqamah berbeda.
    Demikianlah Semoga bermanfaat bagi kita semua wassalamualaikum wr. wb.

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 Hidup Itu Indah.
    Powered by Themes24x7 .
    back to top